 |
DASAR YANG KOKOH
Apakah menerima fakta kebangkitan Kristus merupakan suatu kebodohan? Ada yang menganggapnya demikian. Namun, saya harus menjawab dengan tidak! Buktinya? Banyak orang terpelajar di bawah kolong langit ini dengan segenap hati dapat menerima kebangkitan itu dan mensyukurinya. Memang, ada juga ‘ahli’ meragukan dan menolak berita tersebut. Sebutlah misalnya seorang yang bernama Gerd Ludemann, professor Perjanjian Baru dari Univ. Gottingen yang pemikirannya dipengaruhi oleh David Hume, di mana Ludemann menolak peristiwa kebangkitan Kristus tsb. Bagi Ludemann, kebangkitan itu tidak lebih dari halusinasi saja atau sebuah pengalaman subjektif dari murid-murid. Bukan kebangkitan tubuh yang sesungguhnya. Kelihatannya, pandangan ini yang dianut oleh Ioannes Rakhmat (IR) sebagaimana dapat dibaca dalam artikelnya pada sebuah harian ibu kota yang berjudul “Kontroversi Temuan Makam Keluarga Yesus”. Pada akhir artikel tsb, IR menyimpulkan bahwa "kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga tidak bisa lagi dipahami sebagai kejadian-kejadian sejarah objektif, melainkan sebagai metafora". Apa yang dia maksud dengan istilah metafora tersebut? Selanjutnya dia menulis, “Dalam metafora sebuah kejadian hanya ada di dalam pengalaman subjektif, bukan dalam realitas objektif... Yesus bangkit dalam memori dari pengalaman hidup”.
[01] - Pengantar Kristologi.
Siapakah Yesus Kristus? Apakah Dia sungguh-sungguh Allah, atau nabi atau manusia yang bermoral tinggi? Pertanyaan tentang siapa Yesus, bukan lagi merupakan hal yang baru. Sejak Yesus lahir ke dunia, hidup dan berkarya serta mati di kayu salib, bangkit, dan naik ke sorga, sudah banyak pandangan diberikan kepada Yesus. Banyak diskusi dan seminar yang dilakukan; ribuan bahkan jutaan jilid buku telah diterbitkan. Tentu semua itu dilakukan, ada dengan motif dan maksud baik, dan tidak sedikit dengan motif jelek dan jahat!
[02] - Pengantar Kristologi.
Sekalipun Alkitab, khususnya keempat Injil telah menulis dengan
jelas siapa Yesus, namun sebagaimana disebutkan di atas, berbagai
pandangan negatip telah muncul terhadap Yesus. Hal tersebut akan
kita lihat terlebih dahulu, sebelum kita masuk kepada pandangan
Alkitab.
[03] - Pengantar Kristologi.
Yesus adalah Allah Sejati:
Sesungguhnya, keempat Injil memperlihatkan dengan jelas bahwa Yesus adalah satu pribadi yang unik. Karena itu, Dia tidak dapat disejajarkan dengan manusia lain, bahkan nabi manapun (baca Fil.2:10-11). Mengapa demikian? Karena Dia adalah Allah. Dalam Injil Yohanes, Yesus tidak hanya disebutkan bersama Allah, tetapi Dia adalah Allah sendiri. Yohanes menulis: "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. (Yoh.1:1).
[04] - Pengantar Kristologi.
Yesus dan KuasaNya:
Di dalam theologia, dikenal dua macam pendekatan Kristologi, yaitu:Kristologi dari bawah dan Kristologi dari atas. Yang dimaksud dengan Kristologi dari atas adalah melihat siapa Yesus Kristus sebelum Dia datang ke dalam dunia. Pandangan ini mengatakan bahwa keAllahan Yesus Kristus terselubung ketika Dia di dalam dunia. Karena itu, kita akan gagal mengenalNya dengan pendekatan ini.
[05] - Pengantar Kristologi.
Yesus dan PerkataanNya:
Selain dari kuasa Yesus tersebut di atas, kita juga dapat melihat siapa Yesus dari nilai dan makna yang terkandung dari perkataanNya. Alkitab menuliskan bahwa Yesus tidak seperti ahli-ahli Taurat, karena Yesus mengajar dengan kuasa (Mat.7:29; baca juga Luk.24:19). Marilah kita lihat beberapa sabda Yesus berikut:
|  |