 | VIRGIN BIRTH
Menurut theolog besar, Millard J. Erickson, tema yang paling sering
diperdebatkan setelah tema kebangkitan adalah tema kelahiran Yesus dari
seorang perawan (virgin). Pada akhir abad 19, kelompok
Fundamentalist/Konservatif/Injili telah sedemikian berseberangan dengan
kelompok liberal/oikumenis/modernist. Menurut kelompok pertama, ajaran
Virgin Birth (virginal conception) merupakan ajaran penting dan sangat
mendasar yang harus dipegang dengan teguh. Sedangkan menurut kelompok
liberal, ajaran tersebut harus ditolak atau ditafsirkan ulang.
Sebenarnya, penolakan seperti ini bukanlah hal baru. Sejak abad permulaan,
berbagai kelompok mencoba menggugat dan menolak tema ini. Sebagai contoh,
kelompok Ebionit Yahudi dan kelompok Marcion telah menolak ajaran tersebut.
Lalu apa yang baru? Yang baru adalah sikap dan metode penolakan tersebut, di
mana pandangan yang menolak ajaran tersebut semakin terasa menyusup/memasuki
gereja Tuhan, dan para theolog yang menganutnya mulai berani mengatakan
penolakan tersebut secara terbuka. Sebagai contoh, seorang bishop dari
Inggris yang bernama David Jenkins memberi penafsiran lain dari Virgin Birth
dengan menulis: "Some people either simply cannnot understand, or simply
will not listen to the point that many of the stories of the Bible are not
for "real", not by being literally true, but by being inspired symbols of a
living faith about the real activity of God".
Mengapa ajaran Virgin Birth ditolak?
Ada beberapa alasan. Pertama, karena menurut mereka, ajaran ini tidak
menonjol di dalam Alkitab, bahkan tidak ditemukan di dalam surat-surat rasul
Paulus. Kedua, pandangan tersebut disamakan dengan kisah-kisah dongeng
(myth) Yunani dan Mesir kuno tentang kelahiran dewa atau penyelamat dari
seorang perawan, di mana dewa tersebut diakui sebagai penguasa langit dan
lautan. Ketiga, ajaran Virgin Birth sulit disejajarkan dengan ilmu
pengetahuan yang semakin berkembang.
Bagaimana tanggapan kita terhadap keberatan di atas? Terhadap keberatan yang
pertama, memang benar bahwa ajaran tersebut tidak menonjol di dalam
Perjanjian Baru. Kisah itu hanya ditemukan di dalam Injil Matius dan Lukas.
Namun demikian, para ahli telah melihat kelemahan dari argument from
silence. Dalam kenyataanya, dua penulis Injil, yaitu Markus dan Yohanes
tidak pernah menulis peristiwa kelahiran Yesus. Apakah itu berarti bahwa
Yesus tidak pernah lahir? Kita tentu bisa menjawab itu dengan pasti.
Soal adanya dongeng Yunani dan Mesir kuno tidak cukup kuat untuk menolak,
seolah-olah Injil juga sedang mengajarkan sebuah dongeng. Dalam
kenyataannya, jika kita membaca kedua kisah kelahiran Yesus dalam Injil
Matius dan Lukas, kita dapat menyimpulkan bahwa hal itu bukan dongeng.
Peristiwa yang disampaikan dengan cara yang sederhana dan straight to the
point itu memberi kesan kuat bahwa apa yang mereka kisahkan adalah peristiwa
nyata.
Mengapa kita mengambil kesimpulan demikian? Para ahli Perjanjian Baru (PB)
menyimpulkan bahwa dengan membaca kedua kisah itu secara teliti, maka
terlihat dengan jelas adanya perbedaan. Karena itu, dari segi teori sumber,
yaitu dari mana sumber kisah itu diperoleh, nampak adanya dua sumber yang
berbeda. Keduanya berbeda tapi saling melengkapi. Injil Matius (1:18-25)
yang menghubungkan peristiwa kelahiran Yesus dengan orang-orang Majus dari
Timur, menjadikan Yusuf sebagai tokoh sentral. Dalam kisah ini diberitahukan
bahwa Yusuf bergumul setelah mengetahui bahwa Maria, tunangannya mengandung.
Karena itu, dia berniat untuk meninggalkannya secara diam-diam. Sedangkan di
dalam kisah Lukas (1:26-38), kita mengamati bahwa tokoh Yusuf malah tidak
muncul. Yang menjadi tokoh di sana adalah Maria sendiri yang bergumul dengan
berita malaikat tentang dirinya yang akan mengandung: "Bagaimana hal itu
mungkin terjadi, karena aku belum bersuami" (1:34).
Setelah melihat perbedaan yang sangat jelas tersebut di atas, kita melihat
adanya persamaan penting: kedua kisah tersebut mengacu kepada kondisi Maria
yang mengandung dari ROH KUDUS. Di dalam Injil Matius, ketika Yusuf
bergumul, kita membaca malaikat Tuhan datang kepadanya dan memberitahukan:
"...sebab Anak yang di dalam kandungannya adalah dari ROH KUDUS" (1;20).
Sedangkan di dalam kisah Lukas, ketika Maria bergumul dan mempertanyakan
bagaimana dia bisa hamil sedangkan dia belum bersuami, maka malaikat tsb
menjawab: "ROH KUDUS akan turun atasmu...sebab itu anak yang akan kau
lahirkan itu akan disebut kudus" (1:35).
Kelahiran Yesus secara tidak normal (baca: ajaib, dari Roh Kudus) tersebut
telah dipahami secara negatif selama bertahun-tahun. Itulah sebabnya,
sekitar tiga puluh tahun kemudian kita membaca sindiran tajam dari
orang-orang Yahudi yang diarahkan kepada Yesus sendiri. Mereka berkata:
"Kami tidak lahir dari zinah" (Yoh.8:41). Dengan perkataan lain, secara
tidak langsung mereka menuduh bahwa Tuhan Yesus merupakan hasil dari
perbuatan zinah. Selanjutnya, kita juga membaca pernyataan mereka: "... kami
tidak tahu dari mana Ia datang" (Yoh.9:29). Di dalam Injil Markus kita
membaca bahwa ketika Yesus mengajar di tempat asalnya di Nazaret,
orang-orang menanggapinya dengan sinis: "Dari mana diperolehNya semuanya
itu?...Bukankah Ia ini anak Maria?" (6:3). Di dalam budaya Yahudi yang
mengikuti garis keturunan ayah, cara tersebut tidak lazim. Karena itu,
pengungkapan Yesus sebagai "Anak Maria" merupakan penghinaan. Di sisi lain,
mereka seakan-akan mau mengatakan bahwa kelahiranNya tidak jelas, di mana
tidak diketahui siapa ayahnya yang sesungguhnya.
Rumor negatif tersebut terus berkembang dan menyebar. Itulah sebabnya,
Celsius menulis bahwa Yusuf memulangkan Maria ke rumahnya karena dia
kedapatan berzinah. Dengan siapa berzinah? Dengan seorang tentara yang
bernama Panthera.
Kita bisa menulis banyak hal tentang penegasan orang-orang di zamanNya
tentang kelahiran Yesus yang tidak normal; karena itu, dianggap
perselingkuhan. Namun apa artinya semua itu? Dari sisi positif, hal itu
meneguhkan berita Alkitab, baik yang ditulis Matius maupun Lukas bahwa
kelahiran Yesus memang tidak normal. Tapi hal itu tidak sama dengan negatif,
akibat adanya perselingkuhan. Kisah Matius malah dengan jelas menyangkal hal
itu. Ketidaknormalan, atau lebih tepatnya, ketidaklaziman kelahiran Yesus
tetap di dalam realita kebenaran, yaitu Roh Kudus yang menaungi rahim atau
kandungan Maria. Realita seperti itu memang tidak dialami oleh orang-orang
di zamanNya.
Untuk apa kita repot-repot menulis artikel dengan judul ini? Untuk apa kita
membicarakan tema ini? "Does it really matter?" tanya seseorang. "Is there
any problem?" tanya yang lain. Jawaban kita, tentu ya. Jika Yesus merupakan
hasil kelahiran sebagai akibat atau hasil dari adanya hubungan badan suami
istri (misalnya Yusuf dengan Maria), maka terjadi hal yang sangat fatal: ada
kemungkinan bahwa Yesus juga mewarisi dosa turunan. Jika demikian halnya,
maka Yesus tidak dapat berperan sebagai Penebus. Menarik sekali apa yang
dikatakan oleh Malaikat sebagaimana kita kutip dalam kisah Lukas tersebut di
atas. Ketika malaikat menegaskan bahwa kelahiran Yesus adalah dari Roh
Kudus, bukan karena hubungan suami istri, malaikat tersebut melanjutkan:
"... SEBAB ITU, ANAK YANG AKAN KAU LAHIRKAN ITU AKAN DISEBUT KUDUS".
Selanjutnya ditegaskan bahwa Yesus adalah "ANAK ALLAH". (1:35).
Sejarah Gereja menegaskan bahwa natur atau keberadaan Yesus adalah
sepenuhnya manusia dan sepenuhnya Allah. Seratus persen manusia dan seratus
persen Allah. Mengapa? Karena Yesus lahir melalui kandungan Maria, maka Dia
layak disebut anak Manusia. Tetapi karena itu bukan hasil hubungan suami
istri, tapi karena Roh Kudus turun kepada Maria, maka Dia layak disebut Anak
Allah, dalam arti bahwa Yesus sama zat atau sifat dengan Allah (Yesus homo
ousia dengan Allah Bapa).
Aplikasi praktis
Apa makna praktis dari hal tersebut di atas bagi kita, yang mempercayainya?
Banyak hal dapat kita sebut. Tapi mari kita sebut beberapa hal saja.
Pertama, kita bersyukur bahwa kita memiliki Penebus yang benar-benar tidak
berdosa. Mutlak kudus. Ketika Anselm, (bapak Gereja di abad pertengahan)
memberikan apologetikanya (pembelaannya) akan kepastian keselamatan di dalam
bukunya yang berjudul "Cur Deus homo?" (Mengapa Allah menjadi manusia?),
maka dia juga mengacu kepada fakta kehidupan Yesus yang suci. Dia menegaskan
bahwa kematian Yesus bukan sekedar kematian anak manusia yang benar-benar
kudus dan tidak berdosa (sebenarnya, orang seperti ini tidak ada). Sebab
jika demikian, Yesus hanya bisa menebus satu orang manusia berdosa. Akan
tetapi, kematian Yesus adalah kematian seorang Anak Allah, yang berarti
Allah sendiri. Karena Dia adalah Allah, maka Dia memiliki nilai jiwa yang
tidak terbatas. Itulah sebabnya Dia dapat menebus semua orang; keselamatan
TERSEDIA BAGI SEMUA ORANG BERDOSA YANG PERCAYA KEPADANYA.
Kedua, dari kedua kisah tersebut, baik Yusuf maupun Maria, kita belajar satu
persamaan: TAAT WALAU MENGANDUNG RESIKO". Yusuf TAAT untuk tetap mengambil
Maria menjadi istrinya, walau itu berarti dia akan terus menanggung
kesulitan disalahmengerti seumur hidupnya. Hal itu telah kita baca di atas.
Dari sisi negatif, Yusuf sepertinya menikah dengan seorang istri yang 'nakal'.
Maria juga TAAT untuk tetap memelihara kandungannya, walau itu berarti
seumur hidupnya dia menanggung derita disalahmengerti dan dituduh sebagai
wanita yang berselingkuh dengan seseorang. Sebenarnya, tuduhan seperti itu
bukan hanya terjadi seumur hidupnya, bahkan hingga sekarang pun kita membaca
karya-karya dari orang tertentu (bandingkan dengan film yang berjudul Jesus
Christ Superstar, atau buku seorang filsuf, bernama Bertrand Russel) yang
memberi label negatif terhadap dirinya.
Saya tidak tahu bagaimana perasaan Anda ketika membaca pernyataan Maria
berikut: 'SESUNGGUHNYA AKU INI ADALAH HAMBA TUHAN; JADILAH PADAKU MENURUT
PERKATAANMU" (Luk.1:39).
Sesungguhnya, dari teladan Yusuf dan Maria kita belajar pelajaran yang
sangat berharga: Suatu gaya hidup yang rela membayar harga. Suatu gaya hidup
yang siap menanggung kesulitan dan berbagai macam pengorbanan, berani dan
tahan menderita dan DEMI MENGGENAPKAN MISI ALLAH DI DALAM DAN MELALUI HIDUP,
BAGI SELURUH DUNIA.
Sebagai kaum awam, kita akan diperhadapkan kepada berbagai kemungkinan
hidup, termasuk menjalani gaya hidup sulit, berat, penuh resiko demi
ketaatan kita kepadaNya. Jika anda seorang theolog, saya juga melihat hal
yang sama. Sebagai contoh, setelah anda belajar theologia, dan semakin jauh
mempelajarinya, maka dituntut keberanian untuk menerima dan memberitakan apa
yang secara tegas dan jelas dinyatakan Alkitab, walau itu berarti adanya
kemungkinan untuk diremehkan dan ditertawakan rekan-rekan lainnya yang
berbeda pendapat, walau itu berarti adanya kemungkinan dituduh sebagai
theolog bodoh yang tidak memakai akal sehat. Kita juga perlu mencamkan
kenyataan ini: hal seperti ini tidak hanya terjadi satu kali saja dalam
hidup, di mana kita tinggal tutup mata dan melangkah, karena toh "badai akan
segera berlalu". Tidak, hal itu bisa terjadi tiap hari, Minggu, bulan dan
tahun sepanjang hidup. Menjadi pertanyaan, sejauh mana kita berhasil
menjalaninya? Jika gagal, sejauh mana kita menyesalinya dan ingin bangkit?
Jika berhasil, sejauh mana kita menikmati gaya hidup seperti itu? Kiranya
Tuhan Yesus yang telah mengilhami Yusuf dan Maria untuk RELA MEMBAYAR HARGA
DEMI KETAATANNYA, yang diriNya sendiri juga telah meninggalkan teladan yang
sempurna, memberkati dan menguatkan kita semua, tiap hari dan senantiasa
untuk makin menikmati gaya hidup yang demikian.
(selesai)
Salam penyerahan
(www.mangapulsagala.com)
Posted by admin on February 10 2006 18:41:34 | 1 Comments · 3622 Reads -  |
|  |