 | Siapakah Yesus Kristus?
(Reformata Juni 05)
(Oleh: Pdt. Mangapul Sagala)
Salah satu perdebatan sengit di dalam bidang theologia adalah yang
berkaitan dengan topik Kristologi. Sejak abad permulaan hingga kini,
memasuki millenium ketiga, para ahli terus bertanya tentang siapakah
Yesus Kristus. Di dalam sejarah hidup manusia, disadari atau tidak,
diakui atau tidak, pribadi Yesus Kristus telah menjadi tokoh sentral
sepanjang segala abad dan tempat. Seluruh kehidupan Yesus, mulai dari
kelahiran, hidup dan karya hingga kematianNya menjadi topik yang sangat
menarik untuk diperdebatkan. Para ahli atau yang merasa dirinya ahli
seolah-olah tidak kehabisan energi atau stamina untuk terus menerus
mempertanyakan apakah Yesus sungguh-sungguh Allah, atau sekedar nabi
atau manusia biasa yang luar biasa. Itulah sebabnya, banyak diskusi dan
seminar yang dilakukan; ribuan bahkan jutaan jilid buku telah
diterbitkan. Dalam hal ini kita dapat mengamati dua kelompok besar: ada
yang melakukan hal tersebut di atas dengan motivasi dan maksud baik,
tetapi tidak sedikit dengan motivasi jelek dan jahat! Sebagai contoh,
ada yang disebut dengan gerakan menggali ulang Yesus sejarah atau The
quest of the historical Jesus (First quest, second quest, third
quest...?). Demikian juga dengan gerakan ¡§The Jesus Seminar oleh John
Dominic Crossan serta Robert Funk dkk yang mencoba menggugat keabsahan
pernyataan-pernyataan Yesus di dalam keempat Injil.
Sesungguhnya, jikalau kita jeli dan dengan hati terbuka memperhatikan ke
dalam seluruh Alkitab, mulai dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian
Baru, kita tidak dapat menyangkali bahwa tokoh Yesus, yaitu Mesias yang
dijanjikan itu adalah tokoh yang sangat menonjol. Di dalam Kitab Taurat
Musa, Dialah pribadi yang disebut akan meremukkan kepala ular
(Kej.3:15), yaitu ular yang kemudian disebut sebagai simbol iblis atau
setan di dalam kitab Wahyu (20:2); di dalam kitab Mazmur, Dialah pribadi
yang disebut raja Daud sebagai Tuhannya yang menderita dan mati, akan
tetapi tidak akan selamanya berada di dalam maut tsb (Maz.16:8-11).
Ayat-ayat tsb telah menjadi dasar yang kuat bagi rasul Petrus ketika dia
memberitakan di hadapan lebih dari 3000 orang tentang Yesus Kristus yang
telah bangkit. Di dalam kitab nabi Yesaya, Dia lah hamba Allah yang
menderita yang membuat tercengang banyak bangsa-bangsa, dan yang oleh
kematianNya, hati Allah dipuaskan dan manusia berdosa beroleh penebusan
dan pembenaran (Yes.52:13-53:12). Jika kita beralih ke Perjanjian Baru,
maka kita akan melihat semakin jelas bagaimana keempat penulis Injil
menjadikan Yesus sebagai tokoh utama dalam tulisan-tulisan mereka.
Markus misalnya dengan jelas dan tegas memulai Injil tsb dengan kalimat:
¡§Inilah permulaan Injil TENTANG YESUS KRISTUS¡¨. (1:1). Dokter Lukas juga
memberitahukan bahwa apa yang dia tulis di dalam Injil Lukas, yang
disebutnya sebagai bukuku yang pertama¨ adalah tentang segala sesuatu
yang DIKERJAKAN DAN DIAJARKAN YESUS SAMPAI PADA HARI IA TERANGKAT
(Kis.1:1-2a). Sementara itu, Injil Yohanes dengan sangat tegas dan jelas
tanpa memberi sedikit peluang untuk kompromi telah menuliskan bahwa
YESUS ADALAH SATU-SATUNYA JALAN KESELAMATAN di mana di luar Dia hanya
ada kebinasaan (Yoh.14:6). Kita tidak punya cukup ruang untuk
menjelaskan bagaimana Yesus Kristus sedemikian dipuji dan disembah di
dalam seluruh surat-surat para rasul, baik oleh rasul Paulus, Petrus,
Yohanes, dll. Tetapi ada satu pernyataan rasul Paulus yang sangat jelas
berkaitan dengan sentralitas Yesus tsb. Hal itu kita baca di dalam
suratnya kepada jemaat di Kolose: Dialah yang kami beritakan apabila
tiap-tiap orang kami nasehati... untuk memimpin tiap-tiap orang kepada
kesempurnaan dalam Kristus (Kol.1:29).
Pengajaran Alkitab yang sedemikian jelas dan tegas membuat manusia pada
zaman ini pun mau tidak mau harus mengambil sikap terhadap Yesus,
karena Yesus tetap sebagai tokoh sentral, bukan hanya dulu di Perjanjian
Lama dan Perjanjian Baru, tetapi juga hingga sekarang, bahkan pada
¡¥dunia¡¦ yang akan datang. Barangkali ada yang bertanya: ¡§Dari mana kita
mengetahui hal itu padahal kita belum tiba pada masa yang akan datang¡¨?
Sebenarnya, hal itu kita ketahui bukan karena kita telah melihat ¡¥dunia¡¦
yang akan datang, akan tetapi itulah yang ditegaskan oleh penulis kitab
Wahyu, di mana dia melihat seluruh penghuni surga bersembah sujud
kepadaNya. Penulis kitab Wahyu menulis tentang Dia: ¡§Bagi Dia yang duduk
di atas takhta dan bagi Anak Domba adalah puji-pujian dan hormat dan
kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya¡¨.(Why.5:13). Sesungguhnya,
Alkitab menegaskan bahwa seluruh ciptaan Allah, apa pun latar belakang
suku, budaya, agama dan kebangsaannya, tidak boleh bersikap netral dan
acuh tak acuh kepada Tuhan Yesus. Dialah yang disebut di dalam kitab
Wahyu sebagai Sang Anak Domba Allah yang telah menyerahkan nyawaNya
untuk menebus mereka ¡§dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan
bangsa¡¨ (Why.5:9b). Selanjutnya kita membaca bahwa atas pengorbanan
Yesus yang sedemikian besar, maka seluruh umat yang percaya dari segala
abad dan tempat, baik yang di bumi dan di surga menyerukan dengan
segenap hatinya: Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka
meterai-meterainya (Why.5:9a). Menarik sekali mengamati penglihatan
surgawi yang digambarkan oleh Yohanes tsb. Terlihat dengan sangat jelas
bahwa hanya Yesus yang layak membuka kitab termeterai tsb. Tidak ada
pribadi lain, baik yang di sorga atau yang di bumi atau yang di bawah
bumi yang dapat membuka gulungan kitab itu (Why.5:3).
Ada hal lain lagi yang penting dituliskan di sini. Kita mengamati suatu
kenyataan yang barangkali tidak mengenakkan untuk dikemukakan, yaitu
bahwa dari sejak kitab pertama, Kejadian 1 sampai dengan kitab terakhir,
Wahyu, nampak dengan jelas bahwa kehadiran Mesias (Perjanjian Lama) atau
Yesus (Perjanjian Baru) juga telah mengakibatkan manusia terpecah ke
dalam dua kutub. Pengkutuban itu sedemikian rupa, sehingga kelihatannya
kedua kelompok tsb tidak mungkin bersatu secara sungguh- sungguh,
kecuali dengan jalan kompromi. Ketika Yesus hidup di dunia ini, manusia
pada zaman itu, tidak bisa tidak, ditantang untuk menentukan sikap
terhadap diri dan FirmanNya. Ada orang yang percaya dan menerimaNya,
karena itu memperoleh hidup yang kekal (Yoh.3:16). Ada juga yang tetap
tidak percaya dan menolakNya, karena itu mengalami kebinasaan kekal
(Yoh.3:18; Yoh.8:24; baca juga I Kor.1:18 dan I Pet.2:6-7).
Jadi, sekali lagi, semua manusia harus mengambil sikap yang tegas
kepada Yesus. Beragama saja tidak cukup. Mengaku pengikut Yesus pun
tidak cukup. Semua umat ciptaan Allah harus secara penuh kesadaran
mengevaluasi relasi hidupnya dengan Yesus. Hal itu sungguh penting,
karenana hal itu berkait dengan hidup kekalnya. Artinya, sikap kepada
Yesus tidak sekedar mempengaruhi kehidupan kita kini dan di sini.
Beriman kepada Yesus bukan sekedar mempengaruhi kehidupan kita agar
semakin layak dalam arti jasmani karena doa-doa kita terjawab, atau
karena relasi kita dengan sesama seiman menjadi semakin baik yang
mengakibatkan taraf kehidupan kita semakin meningkat. Orang percaya
kepadaNya mengalami hal yang jauh lebih besar dari semua itu. Alkitab
membicarakan konsekuensi yang bersifat kekal. HIDUP KEKAL BAGI YANG
PERCAYA DAN MENERIMANYA ATAU KEBINASAAN KEKAL BAGI YANG MENOLAKNYA.
Suatu kali, Prof. Ravi Zacharia apologet Kristen yang sangat terkenal
itu pernah bersaksi: "Saya dulu bukan orang Kristen, juga tidak belajar
Alkitab. Saya lama menekuni ajaran agama lama saya dan mengajarkan
filsafat. Tetapi di dalam anugerahNya Dia menyelamatkan saya. Saya
bertobat menjadi pengikut Yesus. Apa yang saya alami? Apakah saya lebih
kaya? Tidak! Apakah itu akan membuat saya lebih bermoral dan
berpendidikan? Lebih dari situ. Pengalaman yang jauh lebih penting dan
tak ternilai adalah karena saya berpindah dari maut kepada hidup, dari
kebinasaan kekal kepada kehidupan yang kekal bersamaNya" (ICIE di
Amsterdam, 10 Juli 1988). Itulah penegasan Alkitab yang diimani oleh
Ravi. Itulah juga yang harus kita imani dan amini dengan segenap hati.
Semoga iman dan pemahaman seperti ini membawa kita kepada sikap hormat
dan penyembahan yang lebih baik kepadaNya. Dengan demikian kita
senantiasa hidup dalam Dia dan hidup hanya bagi Dia.
Soli Deo gloria.-
Posted by admin on August 23 2005 15:22:05 | 0 Comments · 4357 Reads -  |
|  |