Mangapul Sagala Ministry - Setia Melayani Tuhan Hingga Akhir
MENU UTAMA

Forum Diskusi
Foto Album
Buku Tamu
ARTIKEL INDONESIA

Da Vinci Code [banyak dibaca]

Siapakah Maria Magdalena? [banyak dibaca]

Minyak Urapan [banyak dibaca]


Syukur untuk AnugerahNya - 10 [baru]

Syukur untuk AnugerahNya - 9 [baru]

Syukur untuk AnugerahNya - 8 [baru]

Syukur untuk AnugerahNya - 7 [baru]

Syukur untuk AnugerahNya - 6 [baru]

Syukur untuk AnugerahNya - 5 [baru]

Syukur untuk AnugerahNya - 4 [baru]

Syukur untuk AnugerahNya - 3 [baru]

Syukur untuk AnugerahNya - 2 [baru]

Syukur untuk AnugerahNya - 1 [baru]

Teologia Liberal [baru]

Dasar Yang Kokoh

Mendidik Anak Utuh, Menuai Keluarga Tangguh

Injil Yudas

Hari Pentakosta

Ibadah oleh Benny Hin

Ibadah Penyembuhan ?

Kenaikan Yesus Kristus


Awasilah Dirimu dan Awasilah Ajaranmu

Kristus Bangkit!, Soraklah !

Ekklesiologi (Doktrin Gereja)

Pemborosan Yang Dipuji

Siapakah Yesus Kristus ?

Yesus Sejarah

Yesus Menurut Para Ahli

Gereja dan "Para-Church"

Hubungan PMK dengan Gereja

Alumni yang Sehat dan Melayani

Bagaimana Kristen Berpacaran

Makna Mujizat Dalam Injil Yohanes

Memahami Makna Hidup

Mengetahui Kehendak Allah

Kehidupan Bernegara

FirmanNya Bergema Kembali

Seminar buku Purpose Driven Life (PDL): Penyembahan (Worship)

Kamp Nasional Alumni Perkantas 2005: Sharing Your Faith in the Pluralist Society

Pemimpin Yang Ditolak Allah

Pentingnya KTB

Mengapa Merayakan Natal ?

First Love (Kasih Mula-mula)

Virgin Birth

Yesus dan Pernyataan-pernyataanNya

ELOHIM atau YHWH?

ARTIKEL SERI

Allah Tritunggal

Bidat (Ajaran Sesat)

Otoritas Alkitab

Banyak Jalan Keselamatan

Pengantar Kristologi

Jangan Lupa Getsemani !

Akhir Zaman

Pemimpin Pujian

Eksposisi - Surat Kepada Ketujuh Jemaat di Asia [baru]

Yesus dan Kesaksian Pada DiriNya [baru]

TANYA JAWAB

Tanggapan atas Buku dan email Ioanes Rakhmat[baru]

Surat Penggembalaan Sinode GKI [baru]

Tanggapan 1. Menyikapi Artilkel Ioanes Rakhmat, Kompas 5 Apr [baru]

Tanggapan 2. Menyikapi Artilkel Ioanes Rakhmat, (Usul Seminar) [baru]

Makam Keluarga Yesus, Penemuan Ilmiah ? [baru]

KKR Benny Hinn

Pengakuan Iman Bahasa Batak
CATATAN-CATATAN

Ringkasan seminar oleh Prof. Peter Stuhlmacher (Univ. Tubingen)

Ringkasan Percakapan dengan Prof Peter Stuhlmacher di Fitzwilliam College, Univ. Cambridge.

Wawacancara dengan Prof. Peter Stuhlmacher, dari Univ. Tübingen, Jerman

Ringkasan sambutan dan kesaksian pak Freddy Numberi di KBRI Roma.

ENGLISH

Trinity Theological College (TTC) Chapel: Reflection on Gen.41: 25-57; 1Cor.4: 16.

East Asia Regional Conference: Student Engagement in the Society

A Cry From Christian Students in Indonesia

The significance of the term “Sign” in the Gospel of John

A Life Reflection From Indonesian Ambassador For Italy, General (Ret) Freddy Numberi

Eunice's article: “Finding the Right Answer"

Eunice's article: Counting – Sharing at vesper on 28.3.05

Eunice's article: Salvation from Israel to Israel

Rev. Dr. Gordong Wong: When God Seems like the Enemy

DR. ROBERT SOLOMON

Questions For Life’s Quest

The Shadow and the Reality

KLIPING

Mengapa Ada Penderitaan ? [Sinar Harapan] [baru]

Kasus Setia, Ujian Toleransi [Sinar Harapan] [baru]

Neraka [Sinar Harapan] [baru]

Dosa Para Penguasa [Sinar Harapan]
Membongkar Injil [Sinar Harapan]

Predestinasi [Sinar Harapan]

Sorga, Impian atau Kenyataan ? [Sinar Harapan]

Providentia [Sinar Harapan]

Neo Orthodoxy [Sinar Harapan]

Quo Vadis PGI ? [Sinar Harapan]

Holyland Tour [Sinar Harapan]

Quo Vadis Sekolah Kristen ? [Sinar Harapan]

Bagaimana Berteologi ? [Sinar Harapan]

Kehidupan Seorang Pelayan [Sinar Harapan]

Kehidupan Seorang Pelayan (2) [Sinar Harapan]

Kehidupan Seorang Pelayan (3) [Sinar Harapan]

Kehidupan Seorang Pelayan (4) [Sinar Harapan]

Kehidupan Seorang Pelayan (5) [Sinar Harapan]

Kehidupan Seorang Pelayan (penutup) [Sinar Harapan]

Pendidikan Tanpa Moralitas [Sinar Harapan]

Mengerti Kehendak Tuhan [Sinar Harapan]

Poligami, Mengapa Tidak ? [Sinar Harapan]

Doa Yang Benar ? [Sinar Harapan]

Tidak Terombang-Ambing [Sinar Harapan]

Iman dan Kedaulatan Allah [Sinar Harapan]

Berpuasa Yang Dikehendaki Allah [Sinar Harapan]

Pindah Agama [Sinar Harapan]

Beriman kepada Yesus [Sinar Harapan]

Kristus yang Terutama [Sinar Harapan]

Rahasia Hidup Bahagia [Sinar Harapan]

Memohon "Pasu-pasu" pada "Pesta Bona Taon" [Suara Pembaruan]

Adat Batak Bertentangan Dengan Injil ? [Bahana]

ARTIKEL PENULIS TAMU

Korban Mode Nih Ye...

Peka Budaya

Keteladanan

KUMPULAN LAGU

Mars PO Universitas Indonesia

Siapakah Diri Hamba

Ku Utus Kau untuk Membangun

Aku Ikut Yesus


Daftar Lagu Ciptaan Mangapul Sagala

Hubungan PMK dan Gereja
Lembaga Kristen dan Gereja

Pengantar

Kita patut bersyukur kepada Tuhan untuk hadirnya
lembaga2 Kristen yang disambut dengan positip sebagai lembaga yang
diakui telah nyata mendukung Gereja dalam menjalankan visi dan
misinya. Sebagai contoh kita dapat menyebut beberapa saja, seperti
Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Yayasan Musik Gerejawi (Yamuger),
Yayasan Komunikasi Masa (Yakoma), dan banyak lagi yayasan dan lembaga
Kristen lainnya.

Namun bagaimana dengan kehadiran Persekutuan Kampus,
atau yang umumnya dikenal dengan Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK)
yang kehadirannya didukung secara penuh oleh Yayasan pelayanan
mahasiswa, seperti Lembaga Pelayanan Mahasiwa Indonesia (LPMI),
Persekutuan Kristen Antar Universitas (Perkantas), Navigator, Lahay
Roy dan sejenisnya? Kelihatannya kehadiran mereka masih belum
sepenuhnya diterima, baik oleh Gereja-gereja, maupun oleh masyarakat
di Indonesia. Tidak heran, kalau beberapa waktu yang lalu sebuah
majalah terkenal ibukota memuat kehadiran yayasan-yayasan tersebut di
atas dengan nada yang negatif. Karena itu, ketika ada orang yang
menyampaikan protes dan amarahnya akan adanya salahpengertian itu,
saya mengatakan supaya tidak terlalu marah secara demikian. Karena
saya katakan, bahwa memang, bukan saja majalah umum (yang tidak
berlatarbelakang Kristen itu) salah mengerti akan kehadiran lembaga
pelayanan kerohanian mahasiswa tersebut, akan tetapi orang-orang
Kristen sendiripun, termasuk Gereja-gereja tertentu masih juga salah
mengerti. Syukurlah, setelah lebih kurang tiga dekade lembaga
kerohanian tersebut hadir di Indonesia,[1] kehadiran mereka semakin
disambut di dalam masyarakat dan Gereja-gereja. Namun demikian, harus
diakui adanya pengalaman-pengalaman pahit yang terjadi antara lembaga
tersebut dengan Gereja. Hal itu dapat terjadi sebagai akibat dari
kesalahan dari lembaga tersebut menyikapi Gereja, tetapi juga
sebaliknya karena kesalahan Gereja menyikapi kehadiran lembaga
tersebut. Artikel ini ditulis sebagai salah satu usaha untuk mencoba
menjembatani hubungan yang baik antara keduanya: lembaga pelayanan
dengan Gereja.

I. Apa yang dimaksud dengan Gereja?

Kalau kita mendengar kata Gereja barangkali yang
langsung ada di pikiran kita adalah sebuah bangunan yang di atasnya
ada salib. Atau barangkali kita terpikir akan segala aktivitasnya,
fasilitas yang dimiliki, atau bahkan mungkin keadaan administrasinya
yang hebat. Tetapi apa sebenarnya yang dimaksud dengan Gereja? Kata
"Gereja" diterjemahkan dari bahasa Yunani "ekklesia" atau bahasa
Ibrani "qahal" (kumpulan). Ekklesia berasal dari kata "ek" (keluar)
dan "kaleo" (memanggil), sehingga ekklesia berarti
"memanggil/dipanggil keluar". Artinya sekelompok (kumpulan) umat Allah
yang dipanggil ke luar dari dunia ini. Sebagaimana rasul Petrus
menegaskan: "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani,
bangsa yang kudus, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang
besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada
terangNya yang ajaib (band. 1Pet.2:9b). Di dalam Injil Sinoptik
(Matius, Markus dan Lukas), kata ekklesia hanya muncul dalam Injil
Matius, dan hanya terdapat dua kali, yaitu pada Mat.16:18 dan
Mat.18:17-18. Karena itu, sebagian ahli mencurigai istilah tersebut
asli berasal dari Tuhan Yesus. Mereka menganggapnya sebagai tambahan
atau ditambahkan kemudian oleh murid-murid. Namun demikian, tuduhan
tersebut tidak meyakinkan. Sebagaimana Guthrie menulis, "Tidak ada
alasan yang meyakinkan untuk menyangkal bahwa ucapan tentang ekklesia
tersebut adalah otentik.[2]

Injil Yohanes tidak menyinggung secara langsung
mengenai jemaat atau Gereja. Namun demikian, itu tidak berarti bahwa
dalam Injil ini tidak ada ide tentang Gereja. Johan Ferreira yang
telah meneliti hal ini secara khusus dalam disertasinya yang berjudul
Johannine Ecclesiology menegaskan, "The subject of Johannine
ecclesiology covers a large area of Johannine scholarship".[3]

Selanjutnya, dalam penelitiannya terhadap Yoh.17, dia menulis,
"Ecclesiological concerns occupy a prominent place throughout the
prayer...from the beginning the prayer is concerned with the Johannine
community, that is, those who belong to the Son".[4]

Yohanes memberi istilah lain yang mengandung makna Gereja, yaitu:

a. Konsep kawanan domba (Yoh.10)

b. Konsep pokok anggur (Yoh.15)

c. Konsep kesatuan umat (Yoh.17:22)

Di pihak lain, menurut rasul Paulus, ada dua macam pengertian Gereja.
Pertama adalah Gereja yang tidak kelihatan atau invisible church, atau
Gereja universal. Yang termasuk dalam Gereja ini adalah semua orang
yang telah percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan
JuruselamatNya (Baca Efesus 1:22 dan Kol.1:18). Kedua adalah Gereja
yang kelihatan atau visible church, atau disebut juga Gereja lokal.
Sebagai contoh: HKBP, GKI, GPIB, GKJ, dll (Baca 1Kor.1:2 dan
2Kor.1:1). Catatan, untuk selanjutnya Gereja Lokal cukup disebut
dengan Gereja.

Bagaimanakah Perjanjian Baru mengerti Gereja?

1. Gereja adalah umat Allah (lihat 1Pet.2:9.
Bandingkan dengan Ulangan 9:10;10:4.

2. Gereja adalah komunitas Mesianis (lihat
Luk.12:32; Mat.16:18; Mat.28:20.

3. Gereja adalah tubuh Kristus (lihat Efesus 1:22-23)

4. Gereja sebagai persekutuan Roh (lihat Kis.1:4; 5:32)

Sebagaimana telah disebutkan di atas, ada orang yang bersikap menolak
gereja karena beranggapan bahwa persekutuan sudah cukup. Salah satu
alasan yang diberikan adalah, "Kita adalah gereja yang sesungguhnya,
karena kita adalah kumpulan orang-orang yang telah percaya dan
menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Kita tidak harus ke
gereja, karena di mana pun kita berkumpul, itu sama dengan gereja.
Gereja bukanlah gedung atau bangunannya. Kelompok ini kadang2 mengutip
pernyataan Tuhan Yesus, "Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam
namaKu, di situ Aku ada di tengah2 mereka" (Mat.18.20).

Benarkah sikap yang demikian? Marilah kita melihat
sikap Tuhan Yesus dan rasul-rasul terhadap Gereja. Sebenarnya, Yesus
adalah yang pertama menggunakan istilah Gereja. Sebagai contoh,
setelah rasul Petrus mengakui siapa Yesus, Tuhan Yesus bersabda
padanya, "You are Peter, and on this rock I will build my church"
(Mat.16.18). Jika kita melihat konteks ayat ini sebagai mengacu kepada
Gereja universal, maka pada ayat berikutnya, kita melihat dengan
jelas, bahwa Yesus mengacu kepada Gereja lokal. "If he refuses to
listen to them, tell it to the church...". (Mat.18.17) Melalui ayat
tersebut kita melihat bahwa Tuhan Yesus mengakui pemerintahan atau
otoritas Gereja lokal. Bahkan dalam Perjanjian Baru kita melihat bahwa
selama hidupNya, Tuhan Yesus biasa memasuki synagoge, yaitu 'Gereja'
pada saat itu (lihat Luk.4.16). Demikian juga dengan rasul-rasul,
mereka menerima Gereja lokal sebagai bagian penting dari pelayanan
mereka. Dalam Kisah Rasul, Paulus tidak hanya memberitakan Injil dan
menjadikan mereka bertobat, tetapi ia juga mengatur mereka ke dalam
Gereja (lihat Kis.14.23). Dalam banyak pasal, rasul Paulus memberikan
contoh melalui ketaatannya terhadap kekuasaan pemimpin2 Gerejanya di
Antiokhia. Dia dipercayakan oleh mereka dengan meletakkan tangan
ketika ia memulai pelayanan missinya (lihat Kis.13;5). Kemudian, ia
melaporkan hasil-hasil pelayanannya ke Gerejanya. "And when they
arrived, they gathered the church together and declared all tha God
had done with them...(Acts 14.27; lihat juga Kis.18.22).

Rasul Paulus menunjukkan ketergantungan jemaat yang
begitu mutlak dengan Kristus. Hal ini dapat kita lihat dari berbagai
ilustrasi yang menggambarkan hubungan Gereja denganNya.

1. Jemaat sebagai tubuhNya (Ef.1.22-23; 4.12

2. Jemaat sebagai pengantin perempuan (2Kor.11.2)

3. Jemaat sebagai bangunan (1Kor.3.9;6.19)

Kehadiran Gereja Tuhan di dunia ini, serta perjalanan dan
pertumbuhannya, yang tetap bertahan sekalipun melalui dan menghadapi
berbagai tantangan dari abad ke abad adalah merupakan suatu misteri.
Di sini terlihat misteri pemeliharaan Allah. Walau bagaimanapun Gereja
akan tetap hadir di dunia ini sebagai organisme anak-anak Allah. Di
sinilah mereka secara bersama-sama beribadah menyembah Allah. Di
sinilah umat belajar mengenal dan menerima serta mengasihi satu dengan
yang lain dengan kasih Allah (band.Yoh.13.34-35). Di dalam dan melalui
Gereja, Allah menyatakan kasih dan karyaNya kepada dunia. Sebagaimana
rasul Paulus menulis, "Kepadaku yang paling hina di antara segala
orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan
kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga
itu, dan untuk menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia
yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah, yang menciptakan
segala sesuatu, supaya sekarang oleh jemaat (church) diberitahukan
pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah- pemerintah dan
penguasa-penguasa di Surga (Ef.3.8-10). Apakah hikmat Allah yang harus
diberitakan oleh Gereja kepada dunia ini? Hikmat Allah itu, tidak lain
adalah Injil, yaitu kabar baik bagi dunia. Tugas utama Gereja untuk
dunia telah ditetapkan oleh Tuhan Yesus pada detik-detik terakhir
sebelum Yesus naik ke Surga. Dia memerintahkan, "Pergilah ke
seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala mahluk" (Mark.16.15).
Alkitab menunjukkan bahwa tugas pemberitaan Injil harus menempati
prioritas utama dalam kehidupan Gereja. Karena itu, segala dana dan
daya sudah sepatutnya dikonsenterasikan untuk tugas ini. Tugas ini
bukan milik orang tertentu saja seperti pendeta, penginjil dan majelis
Gereja, akan tetapi semua orang yang telah percaya harus terlibat
dalam tugas penginjilan memberitakan kabar baik, yaitu pengampunan dan
keselamatan bagi orang berdosa.

II Persekutuan Kampus

Kita telah melihat sikap Tuhan Yesus dan rasul-rasul
terhadap Gereja. Karena itu, kita harus mengikuti teladan Tuhan Yesus
yang telah rela mempersembahkan segala milikNya, termasuk diriNya
sendiri bagi GerejaNya. Kita tidak boleh sekedar ikut ke Gereja,
tetapi harus menjadi anggota jemaat yang melibatkan diri dalam
membangun Gereja di mana kita ditempatkan oleh Tuhan. Lalu bagaimana
dengan Persekutuan Kampus? Jikalau kita setuju dan konsekwen bahwa
setiap orang yang telah percaya pada Yesus harus memiliki Gereja dan
terlibat di dalamnya, maka seharusnya, kita juga setuju dan bersyukur
untuk kehadiran Persekutuan Kampus. Mengapa? Karena umat Allah di
kampus sebenarnya merupakan utusan Gereja bagi 'dunia' kampus. Jikalau
kita setuju dan mau taat pada perintah Tuhan Yesus untuk memberitakan
Injil ke segala mahluk, ke seluruh dunia, maka tidakkah seharusnya
Gereja menjadikan dunia kampus sebagai ladang pelayanannya? Kalau ya,
siapakah yang akan diutus ke sana? Pendeta kah? Atau majelis? Dapatkah
mereka melakukan tugas ini? Kalau dapat, apakah mereka diperbolehkan?
Kalau boleh, apakah mereka diterima oleh mahasiswa. Dari pengalaman
melayani di kampus selama lebih dari 26 thn, jawaban kita yang pasti
adalah hanya orang-orang dari dalam kampus itu sendirilah yang paling
tepat untuk melakukan tugas pemberitaan Injil itu, termasuk di
dalamnya adalah dosen, karyawan dan mahasiswa. Dengan demikian, kita
harus yakin sepenuhnya, bahwa dunia kampus harus dijadikan ladang
pelayanan yang harus ditangani secara sungguh-sungguh. Dengan
demikian, dosen, karyawan dan khususnya mahasiswa Kristen yang telah
percaya kepadaNya menjadi utusan-utusan Gereja bagi kampus, setelah
dilatih dan dipersiapkan dengan baik.

Sebenarnya, kalau kita pikirkan lebih teliti, maka
dunia kampus sebagai ladang pelayanan merupakan ladang pelayanan yang
sangat penting dan strategis. Hal itu telah terbukti dalam gerakan
pelayanan mahasiwa di seluruh dunia.[5] Sesungguhnya, sejarah terlah
membuktikan bahwa mahasiswa memiliki peranan yang sangat penting dalam
Gereja. Karena Allah telah menggerakkan sejumlah mahasiwa untuk
membangun kerajaanNya. Sebagai contoh, Allah menggerakkan John
Wycliffe dari Universitas Oxford (1329-1384) yang kemudian dikenal
sebagai forerunner, atau pendahulu gerakan reformasi. Dia juga
menterjemahkan Alkitab Vulgate ke bahasa Inggris. Allah juga
membangkitkan Martin Luther (1483-1546), yaitu seorang Reformator
besar. Dia telah memutar balik arah Gereja ke arah yang benar dengan
kesembilan puluh lima pasal protesnya. Luther memulai gerakannya dari
Universitas Wittenberg tahun 1508. Kemudian, Allah juga telah
membangkitkan P.J. Spener (1635-1705) dari Universitas Halle. Spener
kemudian dikenal sebagai bapak Pietisme. Allah juga membangkitkan John
Wesley (1703-1791) dan George Whitefield (1714-1770) dari Universitas
Oxford. John Wesley kemudian dikenal sebagai bapak dan pendiri dari
Gereja Metodis. Akhirnya, Allah juga yang telah membangkitkan Charles
Simeon (1759-1836) dari Universitas Cambridge.

Gerakan Allah di kalangan mahasiswa berkembang terus
sampai ke seluruh dunia. Pada tahun 1947 melalui sekelompok mahasiswa
di Cambridge terbentuklah International Fellowship of Evangelical
Students (IFES), yaitu Persekutuan Mahasiwa Injili Internasional. Pada
mulanya Persekutuan Mahasiwa Kristen secara resmi dimulai bulan Maret
1877. PMK ini mempengaruhi seluruh kampus di Inggris, sehingga
terbentuklah Inter-Varsity Christian Fellowship (IVCF), atau
Persekutuan Kristen Antar Universitas. Kemudian pada tahun 1928 PMK
tersebut di atas berubah nama menjadi Universities and Colleges
Christian Fellowship (UCCF). Dengan demikian jangkauan PMK tidak hanya
Universitas tetapi juga ke tingkat Akademi. Gerakan persekutuan
mahasiwa ini tidak hanya terjadi di Inggris, tetapi juga di luar
Inggris. Sebagai contoh, melalui UCCF tersebut, di Australia
terbentuklah Australia Fellowship of Evangelical Student (AFES) pada
tahun 1936. Allah terus memberkati AFES sehingga terus bertumbuh dalam
kwalitas dan kwantitas, khususnya dalam semangat missinya. Karena itu,
untuk menjangkau para mahasiwa dari luar (Overseas Students) yang
datang ke Australia, AFES membentuk Overseas Christian Fellowship
(OCF). Segala puji bagi Tuhan, melalui OCF tersebut, tiga orang
mahasiwa Indonesia yaitu, Panusunan Siregar, Jonathan Parapak dan
Jimmy Kuswady mengami pertumbuhan dalam kekristenan mereka. Kemudian
mereka ini oleh anugerah Allah mendirikan Perkantas pada tahun 1969.
Kemudian Perkantas menjadi sebuah Yayasan yang terdaftar di Jakarta
secara resmi dan memiliki badan hukum dengan Akte Notaris no 32
tanggal 29 Juni 1971. Hal ini dilakukan bukan demi organisasi tetapi
agar kehadirannya memiliki kekuatan hukum. Syukur kepada Allah,
dengan kehadiran Perkantas di Indonesia selama lebih dari tiga dekade,
Allah telah membangun kerajaanNya di berbagai kampus, tidak hanya di
Jakarta tetapi juga di seluruh Indonesia.

Sebenarnya, kalau diamati dengan teliti, maka dunia
kampus sebagai ladang pelayanan merupakan ladang pelayanan yang sangat
penting dan strategis. Mengapa?

Pertama, karena pembinaan mahasiwa bersifat homogen.

Ditinjau dari segi pembinaan, maka persekutuan kampus adalah satu
kelompok yang sangat penting, di mana mereka memiliki tingkat
pemikiran yang sama dan memiliki daya nalar yang cukup tinggi. Hal ini
tidak seperti kelompok pembinaan di Gereja, di mana anggota jemaatnya
pada umumnya diikuti oleh orang-orang dengan latar belakang yang
berbeda, baik dari segi usia, tingkat pendidikan dan status sosialnya.
Karena itu, dengan kondisi mahasiwa yang demikian, sudah sepatutnya
dipersiapkan trainer-trainer dan pembicara yang sungguh-sungguh mampu
serta berkwalitas.

Kedua, karena mahasiwa adalah calon pemimpin Gereja.

Calon pemimpin Gereja sangat membutuhkan orang-orang yang berkwalitas
tinggi, baik dalam hal rohani maupun dalam hal pendidikan, sehingga
Gereja sebagai tubuh Kristus tidak berjalan lambat, terbengkalai dan
ketinggalan zaman, karena dikelola oleh orang-orang yang kurang mampu.
Gereja harus segera mengakhiri kelemahan tersebut, dengan melibatkan
kaum intelektual, seperti orang-orang yang telah dibina dengan baik di
PMK. Kiranya Gereja sungguh-sungguh menyadari hal ini, dengan demikian
tidak membiarkan kaum intellektual atau mereka yang memiliki
pendidikan tinggi menjadi passif, hanya sebagai penonton.

Ketiga, karena mahasiwa adalah calon pemimpin bangsa.

Kelompok ini adalah kelompok yang sangat beruntung dan sangat penting
dalam masyarakat, yang hanya merupakan persentasi kecil (kurang dari
1%). Maka tidaklah mengherankan apabila hampir seluruh kekuatan
berusaha mendekati dan memperalat kelompok ini. Bagaimana dengan
Gereja? Melihat betapa pentingnya peranan mereka dalam pembangunan
bangsa, apakah terlalu berlebihan apabila Gereja mempersiapkan dan
memberikan dana dan daya secara khusus demi keberhasilan misi ladang
istimewa ini? Betapa gemilangnya masa depan bangsa Indonesia bila
calon-calon pemimpin tersebut telah berhasil diubah dan dibentuk oleh
Injil melalui persekutuan kampus. Dengan demikian, kampus tidak hanya
menghasilkan calon-calon pemimpin yang pintar tetapi berhati korup,
sehingga semakin menambah koruptor-koruptor kelas kakap. Bukankah ini
sebenarnya menjadi masalah utama bangsa ini? Bangsa ini memiliki cukup
banyak orang pintar, tetapi kekurangan pemimpin-pemimpin yang
sungguh-sungguh bermoral tinggi. Inilah sebenarnya yang harus
dipersiapkan oleh PMK, yaitu alumni, atau calon pemimpin yang takut
akan Tuhan (Ams.1.7), yang jujur dan bertanggung jawab. Sungguh,
bangsa kita sangat memerlukan orang-orang seperti ini. Orang-orang
seperti inilah yang mempercepat pemulihan bangsa ini dari berbagai
masalah yang dihadapinya.

Dengan melihat ketiga hal di atas, maka Gereja sudah
seharusnya mendoakan dan mendorong persekutuan kampus agar bertumbuh
dengan baik, agar pada saatnya mereka dapat dilibatkan dalam pelayanan
Gereja.

III. Hubungan Gereja dan Persekutuan Kampus

Sudah disinggung di atas bahwa persekutuan kampus
tidak boleh hanya hidup bagi dirinya sendiri, apalagi melepaskan diri
dari Gereja. Sekalipun persekutuan kampus maju dan berkembang, namun
harus tetap disadari keterbatasannya jika dibandingkan dengan Gereja.

Pertama, persekutuan kampus (PMK) hadir dalam misinya yang khusus.
Sebagaimana telah disebutkan di atas, ia hadir sebagai utusan Gereja
untuk melaksanakan pemberitaan Injil bagi dunia mahasiswa. Persekutuan
kampus tidak pernah sepenuhnya dapat melaksanakan tugas Gereja,
seperti membaptis, pemberkatan nikah, dan lain lainnya.

Kedua, persekutuan kampus adalah bersifat tertutup,
terbatas hanya bagi mahasiswa; sedangkan Gereja memiliki anggota yang
heterogen, tidak dibatasi usia, jenis kelamin, perbedaan status
sosial.

Ketiga, persekutuan kampus mempunyai anggota yang
senantiasa berubah. Setelah lulus, maka mahasiswa tersebut akan
meninggalkan kampus, kecuali bagi mereka yang memilih untuk menjadi
dosen atau tugas lain yang tetap berada di lingkungan kampus. Karena
itu, sebelum meninggalkan kampus, mahasiswa sebaiknya mempersiapkan
diri untuk memilih bidang pelayanan yang akan dilakukan di Gereja. Hal
ini sangat penting dilakukan mengingat bahwa Gereja merupakan tempat
pelayanannya yang menetap.

Beberapa bidang pelayanan di Gereja yang perlu
dipersiapkan oleh Persekutuan Kampus untuk membantu pelayanan di
Gereja adalah,
Mempersiapkan mahasiwa untuk menjadi guru sekolah minggu.

Perlu diketahui bahwa masih banyak orang yang belum melihat pentingnya
pelayanan sekolah minggu. Karena itu, pengelolaannya seringkali tidak
sungguh-sungguh seperti mengelola jemaat dewasa. Hal ini juga terlihat
dari kwalitas guru-guru sekolah minggu yang bukan saja tidak memiliki
kemampuan (tidak memiliki ketrampilan yang cukup), melainkan juga
belum memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Padahal, Tuhan Yesus
sendiri memberi teladan dan pengajaran akan pentingnya pelayanan
anak-anak (bandingkan dengan Mark.10.13-16). Karena itu, adalah
bijaksana bila kekosongan guru sekolah minggu yang banyak dalam Gereja
juga diisi oleh mereka yang pernah dibina di PMK.
Membantu pelayanan komisi pemuda.

Sangat disayangkan, cukup banyak komisi pemuda saat ini statis,bahkan
timbul tenggelam. Kegiatannya sering kali hanya sebatas paduan suara.
Padahal, seharusnya komisi pemuda berperan sebagai motivator, pemberi
visi dan penggerak dalam seluruh kegiatan Gereja. Karena sesungguhnya,
pemudalah nanti yang akan menjadi majelis atau tua-tua Gereja.
Bagaimanakah masa depan Gereja jika pemudanya tidak terbina dan
dipersiapkan dengan baik. Karena itu, sangatlah bijaksana bila mereka
yang terbina di PMK juga melihat komisi ini sebagai tempatnya untuk
melayani Tuhan, baik sebagai pengurus, pembimbing, pemimpin KTB,
membantu penerbitan bulletin, dll.

Persekutuan mahasiswa juga dapat membagikan keahliannya sesuai dengan
bidang keahliannya masing-masing. Misalnya, mereka yang memiliki latar
belakang medis, dapat terlibat dalam poliklinik Gereja, mereka yang
memiliki latar belakang teknik Sipil/Arsitektur dapat membantu
pembangunan atau renovasi Gereja, mereka yang berlatar belakang
akuntansi, dapat membantu memperbaiki pembukuan dan sistim keuangan
Gereja.
Pekerjaan lainnya.

Jika kita memang mau dan rindu membantu Gereja, maka sebenarnya masih
banyak bidang pelayanan yang dapat dikerjakan. Persekutuan kampus
seharusnya melakukan hal-hal tersebut dengan jujur dan
sungguh-sungguh. Mereka melakukan hal itu bukan sekedar menjalin
hubungan dengan Gereja, sehingga mendapat nama baik.

IV. Permasalahan Yang Terjadi Antara Persekutuan Kampus dan Gereja.

Ternyata, kerinduan mahasiswa yang telah dibina dalam
PMK untuk membangun Gerejanya tidak jarang menimbulkan permasalahan.
Berbagai alasan dapat terjadi sebagai penyebab permasalahan itu.
Karena itu, berbagai cara harus diupayakan untuk mengatasinya.
Sebagaimana disebutkan di depan, permasalahan dapat terjadi dari pihak
lembaga kerohanian (PMK), tetapi juga dapat terjadi dari pihak Gereja.

Kesalahan dari pihak Gereja antara lain adalah:

1. Tidak mengerti visi dan misi pelayanan mahasiswa tersebut.
Untuk mengatasi hal ini maka perlu diadakan pendekatan yang baik
kepada pihak Gereja atau majelis. Pendekatan sebaiknya bersifat
pribadi dan kekeluargaan, jangan bersifat formal. Pendekatan harus
sedemikian sehingga sumber permasalahan dapat ditemukan. Setelah itu,
lembaga kerohanian dengan sungguh-sungguh mencoba menjelaskan visi dan
misi mereka, serta dengan rendah hati bersedia memohon dukungan dan
kerja sama dari pihak Gereja.

2. Pelayan dan pelayanan tersebut terlalu menonjol sehingga
dapat menimbulkan iri hati, baik disadari maupun tidak disadari oleh
pihak Gereja (bandingkan pengalaman rasul2 yang mendapat tantangan
dalam Kis.5:17-18). Jika demikian, pelayanan harus dilakukan dengan
banyak doa, sehingga baik pihak lembaga, maupun Gereja dikuduskan oleh
Tuhan. Perlu juga dimohon kepekaan untuk melihat tindakan yang tepat
untuk mengatasi hal tersebut.

3. Tidak dapat menerima cara-cara melayani dari lembaga atau
PMK tersebut. Kalau begitu, pihak lembaga harus melayani dengan suatu
prinsip yang benar yaitu membedakan apa yang merupakan hal primer dan
apa yang sekunder. Untuk hal-hal yang primer, misalnya soal
keselamatan di dalam Yesus, kebenaran dan otoritas Alkitab, harus
dipertahankan dengan bijaksana. Sedangkan untuk hal-hal sekunder,
misalnya bernyanyi dengan tepuk tangan atau tidak, berdoa bersama-sama
dengan mengeluarkan suara atau tidak, hal itu dapat dirubah sesudai
dengan kebiasaan di Gereja tersebut. Kita harus ingat bahwa metode
pelayanan rasul Paulus adalah metode identifikasi disi sedapat mungkin
(band. 1Kor.9:19-23). Tujuan metode ini jelas, "memenangkan sebanyak
mungkin orang bagi Kristus" (ayat 19, 20, 21, 22).

Selanjutnya, Jerry White, mantan pimpinan The Navigators, dalam
bukunya The Church & The Parachurch. An Uneasy Marriage, juga telah
membahas secara khusus adanya problem yang dihadapi antara lembaga
pelayanan dengan Gereja.[6] Jerry mengusulkan agar dalam membina
hubungan yang baik dengan Gereja, maka harus dilakukan hal berikut,[7]

Pertama, "Para-local church organizations should clearly define their
purposes and goals, and be willing to be evaluated." Maka dalam hal
ini, lembaga perlu menjelaskan kepada Gereja apa yang menjadi visi dan
misi lembaga tersebut. Selanjutnya, Gereja dapat berperan untuk
melihat sejauh mana lembaga tersebut tetap berjalan sesuai dengan visi
tersebut, dan sejauh mana mulai menyimpang.

Kedua, "Para local church staff should relate to a local
congregation". Dalam hal ini dia menegaskan bahwa semua orang percaya
harus memiliki Gereja lokal tertentu, tidak terkecuali dengan staff
dari lembaga pelayanan.

Ketiga, "Para-local church leaders should give sound teaching on
responsibility to the local congregation.

Keempat, "Emphasize the ministry of the laity". Lembaga pelayanan yang
mimbina mahasiwa atau kaum awam, juga harus mendorong mereka untuk mau
menyerahkan diri dalam pelayanan full time. Jika ini terjadi, maka
Gereja harus mendukungnya, karena telah terjadi mobilisasi kaum awam
bagi pekerjaan Allah, yang dilakukan melalui lembaga pelayanan
tersebut.

Memang dalam pelayanan kita tidak boleh melakukannya
dengan jalan pintas dengan dalih bahwa Roh Kudus dapat memakai segala
cara asal tulus. Tuhan Yesus sendiri telah memperingatkan kita agar
melayani dengan tulus dan cerdik (Mat.10:16). Jadi tidak cukup hanya
melayani dengan tulus, tetapi juga dengan cerdik. Atau, juga tidak
boleh melayani hanya mengandalkan kecerdikan, seperti mengandalkan
kemampuan berargumentasi, melakukan berbagai macam pendekatan yang
meyakinkan, tetapi semua itu harus dilakukan atas dasar ketulusan.
Keseimbangan untuk memelihara keduanya sangat dituntut untuk
menghasilkan pelayanan yang diberkati Tuhan serta diterima oleh
umatNya: melayani dengan tulus dan cerdik. Menjadi pelayan Tuhan
memang tidak semudah mengatakannya. Itulah sebabnya firman Tuhan
memberikan kwalifikasi tertentu bagi Timotius si pelayan muda (baca 1
Tim.4:11-16). Tuntutan yang diberikan kepada pelayan sebanyak 7 orang
dalam jemaat mula mula adalah terkenal baik, penuh Roh dan hikmat
(Kis.6:7). Memang sangat sukar, bahkan tuntutan dari pelayanan
tersebut tidak jarang adalah kerelaan untuk menderita serta
pengorbanan diri. Namun demikian, firman Tuhan memberi penghiburan
bahwa jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, maka kita juga akan
dipermuliakan bersama-sama dengan Dia (Rom.8:17b). Tuhan Yesus juga
menegaskan, "Barangsiapa melayani Aku, dia akan dihormati oleh BapaKu"
(Yoh.12:26b).

Kesimpulan

Dari uraian di atas kita melihat betapa pentingnya
Gereja, sehingga kita harus terlibat di dalamnya. Demikian juga,
kehadiran lembaga kerohanian atau PMK sangat penting sebagai ladang
pelayanan khusus bagi Gereja, untuk memenangkan dunia kampus bagi
Kristus.

Jika Anda disuruh untuk memilih melayani antara
persekutuan di PMK dengan Gereja, apa yang Anda pilih? Saya memilih
keduanya. Selama masih mahasiwa, saya memprioritaskan persekutuan
kampus, dan ketika hampir lulus saya mulai memprioritaskan pelayanan
di Gereja, di mana Gereja adalah ladang pelayanan yang tetap. Tentu di
sini ada pengecualian, yaitu bila jelas Tuhan memimpin saya untuk
tetap menjadi utusan Gereja ke pelayanan kampus, saya akan tetap di
sana, sebagaimana saya lakukan hingga saat ini.

________________________________

[1] Yayasan-yayasan kerohanian yang melayani mahasiswa seperti . LPMI
dan Perkantas hadir di Indonesia di sekitar tahun 60-an. Yayasan
Perkantas mulai melakukan pelayanannya di Indonesia pada tahun 1969,
akan tetapi baru pada tahun 1971 terdaftar secara resmi memiliki akte
notaris yang berbentuk yayasan.

[2] Teologia Perjanjian Baru, vol.3, hal.34.

[3] Johan Ferreira, Johannine Ecclesiology (Sheffield. Sheffield
Academic Press, 1998), hal. 35.

[4] Ibid, hal. 77.

[5] Untuk lebih jelasnya dapat dibaca, Keith & Gladys Hunt, For Christ
and the University (Illinois.IVP, 1991).

[6] Jerry White, The Church & The Parachurch. An Uneasy Marriage
(Portland, Oregon. Multnomah Press, 1983). Dalam buku ini, yang hanya
terdiri dari dua bagian, Jerry membahas masalah ini dalam bagian kedua
yang dibagi menjadi empat fasal, yaitu, fasal 6-9.

[7] Jerry White, hal. 120-121.

Posted by admin on August 23 2005 16:18:490 Comments · 4566 Reads - Print
Comments
No Comments have been Posted.
Post Comment
Please Login to Post a Comment.
Ratings
Rating is available to Members only.

Please login or register to vote.

No Ratings have been Posted.
Login
Username

Password



Not a member yet?
Click here to register.

Forgotten your password?
Request a new one here.
Shoutbox
You must login to post a message.

vicke
02/08/2010 16:38
Datanglah pada ibadah KBD Mg, 5.9.2010, dengan tema: Mengapa Ada Penderitaan. Jam 16.00 di FEUKI Cawang. Pembicara, Pdt. Mangapul Sagala.

vicke
16/05/2010 19:42
IBADAH TINDAK LANJUT KKR ISTORA akan diadakan hari Minggu 6.6.2010 jam 16.00. Ibadah itu akan dimeriahkan oleh pemuji: Drs Bonar Gultom, pencipta lagu Arbab.

Brosur Fellowship Day Alumni II
Cari
Search for:
Articles
News
Forum Posts
Downloads
Web Links
Members
Buku
Image and video hosting by TinyPic
BARU: FIRMAN MENJADI DAGING, Harga Rp 30.000, Dapat dipesan di literatur Perkantas Jakarta. Telp. (021) 3442463-64




Injil dan Adat Batak

Bagaimanakah sikap kita melihat adat Batak sebagai produk budaya leluhur? Bagaimana pandangan Injil Kristus terhadap adat? Apakah Adat Batak bertentangan dengan Injil? Buku ini akan membantu untuk menjawab pertanyaan tersebut dan pertanyaan-pertanyaan lainnya dengan baik, sehingga orang Batak dapat mengambil sikap benar terhadap adat istiadat sebagai produk budaya leluhur. (Junjungan Sipahutar, SH. Ketua Yayasan Binadunia, tinggal di Jakarta)

Warga Batak Kristen perlu memperoleh keyakinan bahwa kehidupan mereka adalah kehidupan yang maradat dalam iman Kristiani. Buku kecil ini menyidik masalah itu dengan intensitas Injil yang amat mendalam dan sangat komprehensif. Kita sambut dengan rasa syukur buku kecil dengan manfaat besar ini, sambil mengucapkan SELAMAT dan SUKSES kepada Pdt. Ir. Mangapul Sagala, D.Th. Tuhan Yesus memberkati. Amen. (Drs. Duaman Panjaitan. Pemimpin Harian Batak Pos, dan tokoh adat Batak, tinggal di Jakarta).

Detil dan pemesanan klik disini

Kristus Pasti Datang

Ada orang yang berani meramalkan waktu kedatangan Kristus, tetapi ada juga yang meragukan kedatangan-Nya. Alkitab mengatakan, peristiwa kedatangan Kristus pasti terjadi, yang tidak pasti adalah waktunya. Buku ini menolong Anda memahami dengan jelas doktrin Alkitabiah mengenai kedatangan Kristus kembali ke dunia.

Detil dan pemesanan klik disini



Keputusan memilih teman hidup merupakan keputusan kedua terpenting setelah memutuskan mengikut Kristus. Prosesnya tidak gampang dan tidak boleh digampangkan. Buku ini memaparkan enam langkah penting sebelum memasuki tahap berpacaran, petunjuk menjalani masa berpacaran hingga memahami makna pernikahan Kristen.

Detil dan pemesanan klik disini



Puji-pujian menempati posisi sangat penting dalam kehidupan dan ibadah orang Kristen. Permasalahannya adalah tidak semua orang memiliki konsep dan pengertian yang benar tentang puji-pujian. Buku ini memberi petunjuk praktis bagi mereka yang rindu memuji Tuhan dengan baik, khususnya bagi para pemimpin pujian, agar dapat meningkatkan kreatifitasnya.

Detil dan pemesanan klik disini

RINGKASAN BUKU

Berpacaran Secara Kristen


Superioritas dan Keistimewaan Alkitab
[ beli disini ]

Petunjuk Praktis Menggali Alkitab


Roh Kudus dan Karunia Roh
[ beli disini ]


Pekabaran Injil Secara Pribadi
[ beli disini ]

Link
Perkantas Nasional
Perkantas Jakarta
Peduli Konseling
Christian Graduate Network
In Christ Net
GoBatak.com

Mailing List
doakanHKBP
ForumBiblika
LK3Online