Berpuasa Yang Dikehendaki Allah
Oleh: Pdt. Mangapul Sagala
Adakah puasa yang tidak dikehendaki oleh Allah? Bukankah Allah sendiri yang
menetapkan umatNya untuk berpuasa, karena itu setiap puasa pasti dikehendakiNya?
Memang benar, di dalam Alkitab Perjanjian Lama, Allahlah yang memerintahkan
umatNya untuk berpuasa dan menetapkan satu hari dalam setahun yang disebut
dengan hari raya pendamaian. Pada hari tersebut, umatNya harus merendahkan diri
di hadapan Tuhan serta tidak melakukan sesuatu pekerjaan (Baca Imamat
16:29-31;23:27-32). Selanjutnya, setelah masa pembuangan ke Babel, ada empat
peristiwa lainnya di mana orang-orang Yahudi mengadakan puasa tiap tahun
(Zach.7:5;8:19). Dalam Perjanjian Baru, kita menemukan bahwa sebelum memulai
pelayananNya, Tuhan Yesus berpuasa selama empat puluh hari dan empat puluh malam
(Mat.4:2). Orang-orang Farisi yang fanatik berpuasa dua kali seminggu
(Luk.8:12), yaitu hari Senin dan Kamis. Setelah Tuhan Yesus naik ke surga, kita
juga membaca bahwa murid-murid melanjutkan tradisi berpuasa tersebut
(Kis.13:3;14:23;27:9). Demikian juga dengan komunitas Qumran, mereka juga
berpuasa dan mengadakan hari pendamaian (1QpHab 11:7).
Namun demikian, ada satu hal yang barangkali mengecewakan kita.
Ternyata, tidak benar bahwa setiap puasa dikehendaki Allah. Mengapa? Apakah yang
terjadi dengan umat yang berpuasa tersebut? Di dalam kitab Yesaya, kita membaca
pertanyaan umat kepada Allah: "Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak
memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak
mengindahkannya juga? (Yes.58:3). Dengan jelas dan tegas Allah menjawab:
"Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu
mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan
berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena". Setelah itu,
kita membaca respon Allah terhadap puasa tersebut: "Dengan caramu berpuasa
seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi"
(Yes.58:3b-4).
Dari jawaban tersebut di atas kita mengetahui bahwa berpuasa tidak
sekedar melakukan kegiatan phisik, yaitu menahan lapar dan haus. Juga tidak
sekedar melakukan rutinitas agama dengan segala upacara ritual dan
simbol-simbolnya. Jika demikian, betapa menyedihkan puasa seperti itu, karena
walaupun telah dilakukan dengan segala susah payah, akhirnya adalah kesia-siaan.
Allah menuntut lebih dari itu, sebab Dia menghendaki agar umatNya mampu
menangkap makna yang terdalam dari puasa tersebut.
Bagaimanakah kita memahami puasa tersebut? Apakah maknanya yang
sesungguhnya? Untuk menjawabnya, kita tidak perlu menyusahkan diri dengan
membaca berjilid-jilid buku. Juga tidak perlu mengadakan seminar khusus. Dan
jangan berspekulasi. Mengapa? karena hal itulah yang selanjutnya ditegaskan oleh
Allah. "Berpuasa yang kukehendaki ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu
kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang
teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi
orang-orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah,
dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian
dan tidak menyembunyikan dirimu terhadap saudaramu sendiri! (Yes.58:6-8).
Sungguh merupakan pelajaran yang sangat penting. Walaupun nabi
Yesaya menulis seruan Allah tersebut sekitar 2700 tahun yang lalu, namun isinya
tidaklah kuno dan menjadi usang. Sebaliknya, kita mengamati bahwa seruan
tersebut sangat mengena dengan kehidupan kita sekarang. Jika kita berani jujur
dan terbuka, sesungguhnya itulah masalah kita saat ini. Itulah masalah republik
Indonesia, negara yang berpenduduk lebih dari 220 juta. Pertama, kita membaca
dan mendengar dari media cetak dan elektronik bahwa begitu banyak rakyat di
negara kita menderita, tersiksa, teraniaya, mengalami berbagai macam belenggu
dan terikat dengan tali-tali kuk yang sangat tebal dan kuat. Mengapa demikian?
Salah satu penyebabnya adalah karena tidak tegaknya hukum di republik ini. Hari
demi hari kita menyaksikan penerapan hukum yang sangat memprihatinkan. Media
melaporakan bahwa di satu pihak, atas nama hukum, pelaku dan penguasa di
republik ini dapat menghabisi nyawa orang yang tidak bersalah. Tapi di pihak
lain, atas nama hukum, membiarkan orang jahat, perusuh dan koruptor bebas
berkeliaran! Melihat kenyataan tersebut, bukankah seruan untuk membuka belenggu
kelaliman serta melepaskan tali-tali kuk menjadi sangat relevan?
Selanjutnya, kita juga menyaksikan proses pemiskinan yang dialami oleh banyak
rakyat di republik ini. Jika kemiskinan tersebut diakibatkan oleh bencana alam,
seperti gempa bumi dan tsunami, barangkali itu dapat disebut sebagai 'nasib'
atau sejenisnya yang harus diterima dengan segala kepasrahan. Tetapi bagaimana
jika kemiskinan tersebut adalah akibat kepemimpinan yang tidak bertanggung
jawab, adanya keteledoran manusia dan tindakan sewenang-wenang yang berasal dari
sikap hati yang sangat jahat dan egois? Pasti sangat menyakitkan dan
menyesakkan hati. Namun apa pun penyebab dari kemiskinan tersebut, orang-orang
miskin perlu dan harus segera ditolong. Karena itu, seruan tersebut di atas
sangat penting untuk kita camkan dan taati, khususnya bagi kita yang sedang
mengejar puasa yang berkenan kepadaNya. Semoga.-
Posted by admin on October 17 2006 13:45:39 | 0 Comments · 6355 Reads -  |
|