 | TIDAK TEROMBANG-AMBING
Oleh: Pdt. Mangapul Sagala
Billy Graham, penginjil Amerika yang sangat terkenal itu pernah mengatakan satu
pernyataan yang sangat tidak mengenakkan di telinga jemaatnya. Saya yakin
pernyataan itu juga tidak enak di telinga kita, namun perlu. Mari kita simak
pernyataan berikut: "Sesungguhnya, banyak di antara kita hanya semakin tua,
tetapi tidak semakin dewasa." Maksudnya, usia terus bertambah, tapi sayangnya,
hal itu tidak diikuti dengan pertumbuhan rohani.
Bagaimana pendapat Anda terhadap pernyataan tsb? Sulit disangkal, bukan? Jika
kita berani jujur, maka kita juga mengamati hal yang sama. Kita tidak perlu
repot-repot mencari contohnya dalam diri orang lain, karena bisa jadi, diri kita
sendiri pun bisa dijadikan contoh. Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun,
ratusan, bahkan ribuan kali kita telah pergi beribadah. Tapi pertanyaan besar
adalah apakah kehidupan rohani kita menunjukkan ciri-ciri pertumbuhan rohani?
Apakah pengenalan kita kepada Yesus Kristus semakin dalam? Jika ya, apakah
pengenalan tersebut membuat kasih kita semakin bertumbuh kepadaNya? Jika
demikian, apakah kasih itu membawa kita semakin setia kepadaNya?
Lalu bagaimana sikap kita dengan Alkitab? Seiring dengan bertambahnya usia kita,
sejauh mana kita mencintai Firman Allah tersebut? Apakah pemahaman kita akan
Alkitab semakin meningkat dari waktu ke waktu? Kelihatannya, jawaban terhadap
pertanyaan tersebut bersifat negatif. Dalam beberapa kali kegiatan pembinaan,
penulis menemukan kenyataan yang menyedihkan. Cukup banyak anggota jemaat,
termasuk yang telah mencapai usia lanjut mengalami kesulitan untuk menemukan di
mana Kitab-kitab tertentu. Karena itu, ketika harus membaca kitab tertentu,
penulis harus menyebut pada halaman berapa kitab tersebut ditemukan.
Pertumbuhan rohani dan akibatnya
Seharusnya, kita semua bertumbuh dalam kerohanian kita. Mengapa? Karena
sesungguhnya, itulah ciri dari kehidupan. Semua yang hidup pasti bertumbuh.
Orang sakit pun bertumbuh, walau pertumbuhannya kelihatan lambat. Hanya mayat
yang tidak bertumbuh. Mayat memang tidak mungkin bertumbuh. Sebaliknya, akan
membusuk! Demikian juga dengan kerohanian kita. Jika kita mengaku bahwa kita
telah mengalami kelahiran kembali atau ciptaan baru dan sejenisnya, maka kita
harus bertumbuh. Jadi sebenarnya, yang kita perlukan bukan sekedar pernyataan
bibir bahwa kita ini telah bertobat atau telah menjadi manusia rohani, tapi
kenyataan dari pertobatan tersebut.
Sesungguh-sungguhnya, pertumbuhan itu sangat penting dan semakin mendesak untuk
kita alami. Karena dengan pertumbuhan, kita dapat bertahan dalam kehidupan yang
penuh kesulitan, tantangan dan godaan. Disadari atau tidak, kita semua sedang
mengarungi samudera kehidupan yang penuh badai dan topan. Tanpa adanya
pertumbuhan, maka kita akan hanyut, tenggelam dan hilang tanpa bekas.
Sehubungan dengan itu, kita mengerti jika Alkitab memerintahkan agar kita semua
bertumbuh, dan menjadi dewasa. Ya, dewasa penuh seperti Kristus. Allah tidak
menghendaki kita seperti anak-anak (Baca Efesus 4:13-14).
Ketika kita telah mencapai pertumbuhan dan kedewasaan iman, saat itulah kita
sanggup melawan berbagai angin pengajaran yang timbul di sekitar kita.
Barangkali ada yang bertanya: "Bukankah semua ajaran adalah sama sama dari
Alkitab? Buat apa takut? Jangan menghakimi, akh!" Jika ini yang menjadi
pertanyaan pembaca, maka perlu kita menyimak firman Tuhan berikut: "Sehingga
kita bukan lagi anak-anak yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin
pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang
menyesatkan" (Ef.4:14). Dari sini jelas, penyesat memang ada. Ajaran sesat juga
ada. Hal itu telah kita saksikan sepanjang sejarah Gereja. Karena itu, kita
harus waspada, jangan percaya sembarang pengajar, juga hati-hati terhadap
ajarannya.
Bagaimana membedakan ajaran yang benar dan sesat? Jawabnya, dengan jalan
bertumbuh dan menjadi dewasa, sehingga mampu "berpegang teguh kepada kebenaran
di dalam kasih" (Ef.4:15). Sesungguhnya, tanpa pertumbuhan dan kedewasaan
kerohanian, apa yang dapat kita harapkan dari seseorang? Menang melawan berbagai
pencobaan, godaan dan kenikmatan? Apa dasarnya untuk melawan dan menolak hal-hal
yang kelihatannya sangat membahagiakan itu? Tidak ada! Itulah sebabnya, tanpa
kedewasaan, misalnya, kita akan melihat siswa dan mahasiswa dengan mudah
melakukan korupsi kecil-kecilan alias menyontek. Dan kelak, ketika menjadi
pejabat, orang seperti ini akan siap melakukan korupsi besar-besaran. Jadi,
kita tidak perlu heran ketika seseorang dengan mudah menjual imannya demi
materi, ketenaran, jabatan, suami, istri dan sejenisnya. Karena hal itu
menceriminkan imannya. "Pohon dikenal dari buahnya", demikian penegasan Tuhan
Yesus.
Sebaliknya, orang seperti B. Singh di India dengan tegas menolak untuk
dimahkotai jadi pemimpin karena harus melepaskan imannya kepada Yesus. Itulah
yang dilakukan Rasul Petrus ketika dia menolak menyangkali Yesus dan siap jadi
martyr. Dan inilah seruan dari sang martyr tersebut"Dan jadilah sama seperti
bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang
rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh" (1Pet.2:2). Di akhir suratnya kembali dia
menyerukan: "...bertumbuhlah...dalam pengenalan akan Tuhan kita Yesus Kristus"
(2 Pet.3:18). -
Posted by admin on November 07 2006 12:56:02 | 0 Comments · 5741 Reads -  |
|  |