 | Dear bro. Andry,
Saya telah membaca SELURUH artikel itu, dari awal sampai akhir.
Memang, penemuan makam yg disebut sebagai makam keluarga Yesus di
Talpiot itu, KELIHATANNYA, menjadi kabar baik untuk Ioanes Rakhmat (IR)
dkk.
Perhatikan bagaimana dia menyusur argumentasinya mengenai 'objektivitas'
serta 'kebenaran' makam itu sebagai makam Yesus. Perhatikan juga
bagaimana dia mengutip teolog tertentu spt John Dominic Crossan untuk
mendukung peristiwa itu. Padahal, kita tahu, Crossan, jelas sangat
menolak fakta2 penting dalam Alkitab, termasuk kebangkitan Yesus.
Lalu perhatikan bagaimana dia menyimpulkan artikelnya itu dgn mengatakan
bhw "kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga tidak bisa lagi dipahami
sebagai kejadian-kejadian sejarah objektif, melainkan sebagai metafora"
(bagian penutup).
Jika dia berksesimpulan spt itu, tidak menjadi masalah. Itu adl haknya.
Namun, yang mengecewakan dari dia sebagai seorang pengajar dan yg disebut
ahli adalah bahwa dia menyamakan pandangannya tsb dengan pandangan penulis
Alkitab. "Para penulis Perjanjian Baru sendiri PASTI MEMAHAMI KEDUANYA
SEBAGAI METAFORA", selanjutnya dia menulis: "Jika tidak demikian, mrk
adalah orang2 yg tidak lagi memiliki kemampuan membedakan mana realitas
dan mana fantasi dan delusi".
Bagi saya, kesimpulan Ioanes Rakhmat tsb sungguh MENYESATKAN.
Mengapa? Karena jika kita baca Perjanjian Baru secara teliti, maka di
sana sulit menyimpulkan spt disimpulkan IR tsb. Penulis-Penulis PB,
baik keempat Injil, maupun surat-surat, DENGAN SANGAT JELAS menuliskan
bahwa kebangkitan itu adalah fakta dan realita: fakta kubur kosong, batu
terguling, kain kafan, kain pengikat kepala Yesus, penjaga2 yang ketakutan,
kesaksian Maria Magdalena, kesaksian Yohanes dan Petrus... kesaksian
Malaikat sendiri. Lalu, jangan lupa, kesaksian rasul Paulus pada 1 Kor.15.
Perhatikan juga tantangannya yang mengatakan bhw Yesus yang bangkit itu,
disaksikan oleh 500 orang (jadi bukan ilusi, bukan metafora atau pengalaman
subjektif). Lalu di sana Paulus menegaskan bahwa sekalipun saksi mata
kebangkitan tsb telah ada yang meninggal, namun kebanyakan dari mereka
"masih hidup sampai sekarang" . (baca ayat 5-7).
Pernyataan tsb penting,. Itu berarti, jika ada yg meragukan, maka silakan
tanya mrk yg adl saksi mata tsb.
Selanjutnya, ketika rasul Petrus berkhotbah tentang kebangkitan Yesus
(Kis.2) maka dia juga mengacu kepada kubur kosong. Untuk memperjelas
maksudnya, maka dia membandingkan dengan kubur Daud (bapa leluhur) yang
"masih ada pada kita sampai hari ini" (Kis.2: 29).
Sesungguhnya, banyak sekali contoh di dalam Alkitab yang mengatakan kubur
kosong dan kebangkitan Yesus tsb.
Lalu apa dasar IR untuk membangun argumentasinya? Laporan2 dan pandangan
orang2 yang bersifat spekulatif, dan bukan Alkitab!
Tidak ada dasar Alkitab yang mendukung pandangan IR tsb.
Tapi mengapa IR masih mengutip ayat-kisah org muda yang lari telanjang pada
Markus 14:51-52?
Jawabnya sederhana, karena dia ingin meneguhkan pandangannya dengan
berspekulasi, sekali lagi, berspekulasi terhadap ayat-ayat tsb.
Apakah IR sedang melakukan tindakan kontradiksi dengan melawan Alkitab di
satu sisi, tapi menerima di sisi lain? Bisa juga.
Dalam tindakan seperti itu, mari kita lihat hal ini: Apa yg jelas dikatakan
Alkitab, yaitu tentang kebangkitan Yesus, ditolaknya. Tapi, apa yg tidak
ditegaskan Alkitab, bahwa orang telanjang tsb di atas (Mark.14) tidak pernah
dikatakn sebagai anak Yesus. Bagi IR, dengan sangat berani dia menulis
"secara tersamar ini sebetulnya mengacu kepada Anak Yesus".
Lalu bagaimana?
Memang, kita harus kembali kepada Alkitab.
Mari kita bangun pandangn dan teologia kita berdasarkan Alkitab, buku yg
telah berusia lebih dari dua ribu tahun tsb.
Tapi tidak cukup hanya meyakini Alkitab tsb sebagai benar. Tapi kita harus
belajar sungguh2. Dengan demikian, kita semakin teguh dan dapat menolong umat
lainnya.
Sebenarnya, masih banyak hal yg mau saya tanggapi dari artikel itu. Tp, tdk
usah buang waktu ya.
Satu hal lagi, mari kita ingat kenyataan ini: Alkitab menegaskan bhw Yesus mati
di Yerusalem. Dan ketika Petrus berkhotbah tentang kebangkitan Yesus (Kis.2),
hal itu juga terjadi di Yerusalem. Khotbah itu didengar oleh banyak orang,
dari berbagai penjuru, termasuk orang2 Yerusalem.
Apakah khotbah tsb adalah khotbah yg bersifat metaphor?
Apkah pendengar juga mengerti hal itu sbg metaphor?
Tentu saja tidak.
Jika tidak, mengapa seluruh penduduk dunia, termasuk orang2 Yerusalem tidak
segera menyanggah Petrus tsb dan mengatakan bhw sebenarnya mrk memiliki kubur
Yesus?
Lalu, mengapa penulis Injil berani mengatakan bhw kubur Yesus dijaga (sesuai
perintah gubernur Pilatus) (Mat.26:62-66) dan ketika Yesus bangkit, mrk semua
ketakutan? (27:5). Jika itu berita bohong, apakah tidak sebaiknya mereka
menggugat dan penjaga2 tampil ke depan?
"Tetapi yang benar adalah bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang
mati..." (1Kor.15:20).
Sekian, kiranya semua ini menjadi berkat bagi kita semua.
Salam kebangkitan,
Mangapul Sagala.
---
> Dear All,
>
> Bagi segelintir orang yang sudah mengenal Pdt. Dr. Ionos Rakhmat,
> tokoh GKI, tentu tidak kaget membaca pernyataannya dalam "Kompas"
> hari ini hal.43 : "Kebangkitan dan kenaikan tidak harus membuat
> jasad Yesus lenyap dari makamnya". Tetapi bagi sebahagian besar umat
> Kristen yang setia beribadat dan menaruh percaya terhadap kesaksian
> Injil Yeus Kristus, pasti terkejut bahkan mungkin bisa goncang imannya
> manakala mengetahui seorang pendeta senior yang ditokohkan gereja
> (denominasi) besar semacam GKI (Gereja Kristen Indonesia), berbicara
> seperti itu.
>
> Bagi Ionos Rahmat, kebangkitan tubuh Tuhan Yesus hanya dilihat sebagai
> pengalaman subjektif atau fantasi semata. Sementara keempat Injil jelas
> menyaksikan berita kebangkitan tubuh (kubur yang kosong).
>
> Ketika membaca artikel Dr. Ionos ini, teringatlah saya pada pertemuan
> dengan Ibu Dorothy pada Sabtu, 24 Maret ybl; dimana dalam pembicaraan
> di sekitar pelayanan ke "seberang", tiba-tiba beliau mengeluarkan
> pernyataan : " GKI sekarang tidak lagi mempercayai Alkitab". Saya
> yakin Ibu tidak sembarangan berpendapat demikian, tetapi sudah melalui
> pengamatan yang lama.
>
> Bagaimana kita meresponi pandangan-pandangan liar Dr. Ionos tsb, khususnya
> respons dari teman-teman yang aktif melayani di berbagai gereja dalam
> denominasi GKI, entah sebagai penatua, diaken dan pengurus komisi? Diam
> saja? Bagi saya sikap 'diam saja' adalah salah satu wujud sikap/perilaku
> 'Comfort Zone Oriented'.
>
> Dalam kaitan artikel ini, makin jelas bagi dan betapa pentingnya membangun
> jaringan di antara teman-teman mantan PMK yang sekarang melayani di gereja-2,
> sehingga merasa makin mantap mengusahakannya bersama dengan teman-teman
> yang sevisi (we are on the right track). Salah satu fungsi Jaringan ini
> adalah MENGELIMINIR kalau belum bisa menghentikan pengaruh pandangan semacam
> yang tsb di atas. Hal ini tidak mungkin dilakukan sendiri-2. Faktanya,
> sebagian besar teman-2 mantan PMK yang menjadi majelis gereja kurang
> bahkan tidak melihat betapa strategisnya kehadiran mereka sebagai anggota
> majelis untuk memberi pengaruh positif terhadap arah yang ditempuh gereja.
> Yang dominan diketahui adalah teman-2 tsb hanya "bermain" sendiri, banyak
> contoh-2 tentang hal ini khususnya yang terjadi dengan teman-2 di GKI.
> Perlukah penyegaran kembali Visi PMK/Perkantas? Dimana dan bagaimana
> mewujudkan 'menjadi berkat bagi gereja'? Tentu tidak dengan menjadi 'anak
> manis' atau sekedar robot yang dikendalikan oleh operator-2 (tokoh-2 gereja).
>
> Dalam Kamp Alumni Perkantas Jakarta tahun lalu (sekarang namanya 'KTA'),
> panitia sudah mengingatkan dan mengajak teman-teman pelayan gereja untuk
> membangun jaringan tsb, baik sebelum Kamp, didalam acara Kamp melalui Diskusi
> Kelompok dan sesudah Kamp. Dalam Kamp Tahunan Alumni tahun ini (13-15 Juli),
> hal ini mendapat porsi dan perhatian yang lebih besar.
>
> Salam,
> andry
Posted by admin on April 10 2007 12:26:19 | 2 Comments · 5169 Reads -  |
|  |