 | Haleluya, Selamat Paskah bagi kita semua.
Kiranya seperti rasul Paulus, kita menyerukan: "Yang kukendaki adalah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya" (Fil.3:10).
>Saya kira mereka yang pernah kuliah di STT Jakarta tahu betul tentang IR. Ia dulu seorang non-Kristen, pernah "stress" waktu ambil doktor di Belanda, tapi akhirnya selesai juga.
=MS:
Setahu saya, dari Belanda tidak selesai.
Dia mendapat doktor dari almamaternya, yaitu dari STT Jakarta.
Ini satu jalan keluar yang baik baginya, di mana almamater
di mana dia sendiri mengajar meluluskannya.
>VS: Kalau khotbah, setahu saya ia tidak pernah khotbah di gereja. Tapi, nggak tahulah akhir2 ini gimana.
MS: Setelah tulisannya itu, bbrp teman yg jadi majelis di GKI kirim sms kepada saya mengatakan kekecewaannya. Dalam salah satu sms, seorang dari mrk menginfokan bhw memang kontraknya di STT akan segera berakhir (ini perlu dicek dgn teman2 di STT, spt kpd Dr. Robert Borong. Bung Andry, bisa memastikan hal ini) Karena itu, menurut rekan tsb lagi, synode GKI menawarkan kepada jemaat2. Istilah majelis tsb, IR lagi di "sale". "Tapi, sampai sekarang belum ada jemaat yg mau", tulisnya.
Meresponi pernyataan teman tsb, saya mengatakan, jemaat yg mau menerima dia dgn pemahaman teologia yg demikian, saya kira, merupakan tindakan bunuh diri rohani. Apa artinya pengakuan iman diucapkan tiap-tiap Minggu, jk tdk percaya Kristus yang bangkit secara objektif?
>VS: Dalam posting lain ada tulisan dari Bung Donny Wiguna, tapi saya tidak tahu apakah tulisan itu tersebar luas atau tidak (di luar milis ini).
MS:
Hi bro. Don, apakah kau membaca posting ini? Tlng kirim ke sini posting tsb spy
rekan2 di sini juga membacanya.
>Saya usul, begini saja: gimana kalau FDA atau kelompok lain menyelenggarakan sebuah seminar di seputar isu ini. Narasumbernya: 1) Pdt. IR; 2) orang2 yang kompeten di bidang Perjanjian Baru (Pdt. Mangapul Sagala MTh atau Armand Barus PhD atau siapa lagi?).
Ini harus cepat, supaya isu liar ini tidak bergulir semakin jauh ke mana2.
MS:
Jika ini terjadi, tentu IR AKAN SANGAT SENANG DAN PUAS. Sekiranya dia
bisa membaca posting2 di milis kita ini, maka saya duga, dia juga akan senang,
krn kita berhasil direpotkannya. Meminjam istilah alm Dr Eka Darmaputera, IR memang suka sensasi. Sedangkan kita? Jadi, hati2 kita terjebak sensasinya.
Sekitar lima thn yl, ketika dia masih di Belanda, dia bikin heboh berbagai
milis krn posting2nya yg liberal. Karena itu, bbrp teman mengirim posting itu
kepada saya, dan minta menanggapi (ketika itu saya masih di TTC).
Bbrp kali saya dan IR 'berdiskusi' lewat japri. Yg dibahas tentang berbagai tema penting, antara lain: Otoritas Alkitab, Keunikan Yesus, dll.
Kami sempat 'berdiskusi' , kalau tidak salah, sampai 7 kali.
Saya kecewa karena diskusi itu berakhir dgn mood yg tidak enak. Saya melihat bhw dia bukan tipe orang yg mau berdiskusi, dalam arti mau mendengar pihak lain.
Karena kami sama2 mendalami Injil Yohanes, maka ketika itu, saya mencoba mengcounter pandangan2nya dengan menyodorkan pandangan2 para ahli Yohanes spt R. Schnackenburg, Raymond Brown, C.K. Barrett, dll.
Sayang sekali, dia mengelak dan mengakhiri diskusi secara sepihak.
Namun demikian, saya senang karena ketika itu saya berhasil mengetahui posisi teologinya.
Bbrp pernyataannya antara lain:
1. "Saya tidak menerima apa yang namanya Otoritas Alkitab"
2. "Saya tidak menerima istilah keunikan Kristus. Tidak ada itu keunikan Kekristenan, juga tidak ada keunikan Kristus"
3 "Saya ini bukan teolog evangelical. Saya penganut pluralist."
Itu beberapa pernyataan yg masih saya ingat.
Jadi, posisinya, jelas sekali bukan? Dengan demikian, kita tidak perlu heran membaca tulisan2nya.
Pada tahun 2003, saya mengunjungi kampusnya di Kampen (Belanda) dan bertemu langsung dengan seorang pdt GKI yg sedang studi di sana. Ketika itu, beliau menjelaskan semua ttg IR. Dari sana, saya makin memahami siapa IR.
Mengenai rencana mengadakan seminar dengannya, apa gunanya? Untuk 'mendidik' atau 'menobatkannya'? Apakah mungkin? Pandangannya tsb -termasuk pandangannya bhw kebangkitan Kristus merupakan metaphora, sdh merupakan pandangan yg sdh lama dianutnya. Dia mengikuti teolog2 sebelumnya. Pandangan Ludemann, Dominic Crossant, lebih radikal dari padanya.
Tentu, kita tidak perlu buang2 waktu sekedar menyatakan atau membuktikan kesalahnya, di hadapannya.
Dan lagi, apa yg mau dicounter? Inti artikel yg menghebohkan itu adl soal kebangkitan metaphora tsb, bukan? Atau saya salah? Jk demikian, sederhana saja. Sbgmn saya tulskan sebelumnya, Alkitab dengan jelas memberikan kesimpulan yg berbeda dgn pemahamannya ttg kebangkitan yg metaphora tsb.
Atau kita mau repot dengan pernyataannya seolah-olah bhw makam itu benar2 makam Yesus?
Jk demikian, mari kita baca lagi Alkitab kita. Alkitab menuliskan bahwa kebangkitan Yesus tersebut disertai hal-hal penting berikut:
Pertama, adanya gempa bumi yg hebat (Mat.28:2).
Jika ini tidak benar, maka pembaca yang anti atau memusuhi Injil dengan mudah mengatakan bhw tidak benar ada gempa bumi ketika itu.
Kedua, fakta batu terguling ditulis oleh ketiga Injil Sinoptik (Mat.28:2; Mark. 16:3; Luk.24:2). Jk ternyata, batu itu masih di sana, apakah Injil masih bertahan sampai sekarang?
Ketiga, perhatikan soal kain kafan dan kain peluh yg terletak di kuburan (Yoh.20:5,7)
Sebenarnya, apa yang sedang terjadi? Sederhana saja: Kristus bangkit. Kubur kosong. Itulah pernyataan semua penulis Injil. Maksudnya? Lukas menulis: "Mereka tidak menemukan mayat Yesus" (Luk. 24:3). Mereka hanya menemukan kain kafan dan kain peluh.
Bagaimana respon murid2 dan perempuan2 ketika itu? Mrk percaya (Yoh.20:8).
Lalu bagaimana reaksi 'musuh2' Injil terhadap peristiwa kubur kosong tsb? Nah, ini yang menarik. Mrk juga menerimanya. Mrk tidak menyangkali fakta kubur kosong tsb, tapi dengan cara yg berbeda, yaitu apa yg disebut Matius sebagai dusta mahkamah agama bhw mayat Yesus dicuri murid2. (28:11-15).
Sebenarnya, dusta itu sulit diterima, karena kubur Yesus dijaga sangat ketat; juga ada batu besar yg diguling dan disegel dengan meterai! (Mat.27:66). Siapakah murid2 shg dapat melakukan hal itu? Terlalu kecil, bukan? Melakukan hal itu adalah suatu kemustahilan.
Walau demikian, satu hal penting kita peroleh dari sini: bhw hal itu menegaskan bhw dari pihak mahkamah agama dan penjaga2 kubur Yesus, ada pengakuan bhw mayat Yesus sudah tidak ada. Itu jg yg ditegaskan oleh Injil Lukas: "tidak menemukan mayat Yesus". (Luk.24:3).
Mari kita lihat kenyataan ini lagi: laporan ini tidak pernah dibantah di abad pertama, di mana ketika itu, soal itu merupakan issu sentral.
Lantas bagaimana menyikapi laporan mayat Yesus (makam Yesus) ditemukan setelah melewati tiga millenium?
Akhirnya, siapa yg mau 'ribut' dgn IR dgn berseminar bersama-sama?
Saya tersenyum ketika seorang teman lain (jg majelis GKI) menulis sms spt ini:
"IR sdh menulis pandangannya. Masalahnya adalah apakah ADA kaum Injili yang sanggup mengimbanginya?"
Sms itu saya jawab dengan: "Menurutmu, TIDAK ADA?". Sayang, dia tdk menjawab. Kelihatannya, bbrp org telah terkecoh dengan kepakaran IR.
Baiklah. Apakah rekan2 sudah membaca disertasinya yang sdh diterbitkan tsb? Jk belum, silakan baca bagian introductionnya. Di sana dia menulis ucapan terimakasih kepada org2 tertentu termasuk seorang rekan, yang ketika itu menjadi salah seorang penguji disertasinya.
Org itu adl Anwar Tjen, seorang doktor dari Univ. Cambridge. Anwar Tjen, Ph.D mengambil masternya di UTS, Amrik, di bawah salah seorang pakar PB dunia, yaitu Paul Achtimeier.
Jadi, soal kepakaran, dia tdk perlu diragukan. Dia juga sdh pernah menulis di kompas. Jika rekan2 tetap merasa perlu mengadakan seminar bersama IR, maka baik sekali jika kita mengundang dia sebagai nara sumber. Tapi saya ragu apakah Pdt Anwar mau meladeni IR. Bagaimana soal Armand Barus, Ph.D? Saya kira, hasilnya sama.
Tapi, jk kita mau mendidik jemaat mengenai Kristologi, khususnya kebangkitan, saya yakin, mereka akan menyambutnya dengan senang hati.
Mau? Jika mau, mari kita bentuk panitianya.
Sekian,
Mangapul Sagala.
Posted by admin on April 10 2007 12:36:31 | 2 Comments · 4033 Reads -  |
|  |