 | Sinar Harapan, 23.6.07
BAGAIMANA BERTEOLOGI?
Dua minggu yang lalu, diadakan sebuah pembinaan di sebuah Gereja
di wilayah Cinere. Sebenarnya, Gereja tsb sudah rutin mengadakan pembinaan
bagi warga jemaat, yang disebut dengan PTJ (Pendidikan Teologi Jemaat).
Itulah sebabnya, anggota jemaat yang memang rindu untuk dibina, biasanya
menyambut PTJ dengan sukacita dan penuh semangat.
Namun kelihatannya, PTJ pada saat itu, lain dari biasanya. Beberapa anggota
jemaat kurang bersemangat dan cemas menyambutnya. Mengapa? Menurut pesan
singkat (sms) yang diterima oleh istri saya, seorang anggota jemaat
mengatakan keheranannya dengan pembicara yang diundang. "Masak sih orang
tersebut diundang di Gereja? Bukankah dia telah membingungkan jemaat dengan
artikelnya yang dia tulis pada sebuah media pada waktu yang lalu?" demikian
bunyi pesan singkat tsb.
Saya mengerti kebingungan yang ditunjukkan oleh orang-orang tsb. Jujur saja,
saya juga heran dan memertanyakan motivasi mengundang pembicara tersebut.
Mengapa? Karena lebih dari sepuluh tahun yang lalu, saya telah mengenal
orang tsb sebagai seorang penulis dan pembicara yang cukup provokatif. Hal
yang sama ditegaskannya ketika beberapa kali berkomunikasi dengan saya
melalui surat elektronik (email). Orang tersebut seringkali mengatakan atau
menuliskan pandangan yang bertentangan dengan apa yang telah lazim diyakini
oleh jemaat, yang juga berbeda dengan pernyataan Alkitab itu sendiri. Karena
itu, artikel-artikel yang dikirimnya atau yang dikirim oleh para pengagumnya
ke berbagai groups atau mailing lists seringkali ditanggapi dengan
pro-kontra.
Demikian juga, artikel yang ditulisnya dua bulan yang lalu di sebuah media
nasional telah membingungkan banyak orang, khususnya yang belum mengenalnya
secara pribadi. Bagaimana tidak? Salah satu pengakuan iman Gereja yang
paling mendasar adalah tentang kebangkitan Yesus dari kubur. Hal itulah yang
diikrarkan oleh jemaat setiap hari Minggu. Namun demikian, dalam sebuah
tulisannya pada media tsb di atas, orang tsb menegaskan hal yang berbeda:
tulang belulang Yesus ditemukan di Talpiot; kebangkitan Yesus merupakan
metafora, kiasan, "bukan kejadian sejarah objektif" (Baca, Kompas, 5 April
2007).
Membangunkan atau Membingungkan?
Kembali kepada pembinaan tsb di atas. Rupanya, bukan saja
pembicaranya yang mengundang tanya. Tema yang diberikan juga demikian: Injil
Yudas. Apa tujuannya memberikan tema tersebut kepada jemaat? Menurut seorang
majelis, tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa Injil Yudas itu,
menyesatkan. Injil Yudas tersebut tidak boleh disejajarkan dengan keempat
Injil: Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Dengan demikian, jemaat diharapkan
semakin menghargai dan mencintai Alkitab.
Lalu, bagaimana hasilnya? Nah, di sinilah masalahnya. Sebagaimana telah saya
duga sebelumnya, dalam pembinaan tsb, pembicara telah mengatakan
kalimat-kalimat yang biasa disebut oleh teolog-teolog liberal, tapi tidak
biasa didengar jemaat. Dia juga menegaskan kemungkinan melakukan
rekanonisasi Alkitab. Maksudnya, menambah atau mengurangi kitab-kitab dalam
Alkitab (66 kitab yang terdiri dari 39 PL + 27 PB).
Dalam makalah yang diberikan, pembicara dengan tegas mengatakan kesalahan
penulis-penulis Alkitab, seperti Lukas dan Yohanes memerlakukan Yudas.
Menurut pembicara, penulis-penulis Injil telah mendiskreditkan Yudas sebagai
penghianat; padahal, bukan. Sehubungan dengan itu, ketika Lukas menulis
kisah Iblis yang memasuki Yudas (Lukas 22:3), kelihatannya, pembicara
mencoba membela Yudas dan menyalahkan Lukas. Itulah sebabnya, dia menulis:
"Gambaran Yudas yang dirasuk Iblis dengan demikian adalah gambaran yang
sangat menghancurkan Yudas" (halaman 5). Selanjutnya, ketika tiba kepada
Injil Yohanes, dia menulis: "Di dalam Injil Yohanes, pendiskreditan atas
Yudas terjadi menyeluruh. Yudas adalah Iblis..." (halaman 6). Selanjutnya,
pembicara menegaskan bahwa untuk itulah Injil Yudas ditulis, yaitu untuk
meluruskan pengajaran yang salah tersebut. "Dalam Injil Yudas, perbuatan
penyerahan diri Yesus itu dipuji, dan Yudas menjadi seorang hero..."
(halaman 10).
Dengan pernyataan-pernyataan tersebut di atas, tentu saja, pembinaan jemaat
yang diharapkan membangunkan iman jemaat, dalam kenyataannya, tidak
demikian. Jemaat malah dibingungkan. Hal itu nampak jelas dari
pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan. Misalnya, seorang bertanya: "Jika
Injil Yudas adalah seperti yang bapak sampaikan, di mana posisi bapak?
Bagaimana sikap bapak terhadap kanon Alkitab yang sudah ada?" Sementara
itu, seorang yang sudah lanjut usia maju ke depan dan dengan nada yang
emosional berkata: "Dalam usia saya seperti ini, belum pernah saya
mendengarkan pengajaran seperti malam ini. Belum pernah saya mendengar
adanya Injil lain selain Injil yang kita miliki. Saya tidak rela jika ada
Injil lain yang disejajarkan dengan Injil yang telah kita miliki".
Mengapa dapat terjadi seperti hal di atas? Apakah hal-hal seperti itu dapat
dibiarkan demi kebebasan berekspressi dengan berbagai pemahaman teologi yang
dianut? Saya harus menjawab dengan tegas: tidak! Hal itulah yang
diperingatkan rasul Paulus kepada orang-orang yang merasa bebas
mengungkapkan imannya di Korintus: "Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini
jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah" (1Kor.8:9). Seruan
tersebut penting untuk kita hayati bersama, khususnya para pejabat tinggi
Gereja, seperti pendeta dan majelis. Seruan tersebut sangat penting dan
relevan diperhatikan demi pertumbuhan iman jemaat. Seorang professor di
Trinity Theological College pernah menasehatkan mahasiswanya: "Anda bebas
berteologi. Tidak ada seorang pun yang melarangmu. Tetapi berhati-hatilah,
jangan sampai anda menghancurkan iman jemaat". -
Posted by admin on July 17 2007 13:00:43 | 1 Comments · 1001 Reads -  |
|  |