 | KEHIDUPAN SEORANG PELAYAN
Oleh. Pdt Mangapul Sagala.
Tema tersebut di atas merupakan tema yang sangat penting dan relevan untuk
dibahas pada masa kini. Tema itulah yang kami bahas bersama Dr SAE Nababan,
dalam seminar para pelayan Tuhan di Palembang pada waktu yang lalu.
Mengapa penting? Tidak dapat disangkali bahwa akhir-akhir ini, kehidupan
para rohanian serta pelayan-pelayan Tuhan menjadi sorotan umum. Hal itulah
yang cukup sering ditemukan di dalam berbagai media di mana jemaat
mengeluhkan kehidupan pelayan di Gerejanya. Dalam sebuah kesempatan tanya
jawab (dialog interaktif), pada sebuah radio swasta, penulis juga menerima
berbagai keluhan dan pertanyaan di seputar kehidupan pelayan Tuhan yang
tidak memberi kesaksian yang benar, baik dalam kehidupan keluarga, keuangan,
ambisi-ambisi negatif terselubung, terlibat dalam perselingkuhan, dll.
Ada satu hal yang 'menarik' untuk diamati. Ada sementara orang yang suka
menyebut dirinya sebagai pelayan Tuhan atau hamba. Di sebuah Gereja
tertentu, seorang dapat dengan mudah menjadi pendeta, tanpa melewati waktu
yang cukup lama serta adanya ujian serta seleksi yang cukup memadai.
Berbagai kategori diberikan kepada mereka, seperti pendeta muda, pendeta
pembantu, pendeta senior, serta sejenisnya. Tetapi apa pun jenis atau
kategori yang diberikan, yang jelas, mereka itu semua merasa dirinya sebagai
pelayan Tuhan. Dan memang, kelihatannya, mereka sangat senang disebut
sebagai pelayan Tuhan atau hamba Tuhan. Sayangnya, walau senang disebut atau
menyebut diri sebagai pelayan atau hamba, kadang kala, sikap seorang pelayan
atau hamba tidak terlihat jelas. Yang nampak dengan nyata adalah sikap
seperti tuan, ngebos dan ingin dilayani. Kontradiksi? Benar. Namun, itulah
kadangkala kenyataan yang terjadi. Lalu, bagaimanakah sesungguhnya kita
menghayati pelayanan tersebut?
Pelayanan adalah Penyembahan
Dalam Perjanjian Lama, kata penyembahan (Ibrani) adalah avodah. Kata ini
mengandung makna vertikal dan horizontal. Artinya, di satu sisi, avodah
mengacu kepada relasi umat yang menyembah Allah. Di sini ditunjukkan sikap
hormat kepada Allah, yang seringkali dinyatakan dalam bentuk sujud menyembah
dengan kening sampai menyentuh tanah/lantai.
Di sisi lain, kata avodah mengacu kepada sikap seseorang yang pergi melayani
Allah, sebagai akibat dari ketaatannya pada perintahNya. Apa saja yang Allah
perintahkan untuk dilakukan untuk kebaikan umatNya akan dilakukan dengan
segala ketaatan dan penyembahan. Jadi, di sini kita belajar bahwa kedua hal
ini, yaitu penyembahan dan pelayanan, bukan merupakan dua hal yang terpisah,
tetapi merupakan satu bagian.
Jikalau dalam bahasa Inggris kita menemukan dua istilah, yaitu worship dan
serve, demikian juga dalam bahasa Indonesia: menyembah dan melayani, yang
mengacu kepada dua hal yang berbeda, tidak demikian dengan bahasa Ibrani,
avodah. Karena istilah ini mencakup dua hal di atas. Atau lebih tepatnya,
istilah ini diungkapkan dalam dua bentuk kegiatan tsb di atas. Ini dapat
diibaratkan seperti satu keping uang dengan dua mata coin. Itulah sebabnya,
pelayanan yang benar kepada sesama (horizontal) harus keluar dari relasi
yang benar dengan Allah, yaitu ketika secara sadar kita menyatakan kasih dan
penyembahan kita kepadaNya (vertikal) melalaui pelayanan tsb. Dengan
demikian, tidak akan ditemukan kasus-kasus di mana pelayan memperalat
orang-orang yang dilayaninya untuk kepentingan diri sendiri, terlebih lagi
merusak serta mencemarkannya.
Pelayanan adalah being bukan sekedar doing
Mengatakan diri sebagai seorang pelayan Tuhan serta melakukan berbagai
perbuatan (doing) dan kegiatan rohani, memang tidaklah terlalu sulit. Namun,
hal itu tidak menjamin keberadaan (being) orang tersebut. Hal itulah yang
dihadapi oleh rasul Paulus. Ketika melayani di jemaat Korintus, dia
menyaksikan pengajar serta pelayan-pelayan palsu. Dalam kondisi demikian,
nampaknya, dia tergoda dan dituntut untuk memberikan semacam surat
rekomendasi yang membuktikan kerasulan atau otoritasnya. Namun demikian, dia
menolak melakukan hal itu. Sebaliknya, dia menegaskan dengan suatu
pernyataan penting: "...kamu tertulis dalam hati kami... karena telah
ternyata bahwa kamu... ditulis dengan pelayanan kami (2 Kor.3:2-3). Dari
pernyataan tsb, kita memperhatikan betapa beraninya rasul Paulus menyatakan
dua hal penting yang merupakan ciri dari seorang pelayan sejati. Pertama,
dia menunjuk kepada dirinya sendiri: "kamu tertulis dalam hati kami". Di
sini rasul Paulus menegaskan bahwa dia bukan sekedar menjadikan jemaat
Korintus sebagai objek pelayanan- misalnya untuk cari untung, sebagaimana
dilakukan pengajar dan pelayan lain yang telah menyusup ke dalam jemaat.
Tetapi dia berani mengatakan bahwa jemaat ada dalam hatinya.
Pernyataan tersebut menunjukkan menyatunya kegiatannya dengan dirinya,
karena kegiatan yang dilakukannya keluar dari hatinya yang sangat dalam.
Pada fasal sebelumnya dia telah menyatakan hal ini: "... Allah adalah
saksiku -Ia mengenal aku- bahwa aku mengasihi kamu" (2 Kor.1: 23; 2:4c).
Karena kasih inilah maka rasul Paulus tidak mau menyakiti hati jemaat dan
rela mencucurkan air mata (2:1-4).
Bukankah kualitas hati seperti ini sangat luar biasa? Adakah bukti lain yang
diperlukan melebihi bukti diri pelayan itu sendiri yang sedemikian mengasihi
jemaatnya? Apa yang terjadi bila sebaliknya, di mana pelayan hanya giat
melayani tanpa kasih, bahkan menjadikan jemaat sebagai sapi perahan? Semoga
Bapa sorgawi senantiasa menjaga dan menguduskan semua pelayanNya sehingga
mereka tetap teguh berdiri di tengah badai, dan tidak menjadi batu
sandungan. Kiranya Dia, yang pada abad lalu telah mengaruniakan
pelayan-pelayan sejati seperti Nomensen ke tanah Batak, Denninger ke Nias,
Joseph Kam ke Maluku, Sadrakh ke Jawa, akan terus mengaruniakannya pada masa
kini.-
Posted by admin on July 17 2007 13:04:09 | 0 Comments · 3050 Reads -  |
|  |