 | AWASILAH DIRIMU DAN AWASILAH AJARANMU
Pdt. Mangapul Sagala
"Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam
semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan
dirimu dan semua orang yang mendengarkan engkau" (1Tim.4: 16).
Pengantar
Tema tersebut di atas telah ditetapkan oleh Perkantas untuk menjadi
tema hari ulang tahun ke-30 ini. Seingat saya, sebenarnya, selain dari
tema tersebut di atas, ada dua tema lain yang diusulkan dalam Rapat
Kerja Nasional (Rakernas) pada bulan November 2000 lalu. Namun,
setelah melalui pergumulan dan diskusi yang hangat ketika itu,
akhirnya tema tersebut di atas disepakati untuk menjadi tema perayaan
HUT ke-30 ini. Apa yang melatarbelakangi pemilihan tema tersebut? Hal
apakah yang dapat kita pelajari dari tema tersebut, sehingga dia layak
dijadikan tema pada perayaan khusus ini? Hal itulah yang akan kita
bahas dalam artikel ini.
Penggalian
Sebenarnya, ada beberapa hal penting yang menarik untuk dipelajari
dari tema tersebut di atas. Pertama, perintah ini diberikan oleh rasul
Paulus kepada anak rohaninya Timotius pada abad pertama. Ini berarti
bahwa usia perintah ini sudah sangat lama, 20 abad. Karena itu,
mungkin ada yang berkata bahwa karena ini diperintahkan pada abad
pertama, maka tidak lagi relevan dengan pergumulan gereja masa kini.
Namun hal itu tidak benar. Karena pada kenyataannya, seruan tersebut
di atas merupakan seruan Alkitab sepanjang sejarah gereja, mulai dari
Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru. Sebagai contoh kita dapat
membaca peringatan nabi Musa terhadap penyembahan berhala dan ibadah
yang sesat (Ulangan 12: 29-13: 18). Dalam bagian ini Musa
memperingatkan adanya pengajar dan nabi-nabi yang menyesatkan. Karena
itu, nabi Musa memerintahkan: "Maka janganlah engkau mendengarkan
perkataan nabi atau pemimpi itu... Tuhan, Allahmu, harus kamu ikuti,
kamu harus takut akan Dia, kamu harus berpegang pada perintahNya..."
(Ul.13: 3-4). Kita juga mempelajari bahwa Nabi besar Yesaya dan
Yeremia juga berjuang melawan ajaran sesat. Kita dapat membaca seruan
Allah melalui nabi Yesaya untuk menentang pemimpin-pemimpin yang fasik
(Yes. 56:9 - 57: 5). Sangat menyedihkan melihat kenyataan tentang
keadaan pemimpin-pemimpin tersebut. Allah bersabda: "Sebab
pengawal-pengawal umatKu adalah orang-orang buta, mereka semua tidak
tahu apa-apa, mereka semua adalah anjing-anjing bisu, tidak tahu
menyalak... anjing-anjing pelahap yang tidak tahu
kenyang...masing-masing mengejar laba, tiada yang terkecuali" (Yes.56:
10-11). Demikian juga, kita dapat membaca dalam kitab Yeremia tentang
perilaku nabi-nabi yang menjijikkan (23: 9-40). Allah bersabda:
"Sungguh, baik nabi maupun imam berlaku fasik; di rumahKupun Aku
mendapati kejahatan mereka...Tetapi di kalangan para nabi Yerusalem
Aku melihat ada yang mengerikan: mereka berzinah dan berkelakuan tidak
jujur; mereka menguatkan hati orang-orang yang berbuat jahat, sehingga
tidak ada seorang pun yang bertobat dari kejahatannya; semuanya mereka
telah menjadi seperti Sodom bagiKu dan penduduknya seperti Gomora"
(Yer.23: 11, 14).
Selanjutnya, seruan yang sama untuk waspada dan menentang segala
penyesatan juga kita lihat dalam khotbah-khotbah Tuhan Yesus, serta
tulisan para rasul. Menarik sekali memperhatikan bahwa seruan untuk
waspada terhadap pengajar dan nabi-nabi palsu sering sekali muncul
dalam khotbah Tuhan Yesus, mulai di awal pelayananNya hingga di akhir
pelayanan-Nya. Sebagai contoh, kita membaca hal tersebut dalam
khotbah-Nya tentang akhir zaman. Tuhan Yesus malah menegaskan bahwa
salah satu tanda sebelum kedatangan-Nya yang kedua adalah adanya
roh-roh penyesat. Itulah sebabnya ketika murid-murid menanyakan tanda
kedatangan-Nya kelak, Dia memberi peringatan: "Waspadalah supaya
jangan ada orang yang menyesatkan kamu! (Mark.13:5). Peringatan
tersebut begitu serius, sehingga Tuhan Yesus perlu mengulanginya
berkali-kali -dengan menggunakan kata yang sama blepete- di ayat 9, 23
dan 33. Demikian juga, rasul Petrus menulis: "Mereka akan memasukkan
pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan
menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan
demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka sendiri" (2
Pet.2: 1).
Kedua, dari perintah ini kita melihat pentingnya kesatuan antara
kehidupan pelayan dan pengajaran. Di sini rasul Paulus menegaskan
bahwa kehidupan tidak boleh dipisahkan dari pengajaran. Perhatikan
kata "dirimu sendiri" (Yunani: heauton) yang berarti penegasan. Rasul
Paulus menegaskan bahwa Timotius perlu sekali memperhatikan dirinya
sendiri, bukan hanya memperhatikan diri orang lain, atau jemaat pada
umumnya. Barangkali ada yang bertanya: "Apakah mungkin seseorang
memiliki ajaran yang benar, tetapi tidak memiliki perilaku yang
benar"? Jawabnya, mungkin. Memang, seharusnya apa yang diketahui dalam
ajaran (doktrin) akan diwujudkan dalam perilaku. Namun pada
kenyataannya, tidak selamanya demikian. Itulah dosa (Yunani: hamartia)
yang berarti menyimpang dari sasaran. Karena itu, masalah dosa
seringkali bukan masalah ketidaktahuan, melainkan ketidakmampuan. Hal
ini yang disebutkan dengan manusia berada dalam perbudakan dosa: tahu
yang baik tetapi tidak mampu melakukannya. Tahu yang jahat, tetapi
tidak mampu menjauhkannya. Hal inilah yang dikritik oleh Allah secara
keras baik dalam Perjanjian Lama, sebagaimana telah kita lihat di atas
tadi. Hal ini juga yang dikritik oleh Tuhan Yesus dalam Perjanjian
Baru, di mana orang-orang Yahudi, Farisi, dan ahli Taurat mengetahui
banyak kebenaran, akan tetapi tidak melakukannya. Pertanyaan lain yang
dapat muncul adalah, apakah mungkin seseorang memiliki kehidupan yang
benar tapi tidak memiliki pengajaran yang benar? Jawabnya juga
mungkin. Hal ini yang sering saya sebut dengan sesat dalam
ketulusannya. Hal ini yang banyak dikritik oleh rasul Paulus dalam
surat-suratnya. Itulah sebabnya dalam suratnya kepada jemaat Galatia,
rasul Paulus berkata: "Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah
yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu
telah dilukiskan dengan terang di depanmu?" (Gal. 3: 1).
Ketiga, perintah ini diberikan oleh rasul Paulus menjelang akhir
hidupnya, di mana surat 1 dan 2 Timotius ditulis pada saat mendekati
kematiannya. Hal ini jelas ditulis pada 2 Tim.4: 6: "Mengenai diriku,
darahku sudah mulai dicurahkan, dan saat kematianku sudah dekat".
Dengan demikian, kita menyadari bahwa isi perintah ini sangat penting.
Karena biasanya orang menyampaikan hal-hal yang sangat penting --atau
terpenting-- pada akhir hidupnya. Selanjutnya, bila kita membaca surat
Galatia, yang merupakan surat pertama yang ditulis oleh rasul Paulus
(ditulis kira-kira tahun 49), maka hal ajaran ini juga yang menjadi
sorotan utama rasul Paulus. Sebagaimana dapat kita baca berikut ini:
"Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh
kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu Injil
lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan
kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus" (Gal.1:
6-7). Bila kita memeriksa tulisan-tulisan Paulus lainnya kita dapat
melihat bahwa peringatan terhadap ajaran sesat mendapat sorotan utama.
Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa di awal, di akhir serta
sepanjang pelayanan rasul Paulus, dia terus berjuang untuk melawan
kesesatan. Dia juga terus memperingatkan tim pelayanannya, termasuk
Timotius untuk "memelihara harta yang indah" (2Tim.1: 14). Kata
pelihara (Yunan: phulakson) adalah menjaga atau mengawasi. Tindakan
ini menggambarkan pengawal penjara mengawasi para narapidana agar
tidak melakukan pengrusakan atau melarikan diri.
Demikian juga, Timotius harus mengawasi dan menjaga kebenaran agar
tidak dirusakkan atau dirampas oleh pengajar-pengajar sesat. Dan dalam
ayat tersebut di atas, kata yang digunakan adalah kata "epekhe"
(present, aktif, imperatif). Ini berarti rasul Paulus memerintahkan
untuk terus-menerus mengawasi atau memperhatikan hidup dan doktrinnya.
Tidak cukup hanya satu minggu, satu bulan, atau satu tahun dia
mengawasi kualitas hidup dan ajarannya, tetapi terus menerus. Seumur
hidupnya. Hal itu semakin jelas dengan perintah berikutnya:
"bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian,
engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar
engkau" (1Tim.4: 16).
Penerapan
Setelah mencoba menggali ayat penting tersebut di atas, maka marilah
kita mencoba mencari penerapan penting dalam hidup dan pelayanan kita.
Dengan demikian, tema HUT ke-30 yang kita persiapkan secara khusus
tidak sekedar slogan kosong, tanpa makna.
Pertama, sebagai mana telah diserukan rasul Paulus kepada Timotius dan
kepada jemaat lainnya, marilah dengan sungguh-sungguh menyadari betapa
bahayanya penyesatan itu, baik penyesatan dalam perilaku, maupun
penyesatan dalam pengajaran.
Dengan demikian, kita senantiasa menghayati dan semakin menghayati
seruan tersebut dalam kehidupan kita.
Kedua, dengan adanya penghayatan tersebut di atas, marilah kita
memeriksa diri kita di bawah pertolongan Roh Kudus. Kiranya Roh dan
firmanNya menolong kita untuk memeriksa kualitas diri dan kerohanian
kita. Setelah sekian lama kita mengaku Kristen dan menerima Tuhan
Yesus sebagai Juruselamat kita, sejauh mana kelakuan kita makin serupa
dengan-Nya. Bukankah hal menjadi serupa dengan Dia, merupakan ambisi
suci dari setiap anak-anak tebusan-Nya? Hal itu jugalah yang menjadi
ambisi rasul Paulus ketika dia mengatakan: "Yang kukehendaki ialah
mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam
penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia…" (Fil.3: 10).
Jika demikian, sejauh mana visi, ambisi, hidup kita semakin sesuai
dengan firman-Nya? Sebagai anak-anak Tuhan, apakah saat ini yang
sedang memenuhi pikiran dan hati kita? Materi? Kekuasaan? Popularitas
hidup? Atau kenikmatan hidup? Bagaimanakah kita mengelola keluarga,
studi, karier kita? Apakah semua itu dikerjakan untuk memuaskan
hati-Nya, atau sekedar memuaskan ambisi daging kita? Sebagai
hamba-hamba Tuhan, sejauh mana hati nurani semakin dimurnikan
oleh-Nya? Apakah kita memiliki motivasi yang benar dalam melayani?
Barangkali kita sedih dengan melihat kenyataan di sekitar kita bahwa
ada pelayan-pelayan yang mengerjakan pelayanannya bukan dengan hati
seorang pelayan, yang mengerjakan pelayanannya dengan
motivasi-motivasi yang salah seperti mau mencari uang, kedudukan dan
popularitas. Kita tentu sangat sedih ketika mendengar adanya
pelayan-pelayan yang menentukan pelayanan berdasarkan kelengkapan
fasilitas. Kita juga tentu sangat sedih bila ada pengkhotbah dan
pelayan yang berani menentukan honor terendahnya setiap kali diundang
untuk berkhotbah. Bila hal itu dapat terjadi kepada mereka, tentu
dapat juga terjadi kepada kita. Dengan demikian, seruan rasul Paulus
di atas menjadi sangat relevan untuk direnungkan. Bila ternyata sikap
hati, pikiran, motivasi dan ambisi kita dalam pelayanan tidak lagi
semakin terfokus kepada kebenaran firmanNya, biarlah kita dengan
rendah hati terbuka memohon pertolongan Roh Tuhan untuk mengubah kita
dengan segera. Dengan demikian, 'benih' kesalahan itu tidak sempat
dibiarkan semakin bertumbuh dan susah untuk dipotong. Firman Tuhan
selalu mengingatkan kita agar bertindak tegas terhadap dosa. Hal
itulah yang harus kita lakukan.
Kita juga harus memeriksa pengajaran kita. Karena itu, sebagai jemaat
kita harus waspada terhadap segala pengajaran yang menyesatkan. Hal
ini telah panjang lebar dibahas dalam majalah DIA Edisi 1/2001 ketika
membahas tema Bidat. Sebagai contoh di sana kita menyebutkan adanya
pendeta yang telah menyelewengkan fungsi perjamuan kudus menjadi
sarana penyembuhan. Dengan demikian, menyerongkan iman jemaat dari
Kristus yang menderita dan mati bagi dosa-dosanya, kepada diri sendiri
dengan penyakit-penyakit tertentu yang sedang diidap. Selanjutnya,
sebagai hamba Tuhan (Staf) kita harus terus menerus meningkatkan
semangat belajar kita, baik secara formal dan informal (studi
pribadi). Tidak cukup kita menyadari (dalam hati dan pikiran)
pentingnya pengajaran yang benar. Tetapi hal itu harus kita wujudkan
dalam tindakan melalui adanya sikap yang benar dalam belajar. Hal itu
harus menjadi nyata dalam ketegasan kita untuk menyisihkan waktu satu
dua hari seminggu untuk belajar secara khusus. Hal itu juga harus kita
buktikan dengan penggunaan uang kita yang berani dan rela membeli
buku-buku yang bermutu.
Ketiga, sebagaimana rasul Paulus, kita juga harus terus-menerus
memerangi ajaran yang tidak benar yang terjadi di sekitar kita. Jadi,
tidak cukup kita hanya memiliki kebenaran bagi diri sendiri, dan
membiarkan orang lain dalam pengajarannya yang salah. Marilah kita
kembali semakin sungguh-sungguh menghayati dan mentaati seruan Paulus
berikut: "Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh2
kepada mereka di hadapan Allah, agar mereka jangan bersilat kata
(2Tim.2: 14). Bahkan bila perlu, demi untuk tidak membingungkan jemaat
akan apa dan siapa yang kita maksud, kita harus memberanikan diri
untuk menyebut contoh ajaran tertentu dan nama pengkhotbah tertentu.
Hal inilah yang juga dilakukan oleh rasul Paulus ketika dia
mengatakan: "Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di
antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus (2Tim.2: 17). Selanjutnya
kita juga dapat membaca tentang Alexander, si tukang tembaga itu, yang
telah banyak berbuat kejahatan 2Tim.4: 14).
Lalu apa yang telah kita lakukan terhadap pengajaran yang aneh-aneh
belakangan ini? Seperti adanya "minyak urapan", "perjamuan kudus pakai
darah", "kepenuhan Roh Kudus yang ditandai dengan bahasa lidah,
tertawa tidak hentinya sambil berguling-guling, juga sambil
mengeluarkan suara2 binatang", "debu emas sebagai tanda dipenuhi Roh
Kudus", "penginjilan terhadap roh orang mati", dan lain sejenisnya.
Lalu apa yang kita lakukan ketika seorang berkata: "Saya sudah bolak
balik naik ke Sorga", "Roh Kudus tadi mengatakan kepadaku bahwa ada
satu orang dari pemirsa TV yang sakit kerongkongan", dan lain
sejenisnya. Apakah kita cukup menyatakan ketidak setujuan kita? Atau
tidakkah kita perlu mengadakan seminar untuk menjelaskan hal-hal
penting dengan mengundang sebanyak-banyaknya jemaat? Atau tidakkah
kita harus lebih berani bersusah-susah untuk menulis dan menerbitkan
buku buku untuk mengabarkan kebenaran yang sesungguhnya serta
sekaligus meng-counter semua ajaran-ajaran yang tidak beres tersebut?
Sesungguhnya, hal itulah yang dikerjakan rasul Paulus. Dia berkeliling
ke seluruh 'dunia' untuk mengajar dan menguatkan jemaat-jemaat. Tidak
hanya berhenti di sana, dia juga 'menulis dan menerbitkan' buku-buku.
Apakah kita tidak terkagum-kagum melihat keteladanannya yang
sedemikian hebat? Marilah kita renungkan kenyataan ini: dari 27 kitab
Perjanjian Baru 13 kitab merupakan tulisan rasul Paulus! Bagi saya
itulah kenyataan cinta kasih kepada Allah. Itulah respon yang benar
dalam menjawab kasih dan anugerah Allah dalam hidupnya. Yang paling
penting bukan pernyataan yang dia berikan bahwa dia misalnya
bolak-balik masuk Sorga, tetapi kenyataan yang dia lakukan bahwa
seluruh hidupnya diwarnai oleh penyerahan yang benar kepada-Nya.
Mungkin ada yang berkata: "Wah melakukan hal itu sungguh membutuhkan
penyerahan yang sungguh-sungguh. Juga memerlukan pengorbanan dan
keberanian yang tidak kecil. Untuk melakukan hal itu, dibutuhkan dana
yang cukup besar dan sebenarnya sangat besar…" Benar. Tapi itulah arti
dari sebuah penyerahan. Sebuah penyerahan yang benar, menuntut harga
yang besar. Dengan perkataan lain, ada harga yang harus dibayar. Harga
itu mungkin pikiran, uang, diri dan… nyawa kita. Karena itulah saya
sering menyerukan bahwa dalam pelayanan kita di Perkantas, dibutuhkan
kualitas dan kuantitas 3D: Diri, Doa dan Dana. Tetapi dengan rela
membayar harga sedemikian, kita akan mendapatkan 'upah' yang kekal.
Sebagaimana rasul Paulus tegaskan:
"Dengan berbuat demikian, engkau akan menyelamatkan dirimu, dan semua
orang yang mendengar engkau" (1Tim.4: 16).
Kita bersyukur kepada Allah, dengan sejarah pelayanan Perkantas yang
ke-30, Dia telah melakukan banyak perkara di dalam dan melalui banyak
orang dengan 3D tersebut di atas. Kiranya Allah semakin mengaruniakan
hal itu lagi kepada kita, demi kemuliaan nama-Nya dan demi
kesejahteraan umat-Nya.
Dirgahayu Perkantas!
Posted by admin on August 23 2005 17:17:46 | 1 Comments · 5509 Reads -  |
|  |