Mangapul Sagala Ministry - Setia Melayani Tuhan Hingga Akhir
MENU UTAMA

Forum Diskusi
Foto Album
Buku Tamu
ARTIKEL INDONESIA

Da Vinci Code [banyak dibaca]

Siapakah Maria Magdalena? [banyak dibaca]

Minyak Urapan [banyak dibaca]


Syukur untuk AnugerahNya - 10 [baru]

Syukur untuk AnugerahNya - 9 [baru]

Syukur untuk AnugerahNya - 8 [baru]

Syukur untuk AnugerahNya - 7 [baru]

Syukur untuk AnugerahNya - 6 [baru]

Syukur untuk AnugerahNya - 5 [baru]

Syukur untuk AnugerahNya - 4 [baru]

Syukur untuk AnugerahNya - 3 [baru]

Syukur untuk AnugerahNya - 2 [baru]

Syukur untuk AnugerahNya - 1 [baru]

Teologia Liberal [baru]

Dasar Yang Kokoh

Mendidik Anak Utuh, Menuai Keluarga Tangguh

Injil Yudas

Hari Pentakosta

Ibadah oleh Benny Hin

Ibadah Penyembuhan ?

Kenaikan Yesus Kristus


Awasilah Dirimu dan Awasilah Ajaranmu

Kristus Bangkit!, Soraklah !

Ekklesiologi (Doktrin Gereja)

Pemborosan Yang Dipuji

Siapakah Yesus Kristus ?

Yesus Sejarah

Yesus Menurut Para Ahli

Gereja dan "Para-Church"

Hubungan PMK dengan Gereja

Alumni yang Sehat dan Melayani

Bagaimana Kristen Berpacaran

Makna Mujizat Dalam Injil Yohanes

Memahami Makna Hidup

Mengetahui Kehendak Allah

Kehidupan Bernegara

FirmanNya Bergema Kembali

Seminar buku Purpose Driven Life (PDL): Penyembahan (Worship)

Kamp Nasional Alumni Perkantas 2005: Sharing Your Faith in the Pluralist Society

Pemimpin Yang Ditolak Allah

Pentingnya KTB

Mengapa Merayakan Natal ?

First Love (Kasih Mula-mula)

Virgin Birth

Yesus dan Pernyataan-pernyataanNya

ELOHIM atau YHWH?

ARTIKEL SERI

Allah Tritunggal

Bidat (Ajaran Sesat)

Otoritas Alkitab

Banyak Jalan Keselamatan

Pengantar Kristologi

Jangan Lupa Getsemani !

Akhir Zaman

Pemimpin Pujian

Eksposisi - Surat Kepada Ketujuh Jemaat di Asia [baru]

Yesus dan Kesaksian Pada DiriNya [baru]

TANYA JAWAB

Tanggapan atas Buku dan email Ioanes Rakhmat[baru]

Surat Penggembalaan Sinode GKI [baru]

Tanggapan 1. Menyikapi Artilkel Ioanes Rakhmat, Kompas 5 Apr [baru]

Tanggapan 2. Menyikapi Artilkel Ioanes Rakhmat, (Usul Seminar) [baru]

Makam Keluarga Yesus, Penemuan Ilmiah ? [baru]

KKR Benny Hinn

Pengakuan Iman dan Doa Bapa Kami (Bahasa Batak)
CATATAN-CATATAN

Ringkasan seminar oleh Prof. Peter Stuhlmacher (Univ. Tubingen)

Ringkasan Percakapan dengan Prof Peter Stuhlmacher di Fitzwilliam College, Univ. Cambridge.

Wawacancara dengan Prof. Peter Stuhlmacher, dari Univ. Tübingen, Jerman

Ringkasan sambutan dan kesaksian pak Freddy Numberi di KBRI Roma.

ENGLISH

Trinity Theological College (TTC) Chapel: Reflection on Gen.41: 25-57; 1Cor.4: 16.

East Asia Regional Conference: Student Engagement in the Society

A Cry From Christian Students in Indonesia

The significance of the term “Sign” in the Gospel of John

A Life Reflection From Indonesian Ambassador For Italy, General (Ret) Freddy Numberi

Eunice's article: “Finding the Right Answer"

Eunice's article: Counting – Sharing at vesper on 28.3.05

Eunice's article: Salvation from Israel to Israel

Rev. Dr. Gordong Wong: When God Seems like the Enemy

DR. ROBERT SOLOMON

Questions For Life’s Quest

The Shadow and the Reality

KLIPING

Mengapa Ada Penderitaan ? [Sinar Harapan] [baru]

Kasus Setia, Ujian Toleransi [Sinar Harapan] [baru]

Neraka [Sinar Harapan] [baru]

Dosa Para Penguasa [Sinar Harapan]
Membongkar Injil [Sinar Harapan]

Predestinasi [Sinar Harapan]

Sorga, Impian atau Kenyataan ? [Sinar Harapan]

Providentia [Sinar Harapan]

Neo Orthodoxy [Sinar Harapan]

Quo Vadis PGI ? [Sinar Harapan]

Holyland Tour [Sinar Harapan]

Quo Vadis Sekolah Kristen ? [Sinar Harapan]

Bagaimana Berteologi ? [Sinar Harapan]

Kehidupan Seorang Pelayan [Sinar Harapan]

Kehidupan Seorang Pelayan (2) [Sinar Harapan]

Kehidupan Seorang Pelayan (3) [Sinar Harapan]

Kehidupan Seorang Pelayan (4) [Sinar Harapan]

Kehidupan Seorang Pelayan (5) [Sinar Harapan]

Kehidupan Seorang Pelayan (penutup) [Sinar Harapan]

Pendidikan Tanpa Moralitas [Sinar Harapan]

Mengerti Kehendak Tuhan [Sinar Harapan]

Poligami, Mengapa Tidak ? [Sinar Harapan]

Doa Yang Benar ? [Sinar Harapan]

Tidak Terombang-Ambing [Sinar Harapan]

Iman dan Kedaulatan Allah [Sinar Harapan]

Berpuasa Yang Dikehendaki Allah [Sinar Harapan]

Pindah Agama [Sinar Harapan]

Beriman kepada Yesus [Sinar Harapan]

Kristus yang Terutama [Sinar Harapan]

Rahasia Hidup Bahagia [Sinar Harapan]

Memohon "Pasu-pasu" pada "Pesta Bona Taon" [Suara Pembaruan]

Adat Batak Bertentangan Dengan Injil ? [Bahana]

ARTIKEL PENULIS TAMU

Korban Mode Nih Ye...

Peka Budaya

Keteladanan

KUMPULAN LAGU

Mars PO Universitas Indonesia

Siapakah Diri Hamba

Ku Utus Kau untuk Membangun

Aku Ikut Yesus


Daftar Lagu Ciptaan Mangapul Sagala

Mengapa Ada Penderitaan ?


MENGAPA ADA PENDERITAAN? (1)

Dalam ilmu theologia dikenal istilah “Theodicy”, yaitu berasal dari dua kata Yunani: “Theos” (Allah) dan “dikaios” (adil/benar). Istilah tsb pertama kali digunakan oleh Leibniz[1] pada thn 1710. Theodicy dikaitkan dengan usaha kita memahami keadilan dan kebenaran Allah, khususnya dalam masalah dan penderitaan-penderitaan yang terjadi. Pemahaman terhadap “Theodicy” berupaya untuk melihat bahwa di dalam segala kesulitan dan penderitaan yang terjadi, Allah tetap dipercayai sebagai Allah yang baik dan penuh kasih.

Dalam kondisi bangsa kita yang terus menerus dilanda berbagai bencana dan masalah yang mengakibatkan berbagai macam penderitaan, judul artikel tsb di atas merupakan pertanyaan yang sangat relevan dan penting untuk dibahas. Barangkali, beberapa dari dari daftar pertanyaan berikut pernah kita dengar. Atau, malah kita tanyakan, baik secara langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak. “Kalau Allah baik, mengapa saya menderita seperti ini?” “Kalau Allah baik, mengapa anak laki-laki saya satu-satunya meninggal dunia?” “Kalau Allah baik, mengapa Dia memanggil pasangan saya begitu cepat?” “Kalau Allah baik, mengapa Dia membiarkan kakak saya kecelakaan dan mengalami kelumpuhan?” “Kalau Allah baik, mengapa Dia membiarkan ayah saya terus menerus sekarat di rumah sakit, hingga kami hidup menderita begini?” Dan di tengah-tengah meningkatnya tuntutan hidup, barangkali banyak orang muda yang bertanya: “Kalau Allah baik, mengapa saya selama bertahun tahun terus jadi pengangguran?” Sedangkan yang lainnya bertanya, “Kalau Allah baik, mengapa doa saya tidak dijawab dan hingga sekarang tidak mendapatkan jodoh?”

Bagaimana kita menjawab pertanyaan tersebut di atas? Apakah Allah sungguh-sunguh baik? Saya kira, semua yang beriman kepada Allah dapat menjawab pertanyaan tersebut di atas dengan tegas: Allah memang baik, sungguh amat baik. Sifat Allah yang sangat baik itu dapat ditemukan dalam lembaran-lembaran Kitab Suci agama manapun.

Satu hal yang pasti.

Ada satu kalimat bijak yang mengatakan, “Apa yang jelas kamu lihat di dalam terang, jangan ragukan, ketika kamu hidup di dalam kegelapan”. Saya kira, nasehat seperti itu sangat tepat diberikan kepada semua orang yang mengalami kesulitan hidup. Kadangkala, masalah kehidupan dapat sedemikian kelam, sehingga kehadiran Allah diragukan, tidak lagi dilihat atau dialami.

Dalam kondisi seperti itu, maka cara yang terbaik adalah mendengar firmanNya. Alkitab, mulai dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru menyaksikan satu hal dengan sangat pasti, yaitu kasih dan kebaikan Allah. Kasih dan kebaikan Allah itu dapat dilihat sejak lembar pertama Alkitab, yaitu kisah penciptaan (Kejadian 1). Ketika membaca bagian tersebut, seorang Rabi Yahudi pernah bertanya: “Mengapa Allah repot-repot menciptakan dunia dan segala isinya? Mengapa Dia bersusah-susah menciptakannya sampai berhari-hari, selama enam hari? Apakah Dia tidak sangguh menciptakannya hanya dalam waktu singkat?” Rabi tersebut menjawab, bahwa sesungguhnya, Allah mampu melakukannya. Tapi hal itu sengaja Dia lakukan di dalam rahmat dan kasihNya yang besar, agar kita semua tidak merusak ciptaanNya, namun semakin menghargainya.

Memang benar, jika kita memperhatikan kisah penciptaan, maka jelas terlihat bahwa “Allah repot-repot”, bukan karena Dia harus menciptakan dunia dan segala isinya, dalam arti ada kewajiban bagiNya. Juga bukan karena ada seorang pribadi yang memaksaNya. Alasan penciptaan adalah diri Allah sendiri yang penuh kasih. Sebagaimana seorang teolog menegaskan: “The reality of creation is the extension of God’s love”. Allah yang penuh kasih itulah yang sangat jelas digambarkan oleh Alkitab. “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia” (1 Yoh.4:16).

Selanjutnya, jika kita mengamati manusia yang diciptakan Allah tersebut, kita juga melihat bagaimana baiknya Allah terhadap manusia. Allah menempatkan manusia di sebuah taman yang sangat indah, yang dikenal sebagai taman Eden. Taman itu bukan saja indah dan segar karena ditanami dengan berbagai-bagai pohon yang menarik, tetapi juga sejuk karena sekitarnya dialiri oleh aliran-aliran sungai (Kej.2). Bukan saja demikian, Allah yang baik tersebut menyerahkan semua, ya segala ciptaanNya: ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, segala jenis ternak di darat (Mazmur 8) untuk kita nikmati secara GRATIS! Tidak membayar satu sen pun.

Setelah manusia diciptakan, kita membaca, “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka... berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung burung di udara dan atas segala binatang...(Kej.1:28). “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas” (Kej.2:16). Bukankah firman tersebut di atas sungguh menunjukkan betapa baiknya Allah itu? Dengan mengetahui serta menghayati semua itu, sewajarnyalah kita bersyukur kepadaNya. Atau, jika penderitaan sudah sedemikian rupa sehingga membuat kita sulit untuk bersyukur, setidaknya kita tidak lagi mempertanyakan Allah atas segala penderitaan tersebut. Kita tidak lagi menimpakan segala permasalahan yang terjadi dalam diri kita kepadaNya. Sebaliknya, dengan berani mencari permasalahan di dalam diri dan sekitar kita sendiri.- (bersambung)

.

[1] Seorang ahli filsafat dan matematik dari Jerman (1646-1716).


Mengapa Ada Penderitaan? (2)

Jika kita telah yakin bahwa Allah sungguh-sungguh baik dan penuh kasih, maka pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana kita menjelaskan masalah penderitaan dan kejahatan yang ada di sekitar kita? Bagaimanakah manusia memahami kasih dan kebaikan Allah dalam setiap bencana dan penderitaan yang kita alami? Sesungguhnya, theodicy merupakan pertanyaan klasik yang terus menerus dipertanyakan di setiap abad dan tempat. Masalah theodicy sungguh tidak mudah dijelaskan. Kita dapat kembali ke abad mula-mula dan memperhatikan pandangan bapak-bapak Gereja seperti Thomas Aquinas, Augustinus, dll yang terus bergumul dengan tema tsb.

Demikian juga, theolog-theolog besar abad lalu seperti Karl Barth mengakui kesulitan dalam menjelaskan hal tsb. Seorang teolog skeptik yang bernama David Hume memberikan pernyataan sbb: “Apakah Allah ingin mencegah kejahatan tapi Dia tidak sanggup melakukannya? Jika demikian, Dia tidak maha kuasa. Atau, Dia sebenarnya sanggup melakukannya tetapi tidak menghendakinya? Jika demikian, Allah itu jahat. Atau Allah itu memiliki keduanya, Allah sanggup mencegah kejahatan dan penderitaan dan juga berkeinginan untuk melakukannya. Jika demikian, mengapa ada penderitaan?”[1]

Berbagai pandangan tentang theodicy

Di tengah berbagai macam kesulitan dan penderitaan yang ada di sekitar kita, adalah baik untuk mengetahui berbagai pemahaman yang diberikan untuk menjelaskan hal tsb.

Pertama. Menolak kemahakuasaan Allah. Salah satu cara yang dianggap dapat menyelesaikan masalah penderitaan/kejahatan tsb di atas adalah pandangan yang sangat berbau filsafat, yang disebut dengan “Finitisme”, yaitu pandangan yang menolak kemahakuasaan Allah. Menurut pandangan ini, Allah memang berkehendak untuk mencegah segala macam kejahatan dan penderitaan, di mana hal itu secara jelas telah dinyatakan bertentangan dengan kehendakNya. Namun demikian, adanya kejahatan dan penderitaan di dunia ini menunjukkan bahwa memang Allah tidak mahakuasa. Edgar S. Brightman, seorang professor dalam bidang filsafat dari Universitas Boston mengembangkan konsep Allah yang terbatas tsb sebagai jawaban terhadap masalah kejahatan.[2] Menurut Brightman, Allah bekerja dalam “a given context”, atau konteks yang sudah dari “sono” nya. Apa yang disebutnya dengan “uncreated laws of reason –logic, mathematical relations, and the Platonic Ideas” merupakan bagian dari kekekalan. Karena itu, dalam “a given context” tsb ditemukan dua kriteria berikut. Pertama, segala unsur dan elemen dalam konteks tsb bersifat kekal yang berada di dalam pengalaman Allah. Kedua, semua elemen tsb bukan merupakan produk dari sebuah kehendak atau aktivitas yang menciptakannya. Brightman mengatakan: “... we should speak of a God whose will is finite”.[3]

Kedua, pandangan yang mirip dengan pandangan tsb di atas adalah paham dualisme, seperti yang dianut oleh Zoroastrianisme dan Manichaenisme. Menurut pandangan ini, alam dan dunia semesta tidak dikendalikan oleh satu kekuatan besar, tetapi mereka melihat adanya dua “ultimate principles”: kuasa kebaikan dan kuasa kejahatan. Dengan demikian, di dunia ini sedang berjalan dua kerajaan, di mana keduanya berjalan bersama-sama. Tentu saja Allah bertarung dengan kuasa kejahatan tsb. Namun tidak ada kepastian akan hasil yang akan dicapai. Menurut paham ini, Allah memang berusaha untuk menaklukkan kejahatan, dan Dia akan melakukannya sekiranya Dia sanggup. Tapi sayang, dalam kenyataannya, Allah tidak mampu.

Ketiga, ada yang mencoba menyelesaikan masalah kejahatan dengan menyangkali adanya fakta kejahatan itu sendiri. Sebagai contoh, filsuf Benedict Spinoza menegaskan bahwa hanya ada satu substansi dalam alam semesta, yaitu substansi Allah. Segala sesuatu terjadi sebagai akibat dari substansi Allah tsb. Allah telah dan sedang mengendalikan segala sesuatu yang berakhir kepada kesempurnaan.[4] Demikian juga, Mary Baker Eddy, yaitu pemimpin aliran Christian Science berpendapat bahwa hanya ada satu realitas, yaitu Allah, yang disebutnya sebagai “the infinite mind”. Dia menegaskan: “Spirit atau Roh itu bersifat nyata dan kekal; sedangkan materi bersifat tidak nyata dan sementara”.[5] Menurut Mary, sebenarnya kejahatan tsb tidak ada. Dia menulis: “It has no reality. It is neither person, place nor thing, but simply a belief, an illusion of material sense”.[6]

Logika yang diberikan oleh Mary adalah, jika Allah adalah sumber dan penyebab segala sesuatu, maka hal itu pasti baik. Lalu dari mana asalnya kejahatan itu? Dia sendiri menjawab pertanyaan tsb dengan mengatakan: “It never originated or existed as an entity. It is but a false belief”.[7] Itulah sebabnya, menurut pandangan ini, jika seseorang itu sakit, tidak perlu pergi ke dokter untuk mencari kesembuhannya. Pandangan ini menganjurkan untuk mencari jawaban di dalam pengenalan akan kebenaran, yaitu menyadari bahwa penyakit itu sebenarnya tdk ada, itu hanyalah sebuah khayalan. Jika penyakit itu dilihat sebagai sesuatu khayalan, tidak nyata, maka sebenarnya tidak ada pengaruhnya yang secara nyata bagi kita –tidak lagi dirasakan, atau hilang rasa sakit tsb. Bahkan kematian itu pun dianggap sebagai satu ilusi, di mana menurut mereka, Alkitab menegaskan bahwa kematianpun akan ditiadakan dan dihancurkan.- (bersambung).

Mengapa Ada Penderitaan? (3)

Ada juga yang mencoba menyelesaikan masalah kejahatan dengan menanyakan defenisi tentang “kebaikan Allah”. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, pada umumnya orang Kristen menerima ajaran tentang Allah yang baik. Hal itu sesuai dengan penegasan Alkitab itu sendiri. “Sebab Tuhan itu baik, kasih setiaNya untuk selama-lamanya, dan kesetiaanNya tetap turun temurun” (Maz.100:5), demikian bunyi sebuah Mazmur yang sangat terkenal. Karena itu, jika ada masalah yang terjadi yang kemudian meragukan sifat Allah yang baik tsb, hal itu bukan masalah kebaikan Allah, tetapi ada yang salah dalam pemahaman kita tentang konsep “kebaikan” tsb.

Gordon H. Clark, seorang teolog Calvinist yang sangat menonjol, menegaskan bahwa segala sesuatu terjadi di bawah kendali Allah. Tidak ada satupun di dunia ini terjadi di luar kehendak Allah.[1] Tidak ada satupun yang mutlak bersifat independen yang tidak tergantung kepada Allah. Hanya Allah sendiri yang mutlak. Lalu bagaimana dengan keberadaan dosa? Sekalipun pandangan ini tidak mengatakan bahwa Allah sebagai pencipta dosa, namun dengan tegas Clark mengatakan bahwa, “God is the ultimate cause of sin, not the immediate cause of it”. Clark membedakan dua hal dalam hubungannya dengan kehendak Allah. Pertama, “preceptive” will of God dan kedua, “decretive” will of God. Kehendak Allah yang pertama, yaitu “preceptive” will, merupakan kehendak Allah yang dinyatakanNya secara jelas dalam perintahNya. Misalnya, perintah 10 hukum Taurat yang harus dilaksanakan oleh umatNya. Sedangkan yang kedua, “decretive” will, adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi yang tidak secara langsung diperintahkan oleh Allah. Sebagai contoh, Allah tidak pernah berbuat dosa, manusialah yang berdosa, tetapi itu terjadi di dalam “decretive” will of God. Demikian juga, bukan Allah yang menyalibkan Yesus, tetapi Yudas yang menyerahkanNya ke tangan orang2 jahat. Karena itu, Yudas harus bertanggung jawab atas penyaliban Yesus. Namun demikian, Allah telah menetapkan sejak kekekalan bahwa itu pasti akan terjadi.

Mari kita perhatikan syllogisme Clark berikut:

- Whatever happens is caused by God
- Whatever is caused by God is good.
- Whatever happens is good.

Apa yang bisa kita pelajari dari syllogisme tsb?

Penderitaan adalah akibat dari hukuman Allah

Salah satu teori yang dominan dan umum dikenal dan dianut oleh sebagian orang adalah memahami bencana tsb sebagai peringatan atau hukuman Allah. Jika demikian halnya, maka tindakan yang paling tepat untuk meresponi bencana yang demikian adalah, merenung, memeriksa diri dan bertobat dari segala pelanggaran dan dosa-dosa. Barangkali, hal itulah yang seringkali membuat banyak orang tiba-tiba menjadi sedemikian religious ketika bencana menimpanya.

Barangkali kita masih ingat peristiwa Tsunami yang sangat dahsyat pada waktu yang lalu. Akibat dari peristiwa yang mengerikan dan menakutkan itu, sebuah TV swasta menayangkan nyanyian Ebit. G. Ade dan Bimbo, Berlian Hutauruk, Sherina, secara berulang-ulang, di mana syair-syair lagunya sedemikian religious dan menyentuh perasaaan. Inti dari nyanyian tsb adalah memohon pengampunan kepada Allah, di mana murkaNya telah turun: “... kuabaikan peringatanMu... tanganMu menghempas di ujung Banda”, demikian kira-kira syair lagu Sherina.

Alkitab memang pernah mencatat adanya penderitaan massal umat manusia sebagai akibat dari kejahatan dan dosa-dosanya. Kita dapat membaca dalam Perjanjian Lama bahwa peristiwa matinya seluruh manusia di zaman Nuh serta bencana besar Sodom dan Gomora erat hubungannya dengan dosa manusia (Kejadian 6,7,19). Hal itu memang merupakan peringatan dan hukuman dari Allah bagi umat ciptaanNya ketika itu. Tetapi, apakah Alkitab mengajarkan bahwa setiap penderitaan yang terjadi adalah akibat dosa dan hukuman Allah?

Penderitaan dilihat sebagai kejadian alam

Bagi yang ingin membela sifat Allah yang baik itu, ada yang tidak setuju dengan pendapat bahwa penderitaan massal tsb (baca Tsunami) dan penderitaan lainnya, merupakan hukuman Allah. Mereka mempertanyakan apakah Allah yang dikenal sedemikian kasih dan baik dapat bertindak sedemikian kejam? Apakah Allah tidak punya cara lain untuk memperingatkan umatNya? Karena itu mereka mengatakan bahwa bencana yang demikian, pasti bukan dari Allah.

Lalu bagaimana kita memahami bencana tsb? Mereka menjelaskan bahwa bencana alam adalah murni bencana alam. Jadi hal itu tidak perlu dihubungkan dengan agama atau dosa, cukuplah dijelaskan secara ilmiah. Jadi, secara sederhana para ilmuwan menjelaskan bahwa bencana yang mengakibatkan Tsunami pada waktu yang lalu, terjadi karena ada sesuatu yang terjadi di bawah lautan sana (adanya lempengan-lempengan bumi yang bergerak) yang mengakibatkan gempa dan gelombang Tsunami. Karena itu, terjadilah bencana besar yang mengakibatkan korban jiwa.

Bagi sebagian orang, nampaknya penjelasan tersebut di atas cukup masuk akal. Selain itu, pendekatan tersebut juga dianggap berhasil melepaskan Allah dari tuduhan seolah-olah Dia adalah pribadi yang kejam. Namun demikian, teori ini tetap memiliki kelemahan yang sulit dijelaskan. Apakah Allah benar-benar terlibat dalam kehidupan umatNya? Jika ya, sejauh mana keterlibatan tersebut? Bukankah Allah mengendalikan ciptaanNya, termasuk lempengan-lempengan bumi tersebut? (bersambung)

[1] Gordon H. Clark, Religion, Reason, and Revelation (Philadelphia: Presbyterian and Reformed, 1961), 221.

Posted by admin on September 08 2008 17:08:400 Comments · 8659 Reads - Print
Comments
No Comments have been Posted.
Post Comment
Please Login to Post a Comment.
Ratings
Rating is available to Members only.

Please login or register to vote.

No Ratings have been Posted.
Login
Username

Password



Not a member yet?
Click here to register.

Forgotten your password?
Request a new one here.
Shoutbox
You must login to post a message.

vicke
17/05/2013 20:30
Mohon dukungan doa dan kehadirannya utk ibadah bulanan KBD Minggu 2 Juni jam 16.00 di aula FH-UKI Diponegoro

vicke
01/05/2013 16:39
Mohon dukungan doa dan kehadirannya utk ibadah bulanan KBD Minggu 5 Mei jam 16.00 di aula FH-UKI Diponegoro

vicke
25/03/2013 20:57
Rekan2 pelayan ytk,mari kita saling menguatkan pada ibadah bulanan KBD, Minggu 7/4/2013 jam 16.00 di aula FHUKI Salemba. Pbcr: Pdt. Mangapul Sagala.

vicke
25/03/2013 20:55
Daftarkan diri Anda sgr mengikuti seminar ttg Keselamatan, Sabtu 6.4.2013, di aula FK-UKI (gedung GWS) Cawang.

vicke
08/02/2013 16:08
Rekan2 pelayan ytk,mari kita saling menguatkan pada ibadah bulanan KBD, Minggu 3/3/2013 jam 16.00 di aula FHUKI Salemba. Pbcr: Pdt. Mangapul Sagala.

vicke
11/01/2013 11:33
Sdr2ku ytk, mari kita memuliakan Dia dan saling menguatkan pada ibadah bulanan KBD, Minggu 3/2/2013 jam 16.00 di aula FHUKI Salemba. Pbcr: Pdt. Mangapul Sagala.

vicke
07/01/2013 14:27
Tahun baru, semangat baru ya. Bapa sorgawi, berkatilah kami semua anak2Mu, jauhkan dari segala marabahaya.

vicke
24/12/2012 10:24
SELAMAT HARI NATAL 25 DES 2012 DAN TAHUN BARU 1 JAN 2013.

vicke
22/12/2012 09:27
Kiranya Bapa sorgawi memberkati pelayanan saya siang ini (14.00) pada ibadah Natal Paramount Groups, setelah itu ibadah Natal di Grj Kalam Kudus (jam 17.00 sp selesai).

vicke
16/12/2012 08:54
Syukur kepada Bapa di sorga dan terimakasih kpd Bapa/Ibu semua, Natal di Parapat berjalan baik, dihadiri oleh sekitar enam ratus orang memenuhi terminal Parapat.

Shoutbox Archive
Brosur Fellowship Day Alumni II
Cari
Search for:
Articles
News
Forum Posts
Downloads
Web Links
Members
Buku

BARU: Mengapa ada penderitaan

Image and video hosting by TinyPic
BARU: FIRMAN MENJADI DAGING, Harga Rp 30.000, Dapat dipesan di literatur Perkantas Jakarta. Telp. (021) 3442463-64




Injil dan Adat Batak

Bagaimanakah sikap kita melihat adat Batak sebagai produk budaya leluhur? Bagaimana pandangan Injil Kristus terhadap adat? Apakah Adat Batak bertentangan dengan Injil? Buku ini akan membantu untuk menjawab pertanyaan tersebut dan pertanyaan-pertanyaan lainnya dengan baik, sehingga orang Batak dapat mengambil sikap benar terhadap adat istiadat sebagai produk budaya leluhur. (Junjungan Sipahutar, SH. Ketua Yayasan Binadunia, tinggal di Jakarta)

Warga Batak Kristen perlu memperoleh keyakinan bahwa kehidupan mereka adalah kehidupan yang maradat dalam iman Kristiani. Buku kecil ini menyidik masalah itu dengan intensitas Injil yang amat mendalam dan sangat komprehensif. Kita sambut dengan rasa syukur buku kecil dengan manfaat besar ini, sambil mengucapkan SELAMAT dan SUKSES kepada Pdt. Ir. Mangapul Sagala, D.Th. Tuhan Yesus memberkati. Amen. (Drs. Duaman Panjaitan. Pemimpin Harian Batak Pos, dan tokoh adat Batak, tinggal di Jakarta).

Detil dan pemesanan klik disini

Kristus Pasti Datang

Ada orang yang berani meramalkan waktu kedatangan Kristus, tetapi ada juga yang meragukan kedatangan-Nya. Alkitab mengatakan, peristiwa kedatangan Kristus pasti terjadi, yang tidak pasti adalah waktunya. Buku ini menolong Anda memahami dengan jelas doktrin Alkitabiah mengenai kedatangan Kristus kembali ke dunia.

Detil dan pemesanan klik disini



Keputusan memilih teman hidup merupakan keputusan kedua terpenting setelah memutuskan mengikut Kristus. Prosesnya tidak gampang dan tidak boleh digampangkan. Buku ini memaparkan enam langkah penting sebelum memasuki tahap berpacaran, petunjuk menjalani masa berpacaran hingga memahami makna pernikahan Kristen.

Detil dan pemesanan klik disini



Puji-pujian menempati posisi sangat penting dalam kehidupan dan ibadah orang Kristen. Permasalahannya adalah tidak semua orang memiliki konsep dan pengertian yang benar tentang puji-pujian. Buku ini memberi petunjuk praktis bagi mereka yang rindu memuji Tuhan dengan baik, khususnya bagi para pemimpin pujian, agar dapat meningkatkan kreatifitasnya.

Detil dan pemesanan klik disini

RINGKASAN BUKU

Berpacaran Secara Kristen


Superioritas dan Keistimewaan Alkitab
[ beli disini ]

Petunjuk Praktis Menggali Alkitab


Roh Kudus dan Karunia Roh
[ beli disini ]


Pekabaran Injil Secara Pribadi
[ beli disini ]

Link
Toku Buku Lilin Kecil
STT Trinity Parapat
Perkantas Nasional
Perkantas Jakarta
Peduli Konseling
In Christ Net
GoBatak.com

Mailing List
doakanHKBP
ForumBiblika
LK3Online