 | Makna Mukjizat Dalam Injil Yohanes
(Oleh: Pdt. Mangapul Sagala)
I. Mukjizat (Tanda) dalam Perjanjian Baru
Sebagaimana telah kita bahas pada seminar sesi pertama
minggu yl, salah satu cara lain untuk mempelajari Kristologi Injil
Yohanes adalah dengan mempelajari mukjizat dalam Injil tsb (atau lebih
tepatnya Yohanes menyebut mukjizat sebagai "tanda"; Inggris: "sign",
Yunani: semeion).
Apa yang dimaksud dengan "semeion" (Tanda/Sign)?
Di dalam kamus Yunani -yang sangat lengkap- yang ditulis oleh William
F. Arndt and Gingrich, kita menemukan arti dari "semeion" tsb sbb:
Sebagai tanda yang membedakan sesuatu, yang melaluinya objeknya dapat dikenal.
Menyatakan keajaiban (mukjizat) baik yang berasal dari kuasa Allah,
atau dari kuasa kegelapan (setan).
Menyatakan tanda dari suatu kejadian alam yang akan datang.[1]
Kata "tanda" atau "semeion" digunakan di dalam Perjanjian Baru,
khususnya di dalam Injil dan Kisah Rasul. Di dalam seluruh narasi
Injil, kata "tanda" kelihatannya mengandung konotasi adanya kumunikasi
yang bersifat ilahi.[2] Ini bisa berarti sebuah peringatan akan
terjadinya sebuah peristiwa pd wkt yad,[3] atau adanya intervensi
khusus dalam sejarah.[4]
Kita menemukan 13 contoh di mana kata "tanda" (semea)[5] dipasangkan
dengan kata "mukjizat" (Yunani: terata). Kedua kata tsb mengacu
kepada mukjizat, yaitu adanya peristiwa yang bersifat supernatural.
Menarik sekali untuk diperhatikan bahwa jika kita bandingkan dengan
Injil Sinoptik (Matius, Markus dan Lukas), maka Yohanes
mempresentasikan mukjizat secara berbeda. Hal itulah yang mau kita
pelajari bersama.
Perbedaan yang dapat kita perhatikan adalah sbb:
Dari segi jumlah mukjizat, maka kita menemukan bahwa Injil Sinoptik
mencatat lebih banyak mukjizat dari pada Yohanes. Kita menemukan bahwa
200 dari 425 ayat dari Injil Markus, yaitu pasal 1-10 saja,
berhubungan secara langsung maupun tdk langsung dengan mukjizat. Dalam
Injil Markus, kita menemukan bahwa dalam hampir separuh dari narasi
pelayanan Yesus yang dilakukan secara publik berhubungan dengan
mukjizat. Sedangkan dalam Injil Yohanes, seperti akan kita lihat di
bawah, hanya mencatat tujuh (7) mukjizat. Terlihat seleksi yang ketat
terhadap mukjizat tsb, di mana Yohanes mempresentasikan semua itu
untuk meneguhkan iman para pembaca (20:30-31).
Kita juga dapat menemukan perbedaan dalam kondisi atau keadaan
(circumstances) yang menyertai mukjizat tsb.
Dalam Injil Sinoptik, kita melihat perhatian yang sangat besar
terhadap unsur keajaiban dari mukjizat tsb. Demikian juga kita
melihat antusiasme yang diakibatkannya: orang banyak (yang lemah dan
sakit) berduyun- duyun datang kepada Yesus untuk memohon pertolongan,
adanya kekaguman setelah melihat mukjizat tsb, tersebarnya berita tsb
dari satu kota ke kota lain. Hal-hal menonjol dan penekanan spt ini
tidak ditemukan di dalam Injil Yohanes, bahkan boleh dikatakan hampir
hilang sama sekali. Itulah sebabnya kita melihat bahwa dalam Injil
Yohanes, mukjizat (tanda) tsb dinarasikan (diceritakan) secara
sederhana saja. Kelihatannya, Yohanes menghindari detail mukjizat
dalam narasi tsb (Bandingkan misalnya kisah Yesus berjalan di atas
air: Yoh.6:16-21 versus Mat.14:22-33; Mark.6:45-52).
Perbedaan dari segi fungsi mukjizat tsb. Dalam hal fungsi, kita
menemukan perbedaan yang sangat besar antara Injil Yohanes dan Injil
Sinoptik. Dalam Injil Sinoptik, mukjizat yang dinarasikan terutama
merupakan " the acts of power (Yun:dunamis) accompanying the breaking
of the reign of God into time". Karena itu, kita dapat melihat bahwa
fungsi mukjizat sebagai pernyataan kuasa Allah yang menyertai
pemerintahan Allah mendominasi Injil Sinoptik. Sedangkan dalam Injil
Yohanes, hal-hal ajaib tsb kelihatannya menunjuk kepada simbol
tertentu -sekalipun tentu hal kuasa tsb juga dapat dilihat.
[Sebagaimana Johan Ferreira juga menunjukkan bahwa dibandingkan dengan
Injil Sinoptik, tanda/mukjizat di dalam Injil Yohanes merupakan hal
yang luar biasa. Dia memberi contoh penyembuhan anak pegawai istana
yang bahkan tanpa kehadiran Yesus (4:46-54), demikian juga dengan
penyembuhan orang lumpuh yang sakit 38 thn (5:1-15) (Johannine
Ecclesiology, 153)].
II. Mukjizat (tanda) dalam Injil Yohanes
Sebagaimana telah kita sebutkan di atas, Injil Yohanes tidak mencatat
banyak mukjizat. Dalam Injil Yohanes, kita menemukan tujuh mukjizat:
Mengubah air menjadi anggur (Yoh.2:1-11).
Menyembukan anak pegawai istana (4:46-54)
Menyembuhkan orang lumpuh di kolam Betesda (5:1-18)
Memberi makan 5000 orang (6:1-15)
Yesus berjalan di atas air (6:16-21)
Menyembuhkan mata orang buta sejak lahirnya (9:1-12)
Membangkitkan Lazarus (11:38-44)
Jika kita bandingkan mukjizat tsb di atas dengan mukjizat dalam Injil
Sinoptik, maka kita menemukan hal-hal berikut:
Tidak ditemukan jenis yang pertama, air dirubah menjadi anggur (2:1-11).
Tiga dari mukjizat tsb, juga ditemukan dlm Injil Sinoptik. Ketiga
mukjizat itu adalah:
· Menyembukan anak pegawai istana (4:46-54; band. Mat.8: 5-13,
Luk.7:1-10)
· Memberi makan 5000 orang (6:1-15; band.Mat.14:13-21,
Mark.6:32-44, Luk.9:10-17)
· Yesus berjalan di atas air (6:16-21; band. Mat.14:22-33, Mark.6:45-52)
Tiga mukjizat lainnya memiliki bentuk yang sama seperti yg ditemukan
dlm Injil Sinoptik:
Menyembuhkan orang lumpuh (5:1-15),
Menyembuhkan orang buta (9),
Membangkitkan orang mati (11).
Tujuan mukjizat (tanda) dalam Injil Yohanes sangat jelas ketika kita
membaca penegasan Yohanes. Mengakhiri Injil tsb, dia menulis:
"Memang masih banyak tanda (semeia) lain yang dibuat Yesus di depan
mata murid-muridNya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua
yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa
Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh
hidup dalam namaNya". (Yoh.20:30-31).
Jadi, dari ayat tsb di atas jelas terlihat tujuan dari "tanda" tsb adalah:
1. Kristologi: "supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah".
2. Soteriologi: "dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup
dalam namaNya".
(Bandingkan hal ini dengan fakta dari narasi Yohanes, baik di awal
maupun akhir dari Injil tsb: Yoh.2:11 dan 20:29-29)
III. Tanda Pertama di Kana (Yoh.2)
Yohanes menulis bahwa mukjizat di Kana adalah merupakan tanda yang
pertama. Istilah "semeion" (tanda) terdapat 17 kali dalam Injil
Yohanes[6], di mana istilah tsb pertama kali muncul di dalam Yoh.2:11,
dan terakhir dalam Yoh.20:31. Sebagaimana disebutkan di atas, istilah
ini sengaja diambil oleh Yohanes yang mengandung makna theologis.
Barangkali kita bertanya, apa yang dimaksud oleh Yohanes sebagai
"tanda pertama" (Yun: arkhen ton semeion) dalam Yoh.2:11 tsb di atas?
Bagaimanakah "tanda pertama" tsb menyatakan kemuliaan Yesus kepada
murid2Nya?
Untuk menjawab pertanyaan pertama, kita dapat melihat pandangan
theolog terkenal dari Inggris yang bernama C.K. Barrett. Menurut
Barrett, istilah "tanda pertama" pada ayat tsb di atas bukan sekedar
mengatakan urutan bilangan, tetapi hal itu mengatakan "tanda
terutama" (primary sign).[7] Sedangkan untuk menjawab pertanyaan
kedua, kita dapat mengamati bahwa beberapa symbol di Kana tsb akrab
dan mengandung makna tertentu bagi murid2 Yesus.
Pertama, menarik untuk diperhatikan bahwa Yohanes mempresentasikan
tanda pertama/terutama tsb dalam konteks pernikahan.
Penting untuk diperhatikan bahwa gambaran seperti ini digunakan dalam
PL sebagai simbol dari hari-hari Mesianis. (Bandingkan dgn Yes.54:4-8;
khususnya baca ayat 5. Yes. 62:4-5).) Lukisan spt ini juga dpt kita
lihat di dalam Injil Sinoptik (Mat.8:11; 22:1-14; Luk 22:16-18).
Sedangkan di dalam literatur Yohanes lainnya, yi kitab Wahyu, kita
membaca bahwa gambaran pernikahan muncul sebagai penggenapan Mesianis
(Why.19:9).
Kedua, pada tanda pertama ini kita juga melihat peristiwa
perubahan/pergantian air menjadi anggur yang baik (dalam konteksnya,
anggur terbaik/choise wine), yaitu anggur yang lebih baik dari "anggur
pilihan" -sebagaimana lazimnya ketika itu- yang telah diminum tamu
sebelumnya. Tema perubahan/pergantian ini memang dominan di dalam
Injil Yohanes. Karena itu, theolog terkemuka dari Gereja Katolik,
Raymond Brown menegaskan:
"In relation to the theme of replacement of Jewish institutions and
religious views, we find that in the Gospel of John we find that Jesus
is the real Temple".[8]
Demikian juga, kita menemukan bahwa kehadiran Roh Kudus sangat penting
untuk membawa seseorang kepada kelahiran kembali. Jadi hal itu bukan
sekedar karena upacara keagamaan (contoh, peristiwa Nikodemus dalam
Yoh.3. Baca khususnya ayat 6-7). Kehadiran Roh Kudus ini akan
menggantikan keharusan utk beribadah di Yerusalem (Yoh.4:21-24).[9]
Hal yang sama, kita menemukan bahwa darah dan tubuh Yesus akan memberi
hidup (makanan rohani) kepada mereka yang percaya kepadaNya,
sebagaimana roti dan manna memberi hidup (makanan jasmani) bagi nenek
moyang orang Israel di padang gurun (Yoh.6:49-50). Sebagaimana R.
Brown, theolog konservatif, D.A. Carson menulis:
"One of the features of these allusions (to the Old Testament) is the
manner in which Jesus is assumed to replace Old Testament figures and
institutions. He is the new temple, the one whom Moses wrote, the true
bread from heaven, the true Son, the genuine vine, the tabernacle, the
serpent in the wilderness, the Passover".[10]
Karena itu, dengan melihat adanya tema perubahan/pergantian yang
konsisten tsb, kita dapat menyimpulkan bahwa dengan memperkenalkan
mukjizat/tanda di Kana sebagai tanda pertama/first sign dari
serangkaian tanda berikutnya, Yohanes bermaksud menunjukkan adanya
pergantian dari "air" (yang melambangkan upacara penyucian bagi orang
Yahudi) dengan "anggur pilihan" (penyucian sesungguhnya oleh Yesus).
Ini menunjukkan superioritas Yesus atas segala sesuatunya, sebagaimana
B. Lindars berpendapat: "This indicates the superiority of Jesus over
the old Law.[11] Demikian juga, R. Schnackenburg menulis:
"Reading the miracle in Cana...any interpretation which departs from
the Christological perspective loses sight of the central issue. He
argues that Revelation in John is the self-revelation of Jesus; all
the rest stems from this.[12]
Jadi sesungguhnya dapat kita katakan bahwa dengan penegasan Yohanes
bahwa mukjizat di Kana adalah tanda pertama/terutama, Yohanes sedang
menuntut sebuah perhatian dari pembacanya akan DIMULAINYA penyataan
diri Yesus Kristus secara publik kepada dunia ini. Melalui peristiwa
Kana tsb, Yesus menyatakan diriNya sebagai pribadi yang berasal dari
Allah, bersama Allah serta menyatakan Allah (Yoh.1:1,14,18 cf. 5:17,
19; 9:31f; 10:38; 11:40f; 14:11f). Karena itu, kita mengerti mengapa
Yohanes segera menghubungkan mukjizat Yesus tsb dengan penyataan
kemuliaan Yesus, yang mengacu kepada pribadi YHWH, sebagaimana akan
kita lihat kemudian.
Ketiga, mengubah air menjadi anggur juga penting, di mana itu dilihat
sbg sebuah simbol, merupakan karunia Mesianis yang bersifat
eskatologis.[13] Menarik juga untuk diperhatikan bahwa di dalam PL dan
Judaisme, adanya anggur[14] yang melimpah dikaitkan dengan era/zaman
keselamatan.[15] (Band. Kej.49:11 dstnya, berkat yg diberikan oleh
Yakub; baca juga Yes.25:6-8 dan Yer.31:12). Kedua kutipan dari kitab
Yes. dan Yer.tsb di atas berhubungan dengan peristiwa eskatologis
(akhir zaman).
Keempat, hal lainnya yang menarik utk diperhatikan adalah bhw menurut
tradisi Yahudi, anggur pada zaman baru (New Age) hanya disediakan pada
perjamuan di akhir zaman; dan itu hanya disediakan oleh Allah sendiri.
Namun dalam Injil Yohanes kita menemukan bhw anggur yang terbaik itu
disediakan sekarang. Karena itu, H.C. Kee dgn tepat mengatakan:
"...that Jesus brings the best wine now, which he refers it to
eschatological joy. Hence, his people do not need to wait until the
end of the Age. In other words, the goal of history is being present
in Jesus.[16]
Jadi dari apa yang kita diskusikan di atas, kita dapat menyimpulkan
bahwa dengan tanda pertama itu, Yohanes menunjukkan bahwa Yesus
mengambil peran sebagai Allah. Kesimpulan tsb diteguhkan dengan
pernyataan Yohanes: "...dengan itu telah menyatakan kemuliaanNya"
(Yoh.2:11).
Jika kita perhatikan secara teliti, maka tema kemuliaan ini menjadi
salah satu tema besar dari Injil Yohanes yang juga mengacu kepada diri
Allah.[17] Pada pasal sebelumnya (1:14) ada dua tema penting yang
dikaitkan dengan Yesus, yaitu "tabernakel" dan "kemuliaan", di mana
kedua tema tsb sangat sering dikaitkan dengan YHWH pada PL.
(Kel.33:7,18; Joel.3:17; Zak.2:10; Maz.97:6; Maz.102:16; Yes.6:3).
Itulah sebabnya penting untuk kita perhatikan bahwa di dalam Injil
Yohanes, tema yang seringkali mengakibatkan orang2 Yahudi memusuhi
Yesus adalah tema kemuliaan yang diberikan kepada Yesus (Yoh. 5:41-47;
7:18; 8:49-59), di mana orang Yahudi mengetahui makna pernyataan tsb
sebagai yang layak diberikan kepada YHWH. (Catatan, dalam terjemahan
tsb di atas, kata "doxa", yaitu kemuliaan, diterjemahkan dengan kata
"hormat").
IV. Tanda terakhir (Kebangkitan Lazarus: Yoh.11)
Salah satu tema penting dan menonjol dalam Injil Yohanes adalah
"waktu" (wra). Tema ini pertama kali muncul dalam Yoh.2 ("… saatKu
belum tiba"; ayat 4), dan selanjutnya terus menerus diulang di dalam
Injil ini (cf: 2:4; 4:6,21,23,52,53; 5:25,28,35; 7:30; 8:20; 11:9;
12:23,27; 13:1; 16:2,4,21,25,32; 17:1; 19:14,27).[18] Dapat kita
katakan bahwa tema ini jugalah yang membagi Injil Yohanes menjadi dua
bagian: "waktuKu belum tiba" (2:4; 7:6-8,30; 8:20) dan "saat/waktuKu
sudah tiba" atau "sudah tiba saatnya" (12:23; 13:1; 17:1). Suhartono
secara khusus telah membahas tema ini dalam disertasi doktoralnya yang
berjudul: A Quest for Time.[19]
Setelah Lazarus dibangkitan,[20] maka untuk pertama kalinya dalam
Injil Yohanes, Yesus menegaskan: "Telah tiba saatnya Anak Manusia
dimuliakan" (12:23). Karena itu, Bultmann berpendapat bahwa kematian
Lazarus merupakan waktu krisis,[21] dalam arti, melalui kematian dan
kebangkitan Lazarus, rencana pembunuhan Yesus dimulai! (11:53). Itulah
sebabnya sekalipun Yesus melakukan berbagai macam mukjizat, banyak
ahli berpendapat bahwa tanda Lazarus tsb merupakan tanda terbesar[22]
dan merupakan klimaks dari seluruh tanda di dalam Injil Yohanes.[23]
Carson malah menulis: "this is the climactic and most dramatic
miraculous sign in the Gospel of John.[24] Demikian juga, Lindars
berpendapat bhw "the raising of Lazarus is unique in that everything
-all the signs that have been mentioned previously- is subordinate to
the overriding aim of making the maximum emotional impact.[25]
Kelihatannya, Yohanes dengan sengaja menaruh peristiwa kebangkitan
Lazarus tsb sebagai yang terakhir dari seluruh mukjizat yang dilakukan
Yesus. Dengan demikian Yohanes mendemonstrasikan secara nyata bahwa
memang Dia adalah kebangkitan dan hidup (11:25). Dalam narasi Yohanes
yang bersifat progressif tsb, kita dapat melihat bahwa peristiwa
'perjalanan' Lazarus dari maut menuju hidup menjadi symbol dari
'perjalanan' Yesus selanjutnya, yaitu kematian dan kebangkitanNya.
Dan ketika Yesus memprolamirkan bahwa Dia adalah kebangkitan dan hidup
itu, dengan bangkitnya Lazarus sebagai perwakilan dari semua orang
yang percaya kepadaNya, genaplah juga kebangkitan setiap orang (kita)
yang percaya kepadaNya (11:26).
Selanjutnya, jika kita menggabungkan kisah ini dengan mukjizat
sebelumnya, yaitu Yesus menyembuhkan mata orang buta (Yoh.9), maka
kita melihat kembali penggenapan dari pengajaran Kristologi yang
sebelumnya telah ditegaskan dalam pendahuluan Yohanes, bahwa Yesus
adalah TERANG DAN KEHIDUPAN ITU (1:4) Dengan demikian kita melihat
betapa indah dan teraturnya Yohanes mengatur narasi mukjizat tsb
sebagai tanda penting dari Kristologi Yohanes. Dalam Yohanes pasal 9,
penyembuhan orang buta mendramatisasikan tema Yesus sebagai terang,
sedangkan dalam pasal 11, kebangkitan Lazarus mendramatisasikan
kebangkitan Yesus sendiri. Jadi, tanda itu menjadi semacam alat peraga
(dalam konteks sekolah minggu) bagi pembaca sebelum Yohanes memberikan
pengajaran2 Kristologi yang sangat penting.
Penutup
Setelah mempelajari kedua mukjizat tsb di atas, marilah kita
pelajari/diskusikan apa makna dari mukjizat2 lainnya. Apa artinya itu
dalam kehidupan kita sehari-hari?
Setelah Tuhan Yesus selesai melakukan mukjizat, yaitu memberi makan
5000 orang, maka orang banyak terus mengejar Tuhan Yesus. Menarik
sekali untuk diperhatikan bahwa ketika orang banyak menemukan Yesus
di seberang laut itu, mereka berkata kepadaNya: "Rabi, bilamana Engkau
tiba di sini?" (6:25). Mari kita perhatikan jawaban Yesus: "Aku
berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu
telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu
dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat
binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang
kekal…" (Yoh.6:26-27).-
________________________________
[1] William F. Arndt and Gingrich, A Greek-English Lexicon of the New
Testament and Other Early Christian Literature. 3rd edition of BAGD
revised by F.W. Danker (Chicago: University of Chicago Press, 2000),
755-56.
[2] Merrill C. Tenney, "Topics from the Gospel of John", Bibliotheca
Sacra, 132, 1975, 145.
[3] Mat.16:1,3,4; 24:3,24,30; Mark 13:4,22; Luk 2:12;21:7,11,25).
[4] Kis. 2:22,43; 4:16,22,30;7:36).
[5] Bentuk jamak dari "semeion".
[6] W.Nicol, The Semeia, 113. There are seventeen occurences of the
word "shmeia" in the Gospel of John that can be divided to four
groups. First, seven times from the lips of Jews: 2:18; 3:2; 6:30;
7:31; 9:16; 10:41; 11:47. Secondly, five times as object of the Jews'
perception: 2:23; 4:48; 6:2,14; 12:18. Thirdly, four times in the
commentary of the narrator: 2:11; 4:54; 12:37; 20:30. And fourthly,
once in the mouth of Jesus: 6:26.
[7] C.K. Barrett, John, 161. R.E. Schnackenburg, John, I, 335.
[8] In John 2:18f when Jesus was asked by the Jews to prove his
authority, we read Jesus answers to them, "Destroy this temple, and I
will raise it again in three days". Even though the Jews understood
it as referring to the actual temple in Jerusalem, but John tells us
that Jesus refers to his body. The raising of the temple here is
pointing to the coming event when Jesus rose from the dead. Here
Davies argues that when Jesus here spoke of his resurrection, Jesus
was also suggesting the coming of the Church into being, namely
through his resurrection. Hence, like the story of the water turning
into wine, Davis contends that the cleansing of the Temple is a sign
that in the coming of Jesus a new order has begun. He asserts that
Judaism has given place to the Gospel; the Old Israel has given way to
the New Israel, namely the Church as indicated by the old order of
purification to a new. "The Johannine 'signs' of Jesus, A Companion,
96.
[9] In John 4:19-26 we find Jesus' dialogue with the Samaritans
woman. Jesus asserts to the Samaritans woman that he himself has
become the "place" where God and man meet in spirit and truth. Hence,
as John has declared in the Prologue that Jesus tabernacles among his
people, here in this chapter, Jesus has replaced both Gerizim and
Jerusalem, the supreme holy places for both the Samaritans and Jews,
as the place for worship. This new order of worship in and through him
is already a present fact. Notice the words, " Yet a time is coming
and now is…" (kai nun estin) in verse 23.
[10] Carson, John, 98.
[11] Lindars, John, 131. Bernard, John, 1, 81. Hoskyns points out that
purification was also the theme of John the Baptist, as it was of the
law of Moses under which the wedding feast lived. Therefore, Hoskyns
asserts that to do this sign was very relevant and effective for
Jesus' disciples in directing their faith. The Fourth, 186.
[12] The question as to whether Jesus is the hoped-for Messiah is a
lively one (1:41, 45; 7:26f, 31, 41f; 10: 24f; 11:27; 12:34). But
Jesus reveals himself as the Messiah in a special and unique sense, as
the Son of Man come down from heaven, as the Son of God sent by the
Father and united to him, bringing revelation and light.
Schnackenburg, 337.
[13] Schnackenburg argues that wine in John does not occur as symbol
of the blood of Jesus, not even in 15:1-6; one could just as well
think of baptism on account of the water (in opposition to Jewish
baptisms or the baptism of the disciples of John). Schnackenburg,
John, I, 338. However, some suggest -like Clement of Alexandria, Cyril
of Jerusalem and Cyprian- that the "best wine" of the Cana story may
have been intended to remind the readers of the Gospel of Eucharistic
wine. What are the external and internal criteria used to establish
the possibility of this interpretation? Externally, there was a second
or third century fresco in an Alexandrian catacomb joins Cana and the
multiplication of the loaves. Niewalda, 137. Therefore they conclude
that in John bread and wine and the multiplication of the loaves has
undeniable Eucharistic overtones. Irenaeus, Adv. Haer, III. 16:7.
Further, Irenaeus, speaking of Cana, mentions that Mary wanted before
time to partake of "the cup of recapitulation", and this seems to be a
reference to the Eucharistic cup. Internally, the Gospel itself does
draw a connection between the Cana scene and the hour which is to
begin formally at the Last Supper (13:1). They find also the dating of
the Cana miracle (2:13), of the multiplication of the loaves (6:4),
and of the Last Supper to the period before Passover does seem to bind
the three scenes together.
[14] This wine was accompanied by oil or milk. R.E. Brown, John, 1, 105.
[15] Amos 9:13; Hos.2:24; Joel 4:18; Isa.29:17; Jer.31:5; see also
Enoch 10:19; Apoc Bar Syr 29:5; or Sib II.317f; III.620-4, 744f).
[16] H.C. Kee, Jesus in History. An Approach to the Study of the
Gospels, 2nd ed. (New York: Harcourt Brace Jovanovich, Inc, 1977),
22f.
[17] Ini menjadi judul disertasi saya: "The Glory of Jesus in the
Gospel of John". Mohon doa utk tahap koreksi dan penyelesaian
disertasi tsb, kiranya kelak menjadi berkat bagi umatNya.
[18] In the New Testament, the word "wra " occurs 106 times. It can be
an exact indication of time, as it refers to the word "kairoV", or a
description of limited time. Verlyn Verbrugge, ed. The NIV Theological
Dictionary of NT Words (Grand Rapids: Zondervan, 2000), 1382. In
John's Gospel the word occurs 26 times and it is frequently used to
designate a particular and significant period in Jesus' life. So, R.E.
Brown, John, I, 517.
[19] M.E. Suhartono, A Quest for Time (Unpublished dissertation.
Cambridge University, 1994), 4. Suhartono asserts that the Gospel's
concept of time is deemed to be of capital importance for
understanding its specific contribution to the idea of history. Ibid.
This term also often relates with the eschatology of John's Gospel
with its so called "realized eschatology" which has for long time been
contrasted with the so called futuristic eschatology of the Synoptic
Gospels. Most scholars perceive that time is subordinated to the
person and actions of Jesus. Hence this is important to remind us what
Chrysostom once has asserted that Jesus, being the Creator of Time,
is not subject to time. Jerome Chrysostom, Homilies of St John
Chrysostom on the letters of St Paul to Titus and Philemon. XXII.1. In
all temporal expressions, it becomes clear in this John's Gospel that
the theological importance takes precedence over chronological
contingencies. They serve as stepping stones for a deeper
understanding of who Jesus is.
[20] Since this account is not found in the Synoptic Gospels, some
scholars reject this as historical. Richardson for instance writes
that the reason for thinking that the Lazarus story is not literally
true is not that it is difficult to believe. Rather, the difficulty
about accepting it as literally true is that it cannot be reconciled
with the Synoptic tradition. An Introduction of the New Testament
(London: 1958), 102. However, since the Synoptic Gospels had enough
material of their own, it is not necessary to think that they should
include some of the things that John narrates. Those who do not take
the story as historical, they suggest that the story is inspired by
the scattered references in Luke (the combination of Mary and Martha
of Luke 10:38-42 and the Lazarus' story of Luke 16:19-31).
Nevertheless, we find a strong impression that John has narrated a
true and real story. Perhaps we need to bear in mind what the
assertion of Beasley-Murray, "One should… keep steadfastly in mind
that he who wrote the Gospel of the Word made flesh viewed history as
of importance; he would never have related a story of Jesus, still
less created one, that he did not have reason to believe took place".
John, 199. Hence we can notice the multiplicity of factual details
that John includes. Therefore, we understand that some scholars like
Hunter are impressed by the evidences found in the Gospel. Hunter does
not ignore the problem posed by the silence of the Synoptic Gospels,
and perhaps it may never be resolved. Hunter writes that of the vivid
and lifelike detail of the narrative, and of the abundant evidence
that John had access to good independent sources of information about
Jesus. Therefore he asserts that the one thing should not do is to
dismiss this famous story as fiction. A.M. Hunter. The Gospel
According to John (Cambrige: CUP, 1965),
[21] Bultmann, John, 394.
[22] Dorothy A. Lee, The Symbolic Narratives of the Fourth Gospel. The
Interplay of Form and Meaning (Sheffield: Sheffield Academic Press,
1994), 188. Saya pribadi setuju bahwa mukjizat Lazarus tsb sebagai
klimaks yang menuju kepada kematian Yesus. Tapi saya tdk melihat itu
sebagai tanda terbesar, karena bagi saya, tanda terbesar sesungguhnya
adalah kematian Yesus itu sendiri. Itulah sebabnya Tuhan Yesus
menegaskan bhw kematian Lazarus tsb "menyatakan kemuliaan Allah"
(11:4).
[23] D.A. Carson, John, 403; B. Lindars, John, 382. L. Morris, John, 536.
[24] Ibid.
[25] Barnabas Lindars, The Gospel of John (London: Oliphants,
Marshall, Morgan & Scott, 1972), 382-3. R. Schnackenburg, John, vol.2,
316.
Posted by admin on August 23 2005 17:36:42 | 0 Comments · 10562 Reads -  |
|  |