 | Ringkasan Percakapan dengan Prof Peter Stuhlmacher di Fitzwilliam
College, Univ. Cambridge. Senin 26-5-03, jam 17.30- 19.00
Pertemuan yg dipandu oleh Prof Graham Stanton dari Faculty of
Divinity Camb University tsb diberi judul dengan "CONVERSAZIONE".
Prof Stanton mengatakan bahwa pertemuan tsb adalah merupakan
kesinambungan dari seminar yg dipimpin oleh Prof Martin Hengel, juga
dari Univ Tubingen, pada tahun yang lalu, yang juga diadakan di
Fakultas Theologia Universitas Cambridge.
Sebagaimana judulnya, maka sifat dari pertemuan itu adalah bersifat
dialog- tanya jawab. Karena itu, formasi peserta diatur duduk secara
melingkar. Sebelum dialog/tanya jawab dimulai, Stanton memulai
dengan memberi introduksi yg cukup panjang tentang pembicara.
Stanton menyebut berbagai artikel dan buku yang telah ditulis oleh
Stuhlmacher, yang sangat diterima secara luas di seluruh dunia,
khususnya buku yang telah diterjemahkan ke bhs Inggris. Beberapa di
antaranya adalah: Romans, Biblical Theology of the New Testament,
Historical Criticism and the Theological Interpretation. Setelah
itu, Stanton mengatakan kekagumannya terhadap Stuhlmacher: "He is
one of the two giants from Tubingen University, another one is
Martin Hengel... "
Setelah introduksi tersebut, Stanton memberikan pertanyaan: "Sejauh
mana Anda mengikuti E Kasemann, dan di mana Anda meninggalkannya?"
Menarik sekali, Stuhlmacher memerikan perbedaannya terhadap Kasemann
dalam waktu yang cukup lama. Salah satu yg dikatakannya adalah bahwa
Kasemann tidak melihat Roma 3:21-26 sebagai penebusan Yesus Kristus
bagi umatNya, tapi dia hanya melihat itu sebagai penggenapan dari
Hukum Taurat I.
Selanjutnya, beliau menegaskan hal berikut ini:
Kita harus teguh melihat bahwa Ro.3:21-26 adalah sungguh2 doktrin
penebusan melalui pengorbanan Tuhan Yesus. (sama dengan seminar yg
dia bawakan di Tyndale House)
Kita harus melihat bahwa Gereja mula-mula memperlakukan
Perjanjian Lama dan Septuagint (LXX) sebagai firman Allah yang
sangat otoritatif. Di samping itu, kemudian gereja mula-mula
menerima kanon PB sebagai setara dengan PL yang diterima sebagai
Kitab Suci atau the Holy Scriptures.
Injil Lukas juga harus diperlakukan secara serius. "Saya tahu 8,5
dari 10 ahli akan mengatakan bahwa itu tdk ditulis oleh Lukas".
katanya. Kemudian beliau mengacu kepada satu disertasi doktoral di
Tubingen yg berdasarkan prologue Luke (pembukaan Lukas, ayat 1-4).
Dalam research itu terdapat satu pandangan yang sangat meyakinkan
bahwa memang Lukaslah yang menulis kitab itu. Hal itu disebabkan
bahwa memang di zaman itu, dokter dengan tunggangannya lazim travel
ke sana ke mari untuk mengobati pasien. Dalam kesempatan itulah dia
dapat mengumpulkan berbagai data (sebagaimana ditegaskan Lukas)
tentang siapa Yesus. Beliau juga mengacu kepada Prof Martin Hengel
untuk melihat "we" language dalam Kisah para Rasul secara serius.
Menjawab pertanyaan seorang ahli PL tentang bagaimana Stuhlmacher
melihat PL dan PB dalam konteks Allah berfirman, beliau mengatakan
keyakinannya bahwa Allah memang berfirman kepada umatNya Israel di
PL. Peristiwa2 di PL harus dilihat sebagaimana dia dituliskan,
termasuk peristiwa terbelahnya laut Teberau. Dengan mata melotot dan
dgn nada tinggi beliau bertanya, "Siapakah kita sehingga kita bisa
mengatakan bahwa hal itu tidak benar2 terjadi?" Kemudian
ditegaskannya: "As long as we don't know better than the previus
generations, let's accept the traditional's views, and let's
celebrate them". Beliau juga menegaskan bahwa Allah berbicara kepada
umatNya di dalam PB melalui Yesus. "He was and is the only
revelation of God", tandasnya. Semua sabda dan kehidupan Yesus telah
dituliskan secara narrasi oleh Synoptic yang kemudian dilengkapi
dengan penafsiran spiritual/theologis oleh Injil Yohanes".
Ketika saya mengacu kepada bukunya "Jesus of Nazareth" yg sangat
berkesan bagi saya pribadi, khususnya dalam kaitannya dengan Yesus
sejarah, maka saya menanyakan bagaimana dia berespon terhadap Jesus
Seminar yang hanya mengakui 7 ayat dalam Injil Synoptik sebagai yg
asli. Dan bagaimana pula dia berespon thdp theolog yang bukan saja
tdk mengakui keallahan Yesus, tetapi juga mempertanyakan
eksistensinya (dengan menanyakan: "Did Jesus ever exist?"). Pertama,
beliau mengatakan bahwa Yesusnya the Jesus Seminar hanyalah seorang
manusia aneh yang bernama Yesus dari Galilea. Tapi itu bukan
Yesusnya Alkitab, itu bukan Yesus yang digambarkan oleh para
rasul2. "Itulah sebabnya kita harus memperlakukan PB kita secara
sungguh2. Kita harus membaca tulisan mereka secara sungguh2
sebagaimana mereka memaksudkannya. Kita juga harus hati2 terhadap
segala sikap prejudice kita, bahwa seakan-akan semuanya itu ditulis
dari kaca mata postresurrection, yg merupakan karangan rasul-rasul
semata". Dengan mata agak terbelalak (sebagaimana pak Tong kalau lagi melotot di
mimbar; red) dan juga dengan nada tinggi, beliau bertanya: "If the
New Testament was not treated as a primary resource in the early
Churches, I really want to ask, `Who pruduced that book, and for
whom and under what circumstances', please if anybody could answer
me". Beliau menegaskan bahwa kita tidak menemukan fakta bhw orang
Yahudi di zaman dulu dan sekarang menciptakan cerita yang sama atau
sejenis sebagaimana tertulis di dalam kanon PB. Tentang the Jesus
Seminar, beliau kemudian mengatakan, "This is a good example of how
the Bible was treated wrongly. The Jesus Seminar concentrated only
to what they wished Jesus to say". Selanjutnya, beliau menjelaskan
bahwa pernyataan Alkitab itu tidak semuanya post easter term. Beliau
mengacu kepada istilah Bapa, di dalam doa Bapa kami, yg sungguh
merupakan pre-easter, tanpa memberi penjelasan. Selanjutnya beliau
mengkritik theolog yang memandang injil Yohanes sebagai tdk
memiliki historicity. Beliau kemudian bertanya: "Bagaimana Anda
menjelaskan tentang banyak hal detail di dalam Injil Yohanes, yang
merupakan karya dari saksi mata? Perhatikan detailnya kolam Bethesda
di Yoh.5, kolam Siloam, lembah Kidron, narrasi penderitaan dan
penyaliban Tuhan Yesus yang penuh dengan fakta2 detail..."
Karena masih penasaran dgn jawaban beliau tsb, setelah selesai
acara, saya melanjutkan dengan pertanyaan pribadi tentang mengapa
orang sampai kepada kesimpulan bahwa Yesus itu tidak pernah ada.
Beliau menjawab bahwa itulah masalah mereka yang datang dengan
pendekatan, apa yg disebut dengan pencerahan; kecuali akalnya
benar2 diyakinkan, dia tdk mau menerima. Lalu beliau menyebut
beberapa ahli di dunia, spt E.P. Sander, yg mengatakan dgn tegas
kepadanya, bhw memang dia akan terus kritis terhadap semua
pernyataan Alkitab. Jika tdk masuk akal, dia akan menolak! Kalimat
terakhir ini membuat saya semakin memahami nasehat beliau kepada
saya mengakhiri supervisi dengannya di pagi hari. Beliau
mengatakan, "Sementara sdr membaca semua pandangan para ahli
tersebut, sdr harus selalu berhati-hati agar jangan bergantung
kepada mereka. Tetap teliti dan bersandar kepada apa yang dikatakan
oleh Injil Yohanes. Dengan demikian, sdr akan benar2
mempresentasikan The Glory of Jesus According to John,
not according to scholars".
Pdt Mangapul Sagala: Tyndale House, 36 Selwin Gardens
Cambridge CB3 9BA, UK.Tel:44-01223-359102 (6-8 am; 8-10 pm)
Email:vicke12000@yahoo.com
Posted by admin on August 24 2005 18:23:05 | 0 Comments · 8540 Reads -  |
|  |