 | PEMBOROSAN YANG DIPUJI
Bagaimana reaksi Anda terhadap judul tsb di atas? tidak setuju? Anda
mengerutkan kening?. Atau protes dan marah?. reaksi tersebut wajar saja.
Saya tidak menyalahkan Anda atas reaksi tersebut. Sebab kita semua
setuju bahwa pemborosan itu tidak benar. Apalagi sebagai umat Allah,
yang mengerti anugerah Allah, kita harus menjauhkan diri dari gaya hidup
boros. Sebaliknya kita harus melatih diri dan meningkatkan diri dengan
gaya hidup hemat.
Namun, Anda juga jangan terlalu cepat menyalahkan saya atas judul tsb di
atas, karena hal itu adalah fakta. Hal itu terjadi di kota Betania,
ketika Tuhan Yesus diurapi oleh seorang perempuan dengan minyak narwastu
murni yang mahal harganya". (Mark. 14:3)
Ada dua reaksi yang muncul terhadap tindakan tsb.
Pertama, Markus menulis : "Ada orang yang menjadi gusar". Siapakah orang
yang menjadi gusar tersebut?. Menurut Penginjil Matius, mereka itu
adalah murid-murid (Mat. 26:8). Mereka protes dan berkata "Untuk apa
pemborosan minyak narwastu ini? (Mark. 14:4).
Mengapa mereka berkata demikian? Mereka mengatakan demikian bukanlah
tanpa alasan. Mereka justru memiliki alasan yang kuat; mereka telah
mengadakan perhitungan. Murid-murid tsb adalah 'ahli ekonomi', dan
nampaknya juga berjiwa sosial. Perhatikan alasan mereka: Sebab minyak
ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih dan uangnya dapat diberikan
kepada orang-orang miskin" (ay. 5). Cukup beralasan bukan?. Dan alasan
tsb nampaknya amat logis. Bukankah harga tiga ratus dinar itu sangat
mahal?. Pliny the Elder juga menulis bahwa minyak itu sangat mahal.
Menurut dia, minyak itu adalah ".the best oinment, preserved in
alabaster. The value of the perfume, and its identification as nard,
suggests that it was a family heirloom that was passed on from one
generation to another, from mother to daughter" (Natural History
XIII.iii.19). Menurut kamus Alkitab, satu dinar adalah upah 1 hari buruh
di waktu itu. Berarti, harga minyak tsb, lebih dari upah buruh selama
300 hari! . Atau upah buruh 10 bulan!. Jumlah sebesar itu barangkali
merupakan tabungan bertahun-tahun, atau tabungan 10 bln dengan catatan
semua upah tidak dibelanjakan sama sekali. Jumlah uang sebesar itu
dihabiskan hanya dalam waktu sekejap mata, tidak sampai 1 hari. Minyak
khusus yang sangat mahal itu , dicurahkan ke atas kepala Yesus. Bukankah
hal itu pemborosan?. Barangkali murid-murid berkata : "Cinta sih cinta,
tetapi jangan berlebih-lebihan dong. Bersyukur sih bersyukur, tapi yang
benar dong caranya. Logis sedikit, gimana sih?. Masa boros seperti itu".
Sebagai akibatnya Markus menulis: "Mereka memarahi perempuan". Kasihan
juga perempuan tsb. Murid-murid telah memojokkannya. Mereka
menyalahkannya.
Namun reaksi kedua, yaitu reaksi Tuhan Yesus tidaklah demikian. Yesus
tidak menyalahkannya, malah membela perempuan tersebut. Itulah sebabnya
Yesus menegur mereka dan berkata : "Biarkanlah dia. Mengapa kamu
menyusahkan dia?" (ay. 6). Dan perhatikan penilaian Yesus terhadapnya :
" Ia telah melakukan sesuatu perbuatan yang baik padaKu" (ay.6). Menarik
sekali bukan?. Murid-murid menyalahkannya, tetapi Yesus membenarkannya
dan mengatakan tindakan 'pemborosan' tersebut sebagai perbuatan yang
baik. Bahkan Tuhan Yesus memberikan suatu pernyataan yang luar biasa:
"Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang
dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat Dia." (ay. 9). Luar
biasa bukan?
Di mana saja Injil diberitakan, tidak hanya di Bethania, atau di
Yerusalem atau di seluruh Yudea, tetapi di seluruh dunia, perbuatan
perempuan tsb akan diberitakan juga. Dan Yesus menegaskan lagi : "Untuk
mengingat dia". Tuhan Yesus tidak mau perbuatan tersebut didiamkan dan
dilupakan, tapi harus disebut dan diberitakan. Dia juga tidak mau orang
tersebut. dilupakan, tapi harus diingat.
Mengapa demikian?. Terus terang, saya sangat terharu membaca pernyataan
tersebut. Jikalau Tuhan Yesus mengatakan Injil harus diberitakan di
seluruh dunia -dan memang harus demikian- wajar sekali, bukan? Kalau
Injil, yaitu Kristus yang mati dan bangkit untuk keselamatan manusia
harus selalu diingat dan tidak boleh dilupakan, wajar saja bukan? Tetapi
mengapa perempuan dan tindakan yang disebut pemborosan tersebut harus
diberitakan?. Di seluruh dunia lagi.
Dari fakta tersebut di atas, kita melihat adanya dua macam sistim nilai,
yaitu nilai yang dianut oleh murid-murid dan nilai yang di anut oleh
Tuhan Yesus. Hal ini sangat menarik untuk diperhatikan. Apa yang disebut
dengan pemborosan bagi murid-murid justru sebaliknya, baik dan dipuji
oleh Tuhan Yesus. Mengapa?
Marilah kita melihat arti dari istilah tersebut. Pemborosan adalah suatu
tindakan yang membelanjakan lebih dari yang patut, bukan?. Jadi, bila
seseorang harus membelanjakan Rp. 4.juta- per bulan, tetapi dia
membelanjakan lebih dari situ, misalnya, Rp. 40.juta, itu adalah
pemborosan. Namun andaikata orang tersebut memang harus mengeluarkan
uang sebesar itu, misalnya karena harus memperbaiki rumah atau biaya
rumah sakit, apakah tindakan tersebut dapat disebut dengan pemborosan?
Tentu saja, tidak. Jadi sebenarnya, persoalan pemborosan bukanlah soal
berapa harga atau jumlah yang harus dikeluarkan, tetapi lebih kepada
soal patut atau tidaknya, tepat atau tidaknya dikeluarkan uang sejumlah
itu.
Di sinilah letak perbedaan nilai itu. Bagi murid-murid, melakukan
tindakan tersebut di atas, adalah pemborosan. Karena hal itu tidak
patut. Tindakan tersebut tidak tepat. Masa harus memboroskan minyak
seharga lebih dari 300 dinar 'hanya' untuk satu pribadi bernama Yesus.
Lebih baik dan lebih patut itu diberikan kepada sekelompok orang-orang
miskin (ay. 5). Namun sebagaimana telah kita lihat di atas, Tuhan Yesus
memiliki penilaian yang berbeda terhadap tindakan tersebut. Kita membaca
dengan jelas bahwa tindakan itu baik bagi Yesus.
Hati saya sungguh terharu, dan air mata saya bercucuran ketika
merenungkan kalimat-kalimat Yesus berikut : "Karena orang-orang miskin
selalu ada padamu dan kamu dapat menolong mereka, bilamana kamu
menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu." (1y
7).Rupanya Tuhan Yesus sudah lama menunggu adanya orang-orang yang mau
melakukan tindakan pemborosan untukNya, tetapi tidak kunjung dialamiNya.
Apakah Tuhan Yesus tidak setuju agar murid-murid memperhatikan
orang-orang miskin?. Pasti setuju. Tuhan Yesus pun memperhatikan mereka.
Bahkan untuk itulah Tuhan Yesus telah datang. Tuhan Yesus telah
meninggalkan BapaNya dan segala kemuliaanNya, justru bagi orang-orang
miskin. Tuhan Yesus telah 'merusak' diriNya dengan menjadi manusia. Dia
datang sebagai hamba! (Fil.2:6-8). Tuhan Yesus telah rela
disalah-mengerti, dicemooh, ditolak, dan tidak lama setelah peristiwa
itu, serangkaian tindakan sadis tanpa perikemanusiaan akan diterimaNya.
Dia dicambuk, diberi mahkota duri dan disalibkan! Segera sesudah itu,
Dia juga akan ditolak dan ditinggalkan oleh yang paling dikasihiNya,
yaitu ditinggalkan oleh BapaNya.
Namun demikian, Dia telah mengambil keputusan itu. Dia rela menerima
itu, demi ketaatanNya pada BapaNya. Tetapi juga, demi kasihNya kepada
semua orang berdosa, termasuk orang-orang miskin. Sesungguh-sungguhnya,
kalau istilah pemborosan, seperti yang digunakan murid-murid boleh
dipakai, maka Yesuspun telah -dan akan-memboroskan seluruh hidupNya
(jadi bukan hanya milikNya) bagi orang-orang miskin serta bagi murid2
yang dikasihiNya tersebut.
Tetapi itulah kenyataan yang dihadapi Yesus. Mereka semua -termasuk
murid-muridNya-belum pernah memboroskan milik dan hidupnya bagi Yesus.
Mereka terlalu pintar membuat perhitungan terhadap Yesus. Murid-murid,
seperti sunguh-sunguh terbeban dan mau peduli terhadap pelayanan kepada
orang-orang miskin lebih daripada beban dan kepedulian mereka terhadap
Yesus, pemilik pelayanan itu. Apakah mereka sungguh-sungguh
memperhatikan orang-orang miskin? Itu masalah lain lagi, karena tidak
sedikit orang dalam mulutnya seperti sangat perduli terhadap sesama,
tetapi pada kenyataannya, mereka mengabaikannya bahkan berbuat kejahatan
kepada mereka.
Sesungguhnya Yesus yang memiliki penglihatan dan emosi yang sempurna
ingin melihat dan merasakan adanya orang mengikuti teladanNya, meskipun
tentu tidak mungkin ada yang menyamaiNya. Tuhan Yesus ingin agar mereka
yang dikasihiNya juga memboroskan hidup bagiNya. Itu berarti
mengutamakan Dia lebih dari segalanya, seperti Dia sendiri telah
mengutamakan umatNya. Dia mengutamakan umat lebih dari segalanya, bahkan
lebih dari diriNya. Karena sebagaimana nyata kemudian, akhirnya, diriNya
pun dikorbankanNya demi mereka. Itulah sebabnya penglihatan Yesus begitu
dipuaskan oleh tindakan perempuan itu. EmosiNya begitu meluap-luap dan
mengatakan bahwa dimana saja Injil diberitakan di seluruh dunia,
perbuatannya harus disebut, untuk mengingat dia.
Bicara tentang Injil, apakah sebenarnya inti daripada Injil? Bolehkah
saya megatakan bahwa sesungguhnya Injil itu adalah tindakan seseorang
yang telah memboroskan seluruh hidupNya bagi umat manusia? Tetapi di
sisi lain, Tuhan Yesus mengatakan bahwa Injil ini juga berita
'pemborosan' dari seseorang kepada Dia yang patut menerimanya.
Yesus ingin agar hal tsb diberitakan. Yesus ingin agar perempuan tsb
selalu diingat. Karena hal tsb, telah memuaskan hatiNya. Karena orang
tsb. telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang anak
manusia bagi Tuhan dan Juruselamatnya.
Saya sangat yakin, hingga kinipun Yesus menunggu tindakan seperti itu
dilakukan untukNya. Yesus memang tidak memaksa orang-orang untuk
melakukan hal tsb, seperti Dia juga tidak memaksa murid-murid. Memang
pernah Dia mengatakan bahwa untuk menjadi pengikutNya haruslah rela
mengutamakan Dia lebih dari pada harta, seluruh milik, bahkan dirinya.
(Mat. 10:37-39). Tetapi Yesus menunggu dan masih terus menunggu di
manakah ada hati yang berambisi memberi yang terbaik, memberi seluruh
milik dan dirinya kepada Yesus. Hal itu sunguh memuaskan hati Yesus.
Saudaraku, ketika merenungkan kasih dan pengorbanan Yesus, seorang yang
bernama C.T.Studd pernah berkata: "If Jesus is God and died for me,
then, there is no sacrifice can be too great for me to make for Him"
(Jikalalu Yesus adalah Allah dan mati untuk saya, tidak ada lagi korban
yang terlalu besar untuk saya persembahkan bagiNya). Ketika William
Borden menyerahkan seluruh hidupnya kepada Yesus dan memberitakan Injil
kemana-mana, termasuk di daerah-daerah sulit, tetapi kemudian meninggal
dunia karena penyakit radang otak, banyak kawannya menyayangkan dan
menyesalkan tidakan orang muda tsb. Menurut mereka, seorang seperti dia
yang penuh harapan, dari keluarga terkenal dan kaya, lulusan dari Yale
University, tidak seharusnya mengabiskan hidupnya secara demikian.
Borden meninggal dalam usia muda, 38 tahun. Diduga, karena terlalu capek
dan stress dalam pelayanan yang begitu sulit. Tetapi Borden tidak
menyesal. Karena kemudian orang menemukan sehelai kertas di tempat
pembaringannya dengan tulisan: " No reserve. No retreat. No regret".
Rupanya, pada detik-detik terakhir kehidupannya, dia berusaha keras
menulis kalimat tsb, sebagai pesannya bagi kawan-kawannya dan bagi
seluruh dunia bahwa dia mengikut Yesus: "Tanpa syarat. Pantang mundur,
Tidak menyesal".
Bagaimana dengan Anda sekalian?. Maukah Anda 'memboroskan' seluruh hidup
Anda bagi Dia?. Hal itu sangat memuaskan hatiNya. Itulah doa dan
kerinduan saya bagi kita semua. Kiranya Anda tidak menyesal di akhir
hidup Anda, karena kurang 'memboroskan' diri bagi Dia, tetapi terlalu
memboroskan diri bagi yang lain.
MARILAH, KITA MEMBOROSKAN HIDUP KITA BAGI DIA. Karena itulah cara hidup
yang benar. Itulah cara hidup yang terbaik. Jika kita berhasil melakukan
itu, mari senantiasa kita ingat bahwa hal itu pasti memuaskan Dia dan
memuaskan kita juga.
Posted by admin on August 24 2005 19:03:20 | 0 Comments · 4071 Reads -  |
|  |