 | Memahami Makna Hidup
Exposisi Yoh.5.
Pengantar.
Salah satu tema yang sangat penting untuk diketahui oleh orang hidup
adalah hidup itu sendiri. Khususnya bagi kita orang percaya, kita
perlu terus merenungkan makna hidup dilihat dari Firman Tuhan. Kalau
tidak, pemahaman kita akan hidup dapat menjadi begitu sekuler
(duniawi). Sedihnya, kita dapat tidak menyadari hal itu. Hal ini
bisa terjadi jika kondisi kerohanian kita semakin parah sehingga
kita kurang peka terhadap kerohanian dan nilai-nilai yg kita anut.
Ketidakpekaan ini bisa ditutupi dengan masih melakukan hal-hal
rutin: masih ke Gereja, masih memberi perpuluhan dan seterusnya.
Itulah sebabnya saya ingin membagikan perenungan pribadi saya dari
Yoh.5 tersebut di atas. Bagaimanakah Firman Tuhan tersebut di atas
mengajarkan tentang hidup?
PERTAMA, HIDUP ADALAH PERSAINGAN.
To live is to compete.
Pada bagian ini kita melihat bahwa di Yerusalem, dekat Pintu Gerbang
Domba, ada sebuah kolam Betesda yang memiliki lima serambi. Yohanes
menjelaskan bahwa di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar
orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang
lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu (ayat 2-3).
Bagaimanakah orang-orang sakit ini disembuhkan? Selanjutnya kita
membaca bahwa "Barangsiapa yang terdahulu masuk kedalam kolam itu
sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun penyakitnya (ayat
4).
Jadi 'aturan main" yang kita lihat di dalam Injil tsb adalah siapa
yang terdahulu. Mungkin ada orang yang mau bertanya, "mengapa harus
demikian? Apakah Allah yang sanggup menggoncangkan kolam tidak
sanggup menyembuhkan orang itu secara langsung? Mengapa harus susah-
susah merangkak ke kolam?". Tentu kita boleh saja bertanya demikian.
Tapi kenyataannya, itulah 'aturan main' yang kita baca. Dan yang
menetapkan aturannya bukan kita, tapi Allah sendiri. Sekalipun Dia
memang sanggup untuk menyembuhkan semua orang secara langsung, namun
Allah juga menginginkan umat/ciptaanNya mengambil bagian dalam
karya kasihNya. Dia telah menyediakan berkat di "sana", maka silakan
bertarung untuk menikmati berkat itu. Dan ingat, tidak hanya
bertarung dan masuk kolam. Tapi bertarung dan menjadi yang terdahulu.
Saya melihat bahwa prinsip atau 'aturan main' seperti ini juga
terjadi di sekitar kita. Tidak menjadi soal siapa orangnya, sukunya
dari mana, agamanya apa tetapi kalau dia memiliki unsur-unsur
persaingan yang membuat dia menjadi yang terdahulu, maka dia akan
mendapat berkat yang telah tersedia tersebut. Bicara mengenai hal-
hal yang penting dalam pertarungan, maka beberapa hal penting kita
sebutkan di sini seperti adanya visi dan tujuan hidup yang jelas,
memiliki perencanaan untuk mencapai tujuan tersebut, serta disiplin
dan kerja keras. Saya teringat juara marathon dari Jepang pada
olimpiade Sydney pada waktu yang lalu.
Mungkin, turut bersaing pada perlombaan itu adalah orang2 Kristen,
sudah dilahirkan kembali, saat teduhnya baik dan berdoa dengan
tekun. Namun tidak menjadi juara. Sebaliknya, nona Jepang tersebut,
yang baangkali tidak mengenal Kristus, dapat menikmati berkat itu.
Mengapa? Karena dia memiliki unsur-unsur bersaing. Dia yang
menantikan berkat itu telah sampai lebih dahulu di 'kolam itu'.
Memang sangat mengesankan bagaimana nona tersebut mempersiapkan diri
untuk menghadapi olimpiade tersebut. Dia bahkan sampai pindah ke
Sydney beberapa tahun sebelumnya (dua tahun?), dan berlatih secara
tekun dan teratur di lintasan lari yang akan dilaluinya kelak pada
saat olimpiade. Dari sini dia mengetahui di mana jalan menaik,
menurun, berbelok dan lurus. Dengan demikian, dia dapat mengatur
kecepatan larinya dengan tepat. Akhir dari persaingannya adalah dia
menjadi orang yang terdahulu. Maka sangat wajar, jika kemudian dia
menikmati hasil kerjakerasnya yg siap utk bertanding.
Ketepatan pada waktu setelah olimpiade tsb, saya berada di Jepang
dan beruntung dapat menyaksikan bagaimana nona ini (saya lupa
namanya) begitu menikmati hasil perjuangannya: baik dari sambutan
publik dengan tayangan di TV terus menerus, hadiah2 dari
perusahaan2 tertentu, serta disambut dan dihormati di dalam
pertemuan resmi oleh para senator (anggota2 DPR) Jepang.
Demikianlah kiranya terjadi dengan kita. Kiranya kita juga
dikaruniai kemampuan untuk bersaing secara sehat dan menjadi
orang yang terdahulu hingga menikmati berkat dariNya. Jangan
mengharapkan jalan pintas utk maju.
KEDUA: HIDUP ADALAH ANUGERAH.
To live is to experience grace.
Bagi kita yang menyadari hal tersebut di atas, bahwa hidup adalah
persaingan, mungkin menjadi bingung dan putus asa. Karena barangkali
kita telah berulangkali mencoba untuk terlibat dengan 'pertarungan'
sengit dalam hidup, namun selalu gagal. Namun Firman Tuhan
mengajarkan kepada kita agar kita tidak perlu putus asa dalam hidup,
sekalipun tidak mampu bersaing.
Melaui bacaan Alkitab di atas kita diingatkan bahwa hidup ini bukan
hanya milik mereka yang sanggup untuk bertarung. Karena
hidup ini juga adalah anugerah. Maka kalau kita bicara mengenai
anugerah, kita memandang kepada Allah, bukan kepada diri sendiri.
Karena anugerah adalah kemurahan Allah semata yang diberikan kepada
mereka yang sesungguhnya tidak layak menerimanya. Yohanes mencatat
bahwa di kolam itu ada orang sudah 38 tahun lamanya sakit. Ketika
Tuhan Yesus datang kepadanya dan bertanya: "Maukah engkau sembuh?"
kita membaca satu pernyataan yang begitu menyedihkan. Dia
berkata: "Tuhan, tidak ada orang yang mau menurunkan aku ke dalam
kolam itu apabila airnya mulai goncang, sementara aku menuju ke
kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." (ayat 7). Jadi
kita lihat di sini bahwa orang ini bukannya tidak mau bertarung. Dia
telah melakukan hal itu, tetapi selalu ketinggalan.
Dengan kondisinya yang lumpuh, tentulah dia tidak sanggup untuk
bersaing dan menjadi terdahulu. Dia tidak mungkin melakukan hal itu.
Seharusnya ada orang lain yang menolongnya. Tapi kenyataannya,
seperti pengakuannya kepada Tuhan Yesus, tidak ada orang yang
menurunkan dia ke kolam apabila airnya mulai goncang. Itulah
kenyataan hidup yang harus dihadapinya; masing-masing sibuk dengan
urusannya sendiri. Namun demikian, sekalipun dia tidak mampu meraih
berkat Tuhan tersebut dgn usahanya sendiri, dan sekalipun tidak ada
orang yang siap menolongnya, tidak perlu putus asa. Itu bukan akhir
dari hidup itu. Karena masih ada seorang Penolong yang setia. Dialah
Tuhan Yesus yang datang menolong tepat pada waktunya. Dia datang
kepada orang yang tidak berdaya tersebut. Selanjutnya, Tuhan Yesus
mengerjakan mujizat dan bersabda: "Bangunlah, angkatlah tilammu,
dan berjalanlah." Dan pada saat itu ia sembuh! Dia pun mengangkat
tilamnya dan berjalan!
Jadi, kesembuhan yang dia alami bukanlah karena dia mampu bertarung
dan menang. Kesembuhan tersebut adalah karena anugerah Tuhan Yesus,
di mana Dia sendiri datang menghampiri dan menyembuhkan.
Hal seperti ini juga banyak kita saksikan di sekitar kita. Sebagai
contoh, kita dapat membaca di koran bahwa sebuah pesawat terbang
jatuh dan semua penumpang dan awak pesawat meninggal dunia, kecuali
seorang bayi! Kita juga membaca bahwa sebuah kapal pengungsi yang
meninggalkan Ambon tenggelam dan hampir semua penumpangnya meninggal
dunia. Tapi diberitakan juga bahwa seorang remaja selamat! Bagaimana
kita menjelaskan hal itu? Apakah itu karena kemampuan mereka untuk
'bertarung' sehingga bisa tetap hidup? Tentu saja tidak. Kalau kita
menerapkan hal ini kepada diri kita, mungkin kita bisa bertanya,
mengapa saya hingga saat ini masih bisa bekerja sementara begitu
banyak orang pengangguran? Mengapa perusahaan saya masih 'tegak
berdiri' padahal, begitu banyak perusahaan yang bangkrut? Ini pun
kita terima sebagai anugerah juga. Bagi kita yang tidak bekerja,
mungkin kita dapat melihat anugerah Tuhan dari sisi lain. Mengapa
kita bisa memiliki ini dan itu, seperti misalnya kesehatan,
sementara banyak orang yang terbaring di rumah sakit? Lebih dari
itu, mengapa saya masih bisa menikmati hidup hingga saat ini,
sementara beberapa rekan kerja dan kenalan sudah "berangkat?". Hal
ini pun tentu harus kita lihat sebagai anugerah Allah juga.
Sesungguhnya banyak sekali anugerah Allah yang telah dan akan kita
miliki dalam hidup ini. Dan kita masih terus membutuhkan anugerah
Tuhan tersebut. Karena itu, seperti orang sakit ini, marilah kita
curahkan seluruh isi hati kita, serta kegagalan-kegagalan kita
kepada Tuhan. Jangan pernah putus asa. Dengan demikian, kiranya
kuasa mujizatNya pun dinyatakan atas kita.
KETIGA, HIDUP ADALAH BERHARAP.
To live is to hope.
Merenungkan bagian ini (Yoh.5 ), sungguh sangat memberi berkat
tersendiri bagi saya, saya harap juga bagi kita semua.
Kalau kita perhatikan dan renungkan kondisi orang sakit ini, Yohanes
menulis bahwa dia sudah 38 tahun sakit! Bukan 3 hari, atau 3 bln
atau 3 tahun, tetapi 38 tahun. Lama sekali, bukan? Kita bisa
membayangkan bagaimana dia menanti goncangan kolam itu sekian tahun
lamanya. Kita bayangkan bagaimana setiap kali malaikat
menggoncangkan kolam itu, maka dia, serta orang-orang sakit lainnya
bergegas-gegas, berlomba untuk masuk ke kolam itu. Tapi sayang,
orang lain sudah mendahuluinya. Maka dia pun kembali lagi ke
ruang "VIP"nya untuk menunggu goncangan selanjutnya. Dan ketika
hal itu tejadi, dia pun berusaha lagi, dan … ah, orang lain sudah
mendahuluinya lagi. Demikian hingga 38 tahun! Maka kita melihat
bagaimana gigihnya dia berjuang untuk sebuah kesembuhan.
Mari kita perhatikan kenyataan ini: sekian lama dia bergumul dengan
penyakit yang sama, berada di tempat yang sama, menghadapi
pertarungan yang sama… dan kegagalan yang sama!
Mungkin kita bertanya: "Apa sih yang membuat dia mampu bertahan
dalam perjuangan yang demikian?". Bagi saya, jawabnya adalah:
pengharapan. Tanpa itu, saya kira dia sudah lama meninggalkan
tempat itu, apa dan bagaimanapun caranya.
Jadi, di sini kita lihat betapa pentingnya sebuah pengharapan untuk
kemudian menikmati anugerah Tuhan. Ada orang yang bertanya: "Apa sih
dasarnya untuk berharap? Kalau segala sesuatu kelihatan begitu
negatif, apakah logis untuk terus berharap? Sampai berapa lama kita
berharap?". Membaca bagian Alkitab ini, maka saya melihat bahwa
tidak ada batas untuk berharap. Selama Roh Tuhan dalam diri bekerja
sedemikian rupa dan mendorong kita untuk berharap, maka kita harus
terus berharap. Sangat menarik bagaimana rasul Paulus menuliskan
tentang pergumulan Abraham. Dia menulis: "Sebab sekalipun tidak ada
dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya,
bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah
difirmankan: 'Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.' Imannya tidak
menjadi lemah, walaupun ia mengetahui bahwa telah menjadi lemah
zakarnya, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa
rahim Sara telah tertutup." (Roma 4: 18-19).
Jadi, kita membaca dengan jelas bahwa sebenarnya tidak ada logikanya
untuk Abraham tetap berharap mendapatkan anak, karena kondisinya
memang tidak lagi memungkinkan secara manusiawi. Lalu logika apa
yang membuat dia tetap bertahan? Jawabnya adalah adanya pengharapan
terhadap janji Allah yang tidak pernah gagal. Karena itulah,
kemudian kita membaca: "Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang
karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia
memuliakan Allah." (ayat 21).
Kiranya kita juga, dalam menjalani hidup yang penuh dengan pergumulan
ini dikaruniakan kemampuan untuk tetap setia karena memiliki
pengharapan yang teguh kepada Allah kita. Dan apakah akhir dari
pengharapan kita? Tentu mengalami kebaikan Allah sebagaimana orang
yang sakit 38 tahun di atas. Rasul Paulus pernah menulis suatu
pernyataan yang sangat indah tentang hal ini: "Dan pengharapan tidak
mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati
kita…" (Roma 5: 5).
Posted by admin on August 25 2005 18:07:34 | 0 Comments · 4783 Reads -  |
|  |